Friday, 14 November 2014

My Wife, My Little Friend (Part 17)

My Wife, My Little Friend (Part 17)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Part 17
Seketika mereka pun langsung tersentak bangkit dari tempat duduknya mendekati sang suster, “iya saya ibunya,,,” suara mama amy bergetar, jantungnya berdetak begitu cepat hingga terasa mau lompat tatkala menunggu apa yang akan di katakan sang suster.
“anak ibu telah mengeluarkan banyak sekali darah, sedangkan stok darah yang sama persis dengan golongan darahnya telah habis beberapa jam yang lalu,,,,,” jelas sang suster. dengan muka sedikit cemas mama amy yang mengetahui apa maksud suster tersebut pun segera menanyakan “apa golongan darah anak saya sus,,,,” suara mama amy sangat jelas menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang
“A,,,,,, A+” ujar sang suster, dengan muka semangat nagita menghampiri sang suster dengan masih ber uraian air mata “saya sus,,, golongan darah saya A+,,,,” sontak mama amy menoleh seketika mendengar perkataan nagita, “apakah kamu yakin nak,,,” dengan saling menatap satu sama lain nagita segera menyambut perkataan mama amy dengan anggukan mantap, “terimakasih nak terimakasih,,,,” tubuh mereka pun segera menyatu sama lain, pelukan dari seorang ibu yang selallu mendoakan anaknya dalam keadaan baik baik saja, air mata keduanya yang jatuh terlihat sangat jelas bagaimana besarnya harapan mereka untuk raffi agar dapat melewati masa tersulit saat ini.
Dengan langkah cepat, nagita mengikuti suster itu berjalan. Lorong demi lorong telah ia lewati hingga sampailah gigi di depan pintu kaca dengan tulisan LABOLATORIUM BANK DARAH.
Ketika pintu itu di buka terpampanglah beberapa ranjang kosong, dan terlihat seorang suster yang siap membantu gigi tuk mengeluarkan beberapa mili darahnya untuk raffi. Saat jarum di tusuk kan tepat di tengannya, gigi hanya bisa berdoa “bissmillahirokhmanirokkhim,,,, semoga dengan setetes darah ku ini, kamu bisa sembuh fi,,,, Amien,,,” bisik raffi dalam hati
Beberapa menit berlalu, dengan sebuah plester putih dilengannya nagita datang menghampiri mereka dengan langkah sedikit gontai. “apakah kamu baik baik saja,,,,” ujar mama amy, takut menambah kecemasan dari mama amy. nagita pun segera menjawabnya dengan senyum manis yang merekah di sudut bibirnya,,,, “ibu tenang saja,,,, saya jauh lebih baik ketika kita sama sama melihat raffi sehat kembali,,,,” air mata mereka pun jatuh lagi dalam pelukannya.
30 menit setelah pelukan itu terjadi, terbukalah pintu ruang oprasi untuk kedua kalinya. muncul lah seorang dengan perawakan tinggi, putih, dengan sedikit lemak di perutnya. Ia datang dengan mengenakan baju yang senada dengan warna maskernya. “gimana dok keadaan raffi anak saya,,,,” suaranya bergetar kembali tatkala menanyakan kondisi sang anak kepada dokter yang berada tepat di depannya.
“ibu tidak usah kuatir, anak ibu baik baik saja,,,,,,, tapi untuk saat ini raffi belum dapat di ajak bicara,,,,,” jelas sang dokter
Setelah sekian lama mama amy menunggu, akhinya ia telah mendapatkan jawaban yang sesuan dengan apa yang telah ia inginkan. Ucapan terimakasih tak henti-hentinya keluar dari mulut mama amy, air mata yang ia kemuarkan saat ini adalah air mata kebahagiaan, kelegaan dan ia berharap apa yang ia dengar bukanlah kata kata sementara. Ia berharap raffi akan baik baik saja untuk sekarang dan selamanya.
Dengan selang oksigen yang masih terlihat menempel di hidungnya, raffi berusaha menggerakkan jari tangannya untuk pertama kali semenjak kejadian itu.
“dok dokter,,,,, tolong dok, anak saya sudah sadar,,,” teriak wanita paruh baya yang senantiasa menemani dan memanjatkan doa doa untuk anaknya.
Dengan raut wajah sedikit cemas mama amy tak sedikitpun memalingkan wajahnya dari raffi yang sedang di tangani oleh dokter,,,, “berkat doa ibu dan semuanya, raffi telah melewati masa masa kritisnya,,,,,,,,” kata kata yang keluar dari mulut dokter tersebut bak air sejuk yang mengalir di tenggorokan yang kering.
“mah,,,,” itulah kata kata yang muncul saat ia membuka matanya
“alkhamdulillah,,,,,, raffi anak mamah,,,, kamu sudah sadar sayang,,,” ujar mama amy seraya tangannya tak henti hentinya membelai lebut kepala anakny, raffi.
“affi kenapa mah, kenapa mama nangis,,,,” ujar raffi lemas
“nggak, mamah nggak kenapa kenapa,,,, affi istirahat aja yah,,,”
Sejenak raffi mengerutkan dahinya dan mengingat apa yang telah terjadi, hingga mengantarkan nya pada tempat keramat ini. “gigi,,,, kia,,, nanas ,,, nisya” ujar raffi tatkala meihat sosok perempuan lain yang berada di sampingnya.
Beberapa menit setelah raffi siuman, datanglah billy dan irwan,,,, tok tok tok
“assalamuallaikum,,,,,”
“waallaikumsallam,,,”
“hah kamu menapa,,,” seru kia
“seeettt diem,,, panjang critanya,,,” ujar billy dengan nada berbisik agar ki mngecilkan volume suaranya.
Takut raffi terbangun dari tidurnya, kia segera menarik irwan untuk keluar di ikuti billy dan gigi. “kamu kenapa sih, kenapa jadi biru biru gini,,” seru kia yang kuatir akan kondisi yang terjadi pada pacar dan sahabatnya.
dengan menahan sakit, billy dan irwan menceritakan dengan deti apa yang sebenaryna terjadi hingga menyebabkan beberapa luka biru di wajah mereka. Selama mendengarkan penjelasan dari mereka, gigi terus menerus mengerutkan dahinya seraya menggigiti ujung kukunya. Ia sangat tidak menyangka bahwa di balik semua kejadian yang menimpa raffi ini atas perbuatan nanda yang tak lain adalah mantan kekasih dari nagita. Seketika nagita di landa rasa marah yang amat sangat pada nanda dan dirinya sendiri karena bukan tidak mungkin nagita menjadi salah satu penyebab dari semua kejadian ini. Dengan ber urai air mata gigi mengutarakan penyesalan yang di alami sahabatnya “,,, kii,,, gue nyesel ki,, kenapa gue nggak nahan raffi pas raffi mau ngebelain gue,,,, gini kan akhirnya dia yang nanggung semua, dia yang herus ngrasain sakit, yang harus ngrasaain itu semua tuh gue ki,,,, gue emang temen yang nggak berguna,,,,”
melihat temannya yang sedikit histeris, kia pun segera memeluk tubuh yang besarnya hampir sama dengan besar tubuhnya sendiri. “nggak gi,,, itu semua bukan kesalahan loe,,,, semua sudah di atur sama allah,,, kita berdoa aja yang terbaik buat kesembuah raffi,,,,,”
Di dalam kamar dimana raffi terbaringg lemas, terlihat seorang gadis yang senantisa menemani hari harinya. Iya, semenjak kejadian di hari itu nagita hampir tak pernah absen menjenguk raffi. Sempat terlihat beberapakali dengan telaten gigi menyuapkan sendok persendok bubur panas yang di sediakan suster dimana raffi di rawat. Ia melakukan ini semua bukan Cuma karena raffi adalah sahabatnya tapi ada suatu perasaan bersalahnya cukup besar ia rasakan terhadap raffi. Gigi merasa tak mungkin mampu tuk membalikan waktu agar semua tak terjadi, gigi hanya bisa membantu merawat kondisi raffi agar dapat kembali sehat seperti dulu.
Di sela sela canda an billy raffi mengucapkan kata kata yang membuat mereka diam seketika. “bill,,,, wan,,,,, makasih yah,,,,” mendengar kata kata itu irwan dan billy melihat satu sama lain
“buat???” ujar billy belaga bego
“gue udah tau semua dari gigi,,,,, dia udah crita semuanya,,,, tentang,,,”
“eh udah udah,,,, luapin kejadian itu, toh udah selsai semua kan,,,??” potong irwan
“eh tapi bentar deh ,,,, ngomong omong kenapa ada polisi sagala yah,,,,” seru bily
“ya elah bil,,,, gue nama berani ngebiarin loe nglakuin itu sendirian, jadi gue telpon dah tu polisi,,,”
“ohh gitu yah,,,” ujar billy yang sembari menggaruk garuk kepalanya
“eh bil, tapi gue hampir nggak percaya loh. sama loe ,,, ko bisa yah orang kya loe bisa mukulin orang sampe kya gitu,,,” tanyya irwan tidak percaya
“hemmm,,,,  jngan salah wan gini gini gue jawara di kampung gw,,,,,”
“di mana mang bill,,,” seru irwan
“jonggolllllllll,,,,”
Serentak mereka pun di buat tertawa oleh billy
“kan gue udah pernah bilang,,,,, kalo ada apa apa sama kalian, gw yang bakal maju duluan,,,,,” ujar billy serius
“hheheeh makasih yah,,, tapi jangn pada bilang mamah yah,,,, guea takut mamah tambah kuatir…”
“siiippp,,,” seru billy
Ke esokan harinya,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
“assalamullaikum,,,,,” seru gigi
“waallaikum salam ,,,, eh gigi masuk nak,,,” dengan mengecup tangan mama amy, nagita memberikan buah tangan nya yang ia dapat dari titipan mama rita untuk raffi
“ini tante, ada titipan dari mamah,,, katanya maaf belum bisa ke sini, salam aja buat tante sama raffi biar cepet sembuh,,,”
“waduh ko repot repot sih gi,,,, makasih yah, doain aja biar affi bisa cepet sebuh terus pulang deh,,,,”
“amien,,, amien,,,,” seru gigi dengan tulus
“oh iya gi kebetulan kamu ada di sini, tante titip affi bentar yah,,,, tante mau ke supermarket bentar,,,,,,,,,,”
“ah mamah emang affi barang apa di titip titip in segala,,,,” celetuk raffi saat mendengarkan ucapan ibunya
“hus kamu tuh,,,” seru gigi, seraya mengangguk sopan kepda mama amy untuk megIYA kan apa yang dikatakan mama amy
Dengan membawa tas rangselny gigi menghampiri raffi yang terlihat lebih baik
“loe ga capek apa gi tiap hari njengukin gue,,,,” ujar raffi pelan saat nagita duduk di kursi tepat disampng ranjang raffi
“kenapa,,, bosen??” ujar gigi
“ya nggak gitu,,, gue mah seneng seneng aja, tapi gue takut loe ke capean,,,, entar loe ikut sakit gimana,,,”
“udah ah loe nggak usah berfikiran macem macem deh,,,, oh iya kan bentar lagi ujian tuh nih gue udah bawain buku pelajaran buat loe, biar loe bisa tetep belajar disini,,,,” dengan semngat gigi mengeluarkan beberapa buku yang ia bawa dari rumah, untuk di letakkan di meja persis di samping raffi
Dengan memegang tangan kiri gigi yang sedang merapihkan buku bukunya, raffi mengagetkan gigi “makasih yah,,,,”, sejenak gigipun menghentikan kegiatannya dan memberi senyum manisnya kepada raffi.
Satu persatu buku dibuka, dengan penuh kesabaran gigi mengajarkan satu persatu soal yang memang raffi kurang menguasainya. Tapi jelas sangat terlihat raffi bukannya memperhatikan apa yang di jelaskan gigi melainkan melihat sosok orang yang memberikan penjelasan. Dengan pandangan yang teramat dalam hingga raffi tak menyadari sapaan dari gigi
“fiii,,, hello,,, paham nggak sih,,,,” ujar gigi yang melambai lambaikan tangannya tepat di depan muk raffi
“eh iya iya,,, mana,,,”
“iiiihhhh nyebelin banget sih,,, “ serutu gigi sebal
“iya princes,,,,, aku dengerin ko,,,,,” ujar raffi yang mengacak ngacak rambut gigi
Tanpa mereka ketahui tingkah lakunya diam diam telah di perhatikan seorang gadis yang sedari tadi berdiri di balik pintu, ia hanya melihat mereka dari sepotong kaca yang menempel pada pintu tersebut.

No comments:

Post a Comment