Monday, 23 March 2015

My Wife, My Little Friend (Part 33)




Hallo saya kembali lagi...
Maaf yah lama, blm ada ide lagi soalnya. Ayok dong yang punya ide bisa langsung inbox or mention gue ke,,,,,,  (jangan lupa follow dulu keles)
FB  : Zulva Nadirotu
TW : @Zulfaupith
#Promo
Maaf yah Semakin kesini semakin gaje nih ceritanya, mungkin karena udah sering liat kehidupan mereka (di depan layar) jadinya binggung mau bikin cerita kaya apa lagi.
Oke deh mari kita liat tulisan ku kali ini, semoga bisa dapet feel nya. masih edisi ”honey moon” awas nanti mupeng, bagi yang belum 18+ resiko di tanggung sendiri yah.
Eitss komen jangan lupa,,, yang panjaaaaang
My Wife, My Little Friend (Part 33)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,
Part 33

*****
Nagita yang terlihat sibuk mamandangi pantulan dirinya di cerimin hingga tak manyadari suaminya kini sudah berdiri di belakang setengah menunduk dan mengecup ujung kepalanya. ”ko udah wangi aja sih” suara raffi terdengar menggema di telinga kiri nagita. Ngita sedikit memekik kan badannya ketika merasakan deru nafas raffi yang menyapu leher jenjang nagita

NAGITA POV
-hhmmmMm ah kenapa sih jantung gue, kan baru di peluk doang ko udah deg deg an gini sih- perlahan aku menggumpulkan kesadaran ku yang entah sejak kapan mulai berkurang, mungkin sejak raffi berdiri di belakangnya. Ah tidak tidak bahkan mungkin sejak aku duduk di sini, atau bahkan sejak aku baru bangun tidur. Arrrgggghhh sial aku bisa gila kalo aku kayak gini terus.
”rafii,,,, geli,,” belum sempat sepenuhnya kesadaran ku kembali kini benda kenyal, basah telah menyapu leherku menglitik telingaku terasa begitu seterusnya. Hingga membuat banyak sekali kupu kupu yang kini mulai berterbangan di perutku membuat gliyer aneh di sana.
”udah nggak usah di gigitin nanti berdarah loh,,,” raffi menghentikan aktifitasnya dan segera menyentuh dagu ku untuk melepaskan bibir bawah yang entah sejak kapan aku menggigitnya. Seketika mukaku berubah semerah tomat, segera aku mengalihkan pandanganku dari manik hitam di mata raffi. -aduh pliss raffi berhenti liatin gue kaya gitu-  ”ee aku ma__ u hmmpppt” usaha ku untuk mengalihkan perhatian suamiku kini sia sia, sekarang raffi melumat bibir ku dengan panasnya. Sekarang aku hanya bisa diam dan memejamkan mata menikmati setiap sapuan yang di berikan raffi pada bibirku. Merlahan lidahnya menyeruak, memaksa membuka katupan bibirku. Membuat semakin banyak kupu kupu yang berterbangan di perutku.

RAFFI POV
-ah sial- perasaan kesal ku saat menerima telephon kini hilang entah kemana setelah dilihatnya pemandangan yang sangat indah dan yang pasti sangat menggoda, memanggilku untuk segera menghampiri dan bermain disana.
”ko udah wangi aja sih” ternyata nagita tak menyadari kedatangan ku, itu semua ku rasakan saat merasakan tibuhnya memekik kaget. Perlahan ku hirup dalam dalam aroma tubuhnya yang kini bercampur dengan aroma wangi sabun. Semakin dalam menghirup aroma tubuhnya hingga kini aku tak bisa menahan untuk tidak melumat leher jenjangnya. Lidahku dapat dengan bebas mengekspor setiap sudut di sana karena memang nagita menaikan rambutnya ke atas hingga sekarang lehernya terlihat tanpa ada penghalang sedikitpun. Rupanya nagita sangat menikmati permainan ku, kini ia semakin memberikan ruang dengan cara menengdahkan kepalanya. Sekuat tenaga aku coba menagan nafsuku, jika tidak semua rencana yang tersusun rapi di kepalaku akan hancur.
”udah nggak usah di gigitin nanti berdarah loh,,,” Dengan nafas yang ter engah engah aku coba memandang wajah istri ku yang kini berubah semerah tomat. –ah cantik sekali, kalo bukan rencana ini mungkin aku bisa menyatukan kita sekarang. Tapi,,, ah sial- tapi rupanya bayangan rencanaku tak dapat lagi menghentikan semua gejolak yang timbul segera aku melumat bibir istriku tanpa menghiraukan apa yang akan ia katakan ”ee aku ma__ u hmmpppt”. Sebegitu besarkah rasa gengsi yang di miliki nagita hingga kini bibirku melumat bibirnya dengan tempo yang lembut dan berubah kasar agar ia membuka sedikit bibirnya. Tapi belum juga berhasil membuat pemiliknya menurunkan rasa gengsi itu. Secepat kilat aku berfikir dan menggerakkan tangan ku yang sedari dadi memegang tengkuknya kini beralih ke kaki nagita yang kebetulan mengganakan hot pand. Terdengar desahan kecil dari mulut nagita, ini tak sedikitpun ku lewatkan. Segera ku masukan lidahku, menyuak dan mengnyusuri semua rongga mulutnya mengglitik lidahnya agar bisa ikut bermain dan membalas ciumannya.tapi jangan panggis aku raffi jika aku tak bisa membuat nagita istriku ikut bermain. Segera ku pindahkan ciuman ku ke leher jenjangnya menggigit halus bagian tersebut, hingga sedikit meninggalkan bekas di sana. Rupanya tindakan ku tepat, kini tangan nagita yang sedari tadi hanya pasif di sebelah tubuhnya, kini beralih sibuk memegang dan membelai rambut ku. Secara bergantian ku lumat bibir dan leher istriku yang kini sudah mendapat respon yang baik darinya, perlahan q coba menyusiri bagian yang dapat ku gapai dengan tangan.
Tok tok tok,,,,
”ra,, ff, hemt,, itu, mmmhhh,, buka dulu,,mmmhh” suara nagita di sela ela ciumn kami tidak sama sekali membuat ku menghentikan ini. Hingga ku berdecak kesal saat nagita dengan cepat menghentikan dan menjauhkan tubuhnya dari ku. ”iya iya bentar,,,” entah harus marah atau bertimakasih karena kalu tidak ada suara ketikan itu mungkin kini aku sudah tidak bisa lagi menghentikan semua ini.
”apa sih putu,,, ganggu aja pagi pagi” gerutu ku saat menemui putu di depan pintu, ”ini mas raffi, tadi ada paket katanya harus lansung dikasih kan ke mas raffi” ujar putu dengan masih menggunakan logat bali.
”dari siapa,,,” putu menunjuk ke arah kertas kecil di atas kotak. ”oh ya udah makasih,,,”

Autor Pov
Setelah raffi menerima kotak tersebut kini ia berjalan mendekati nagita yang terlihat sedang duduk di tepian dipan.
”siapa,,,” ujar nagita
”itu si putu, nganterin ini,,,” raffi memberikan kotak yang baru saja di berikan putu.
”ya udah aku mandi dulu yah, udah gerah nih” ujar raffi sembari melangkah kan kakinya me menuju kamar mandi yang terdapat di dalam kamar tersebut. Alasan gerah yang ia gunakan hanya agar nagita tak mencurigai raffi, tapi mungkin juga benar adanya karena memang raffi merasakan gerah akibat hormonnya yang sudah naik ningga ujung kepala. Tapi mengingat nagita yang baru saja mendingan dan rencana raffi itulah, raffi mencoba meredam gejolaknya tersebut.
Dengan raut penasarannya nagita perlahan membuka apa yang ada di dalam kotak coklat tersebut. Nagita menautkan alisnya saat mendapati secari kertas di dalamnya
Hallo a raffi,,,, hallo mbak gigi,,,,
Pasti seru deh honay moon nya,,, wah jadi pengen nyusulin kalian kesana deh.
Eh tapi nggak mungkin juga kali yah, bisa bisa kita lama deh jadi aunty.
Eh, btw gimana malam pertama kalian,,,,
Sukses kah atau,,,,,,,???
Hehehehehehehehhehe
Kebetulan tadi gue ama si cacha abis jalan jalan ke toko buku, nah kita nemu ini.
Langsung deh kepikiran kalian yang lagi honay moon, semoga bisa bermanfaat yah buat aa ama mbak gigi.
Biar gue sama cacha biasa cepet cepet di panggil aunty, hehehe
Good luck ,,,,!!

Nanas & cacha

Mata nagita semakin terbelalak aat melihat apa isi kotak tersebut.
”yank,,,” ujar raffi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
”hem,,,” balas nagita dengan wajah panik, ”kenapa kamu, ko mukanya gitu,,,” raffi menautkan alisnya.
”nggak,, nggak ada apa apa ko,, hehe”
”itu apa di tangan kamu, sini coba aku liat” raffi mencoba meraih apa yang di sembunyikan gigi di balik punggungnya.
”nggak ko, beneran nggak ada apa apa,,,” ujar nagita sembari berkilah dari tangan raffi
Tiba tiba raffi menghentikan gerakannya, beralih menajamkan penglihatan pada cermin yang terletak di belakang tubuh nagita. ”hehe,,,” raffi tertawa melihat bayangan yang terdapat pada cermin tersebut, tapi ecepat kilat ia menutup mulutnya dan meredakan tawanya sebelum nagita mengganggapnya gila.
Raffi melangkahnan kakiya mendekati nagita, tapi naita berusaha menjauhkan dirinya dari raffi hingga tubuhnya kini membentur meja rias di belakangnya. Raffi menyerinai licik pada nagita, hingga membuat siapapun yang melihat itu pasti akan merinding di buatnya. ”eh eh mau ngapai,,,,” ujar nagita saat raffi memanjukan badannya mendekati nagita
Cup
Raffi mengecup bibir nagita sekilas, hingga membuat sangpemilik hanya bisa memejamkan matanya menunut kelanjutan dari tindakkannya. Tapi tidak bagi raffi, rupannya kelengahan nagita dapat di manfaatkan raffi untuk mengambil benda yang sedai tadi di sembunyikan di balik badannya.
”iiiihhh raffi,,,,” seru nagita saat raffi berhasil merebut benda yang sedari tadi di sembunyikannya.
”KAMASUTRA” raffi membacakan juduk yang tertera pada kover buku tersebut
” ini dari siapa? Kamu beli yah? Ayok ngaku? Hehehhe”
”iiihh buat apa aku beli beli buku nggak penting kaya gitu,,,”
”itu tuh dari si cacha sama nanas, raffi” lanjut nagita
”hah nanas?? Kapan??”
Nagita menunjuk ke sebuah kotak yang sebelumnya raffi terima dari putu. Lalu raffi memandang kembali buku tersebut lalu menyeringai lagi sembari memandang buku dan wanita di depannya kini secara bergantian.
”apa liat liat” seru gigi ngeri
”bener buku ini nggak penting?”
”iya lah buat apa buku kaya gitu,,,”
”ini bagus tau yang, coba deh liat, gambarnya bagus bagus tuh tuh tuh,,” ujar raffi sembari memperlihatkan beberapa gambar yang terdapa pada buku tersebut.
”aaaarrrrggg nggak mau nggak mau,,,” seru nagita sembari melangkah kan kakinya terbirit birit keluar kamar.
Raffi yang memeperhatikan kelakuan istrinya dari lam kamar hanya bisa tertawa terbahak bahak hingga membuat perutnya sakit. ”haduh gimana mau jebol kalo baru liat gambar aja udah takut gitu,,,,” ujar raffi sembari menyeka ujung matanya yang menggenang air akibat ketawanya yang sangat berlebihan.

*********
”yank,,, spa enak kali yah yank, udah pada pegel nih badan,,,” ujar raffi saat berada di depan meja makan menunggu nagita mengoleskan selai coklat di atas roti tawar.
”kamu mau spa?”
Raffi menganggukan kepalanya ”ya udah kita sarapan dulu nanti baru pergi spa”
”yes asiiiikkk,,,” seru raffi dengan mulut yang penuh dengan roti.
Mengingat kemarin mereka sudah sangat lelah menghabiskan waktu Seharian untuk menjajal adrenalin, kini raffi dan gigi memutuskan untuk memanjakan tubuh mereka dengan spa tradisional bali yang dapat merileks kan otot otot yang kaku.
Hingga malam hari raffi mengajak untuk makan malam di sebuah restoran bintang lima yang bisa dikatakan paling mewah dan romantis di bali. Raffi sudah memesan meja yang dapat melihat dengan jelas pemandangan laut, sembari menunggu pesanan nya datang raffi mencoba membicarakan hal kecil dengan nagita tanpa menyinggung buku yang baru saja ia dapatkan. Jika ia sampai menyinggungnya mungkin saja seketika dapat membuat nagita malu dan merusak mood untuk makan malamnya kini yang sudah di siapkan dan di rencanaannya satu hari yang lalu.
Terliht nagita sangat nyaman dan senang diperlakukan seperti itu oleh suaminya, itu terlihat saat nagita terus saja tersenyum senang pada raffi.

*******
”sudah sampai tuan putri,,,” ujar raffi saat memukakna pintu mobil untuk nagita
”terimakasih suamiku,,” balas nagita yang di sambut rangkuan di tangan kiri raffi. Raffi hanya tersenyum hingga matanya terihat semakin sipit, bahkan hampir menghilang (ini lebay).
Sesampainya didepan pintu kamar raffi melemaskan glayutan tangan nagita, membiarkan istrinya memutar knop pintu kamarnya. Terlihat tidak ada yang aneh memang, sebelum akhirnya nagita meraba dinding yang menekan saklar on untuk menyalakan lampu kamarnya.
Dengan mata berbinar binar nagita membalikan tubuhnya melihat raffi, ”suka?” ujar raffi (jangan baca cem LNS yah) . Nagita hanya bisa menganggukan kepalanya sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan tak percaya. Kamarnya kini berubah, lampu yang remang, bed cover merah, kelopak bunga mawar merh yang bertaburan dimana mana. -Ah raffi pintar sekali kamu mengambil hatiku- nagita segera berhamburan memeluk raffi sebentar, lalu beralih masuk dan menyusuri sudut demi sudut yang kini penuh dengan mawa merah.
Perlahan raffi merangkul perut nagita dari belakang, memeluk nagita posesif
”malam ini milik kita sayang, kamu milik ku” bisik raffi tepat di telinga nagita.
Perlahan raffi membalikkan tubuh nagita tanpa melepas pelukannya, dan memanang manik hitam di matanya. Tangannya kini sudah merangkul luher raffi. Bergerak perlahan bak gerakan dansa, berlahan nagita membenamkan kepalanya pada dada bidang raffi. Menghirup aroma tubuh yang bercampur parfum musk suaminya. Lama mereka dalam posisi seperti itu, merasakan detak jantung mereka satu sama lain. Hingga tangan raffi memegang dagu istrinya dan mengecup lembut bibirnya.
Kali ini raffi mendapat sambutan baik dari gigi, mereka berciuman panas. Saling melumat dan bertuka saliva, saling membelit satu sama lain. Hingga tak terasa kini posisi nagita sudah berbaring berada di bahawdekapan raffi. Ciumannya kini menjalar ke leher, tangan raffi berusaha membuka pengait baju yang di gunakan nagita. Rupanya raffi tak mengalami kesulitan yang berarti, gliatan tubuh nagita bahkan membatu membermudah kerja tangan raffi.
”raff,, ben, taarr,,” ujar nagita dengan suara bergetar
Raffi mengertukan dahinya saat nagita mendorong tubuh raffi lalu berjalan ke arah kamar mandi dengan baju yang hampir tandas.
Dengan hati yang berdebar debar raffi menunggu nagita kembali di atas ranjang. ”sayaaannggg,,,,,” ujar raffi sembari merentangkan tangannya lebar lebar menyambut nagita. Begitupula nagita ia menghampiri raffi dan segera memeluk tubuh suaminya. Mengelus rambut raffi serta mencium bibir raffi tanpa ada lagi rasa canggung. Lagi lagi raffi mengerutkan dahinya saat nagita tiba tiba melepaskan ciumannya ”maaf yah,,,” ujar nagita. Raffi semakin binggung dengan apa yang di katakan istrinya, ”aku dateng bulan,,,” ujar nagita dengan volume yang kecil tapi masih dapat di dengar jelas oleh raffi.
Mendengar perkataan nagita, raffi hanta dapat memejamkan mtanya dan menengadahkan kepalanya. Mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menggumbukna nafasnya dengan keras.
”maaf,,,” ujar nagita menyesal. raffi menatap wajah nagita, lalu tersenyum kembali. ”nggak papa sayang,, kan yang berdarah di bawah, yang atas kan nggak,,, hehe” raffi tersenyum lalu memeluk tubuh nagita kembali dan menggulingkannya kesamping,,,,,

********

Part 33 nya sampe sini aja yah,,,,,
Gimana menurut kalian,,, terlalu vulgarkah?? Atau malah kurang??
Atau bahkan kalian nggak dapet feel sama sekalipas baca crita ini??
Oh may god, sepertinya gue harus lebih banyak semedi deh biar bisa nulis lebih bagus lagi, huft,,,,
Banyak typo yah??
Sory sory,,, belum sempet aku edit, nulis pagi, post siang,, kilat kan,,??
 jadi mohon ampun,,,,,
seperti biasa guys, gue minta like dan comentnya di,,,, (jangan lupa follow dulu keles)
FB  : Zulva Nadirotu
TW : @Zulfaupith
#tetep #usaha #Promo J J J
See you next partt,,,, bye bye,,,



Sunday, 15 March 2015

My Wife, My Little Friend (Part 32)



My Wife, My Little Friend (Part 32)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,
Part 32
Sesampainya di tanjung benoa raffi yang baru mau turun dari mobilnya tiba tiba nagita memegang lengan raffi, raffi berbalik sembari mengerutkan dahinya "pake sunblock dulu..."
Raffi diam ternganga mendengar ucapan istrinya "iya nanti kulit kita gosong gimana, nanti item, dekil, kucel.... nanti kamu nggak __"
Raffi menambil sunblock dari tangan gigi dengan lembut, nagita yang kaget cuma bisa diam memandangi sikap raffi. lalu menarik kepalanya agar mendekat dan CUP. Raffi mencium pelipis nagita. "Sayang.... mau kamu item, dekik kucel,  aku masih tetap cinta ko sama kamu..." raffi menghentikan ucapannya untuk menarik nafas sebentar, srkedar menenang kan  jantungnya yang tiba tiba meronta ronta d dalam sana. "Aku, sayang kamu, cinta kamu... itu nggak liat fisik kamu sayang, semua rasa ini di ciptakan dari ini" raffi menunjuk dadanya "dan semua rasa itu .... sepenuhnya milik kamu" kemudian raffi mencium pelipis nagita lagi, lebih dalam dari sebelumnya. Mendapat perlakuan seperti itu nagita hanya bisa menatap mata raffi, mencari keseriusan di sana. Dan memang raffi mengucapkan itu semua dari hati. "Thks..." ujar nagita saat raffi menciumnya.
#
"Aku nonton aja yah" ujar gigi menarik penganan tangan raffi setelah mengetahui apa yang akan mereka lakukan
"Ih kenapa,,?"
"Aku takut"
"Iihh kamu mah, an udah jauh jauh kesini.... ko malah kamu nggak mau sih"
Nagita masih mengerutkan dahinya saat mengamati sekitar. "Pokoknya aku nggak mau tau, kamu harus temenin aku" ujar raffi sembari menggenggam tangan nagita untuk menyambangi sebuah outlet. "Nggak mau..." gigi melempar tangan raffi. Raffi segera membalik kan badannya  "aku takut raffi" suara nagita melemah dengan masih mengerutkan dahi sembari memainkan ujung kuku tangannya. Perlahan raffi melangkah mendekat pada nagita mencoba mencari penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. "Kenapa" ujar raffi yang sedang mengusap punggung tangan istrinya. "Aku takut raffi.." raut ketautan terlihat begitu jelas saat nagita perlahan meneteskan air matanya. Raffi yang tak kuasa melihat kesedihan di mata nagita, akhirnya menarik nagita ke dekapannya sambil terus mengusap lembut rambut dan punggung nagita untuk sekedar menenangkan. Seklebat bayangan di masa lalu saat nagita hampir saja tenggelam di sungai, muncul diba tiba. Tapi di sisi lain raffi ingin sekali menghilangkan ketakutan itu pada diri nagita. "Kamu nggak usah takut." Menarik tubuh nagita ke dadanya yang bidang
"Kan ada aku" kembali raffi mencium ujung kepala istrinya.
"Udah, sekarang.... kamu nggak usah takut. Liat aku" raffi menguraikan pelukannya sembari memegang bahu dan menatap mata nagita lekat lekat. "Ada aku disini.... aku janji nggak akan pernah biarin kamu kenapa kenapa. Percara sama aku gi..".
Tak lama keudian nagita mengangguk kan kepalanya.
Setelah membeli vocer, mereka langsung pergi ke tempat yang sudah di tentukan.
"Siaaappp....???" Ujar raffi, nagita hanya mengangguk pelan
"Yang semangat dong sayang..."
"SIAP Honey...!!" Seru raffi semakin keras. "Siaaaappp...." rupanya pancingan raffi tak sia sia, seketika nagita terlihat lebih tenang saat menglihat list wathersport  yang akan mereka mainkan.
#
Terlihat mereka sedang sibuk memakai perengkapan Sefty di tubuhnya sebelum menjajal wahana yang tersedia di sana. D mulai dari paraseiling dan flaying fish. Ternyata raffi tak se berani yang di kira. Saat flaying fish coba di terbangkan mengikuti arah angin dengan bantuah boat. Nagita yang mulanya takut tapi seiring jalannya waktu ia terlihat begitu menikmati pemandangan dengan teriakan husteris di iringi senyuman manis di bibirnya. Sedangan raffi hanya bisa memejamkan mata serta merancu histeris layaknya orang ketakutan. Hingga membuat nagita tertawa terbahak bahak tatkala mereka menginjakan kaki lagi dipasir putih "katanya berani.." ledek nagita di sela sela ketawanya. "Berani ko..." raffi bertolak pinggang, "masa" ledek nagita lagi. "Iiiihhh kamu mah..." raffi berlari untuk mengejar nagita yang sedang menghindar dari dekapan raffi.
Satu perasatu permainan tersebut sudah hampir rampung. dari paraseling, playing fish, jetski, banana boat, rolling donut, hingga Seawalker yang membuat raffi harus menggenggam tangan nagita erat erat di dalam sana untuk menenangkan perasaan nagita yang masih takut.
Petualangan Hari ini mereka tutup dengan glass bottom boat & turtle island dengan melepaskan anakan penyu kelaut kembali ke habitatnya.
Semua mereka lakukan dengan senyuman yang selallu menghias di wajah masing masing.
#
Sesampainya di villa, terdengar suara pintu kamar mandi dibuka
"Yank kamu liat jam tangan aku nggak.." ujar raffi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk."yang mana"
"Yang di beliin kamu" raffi masih sibuk mengeringkan rambutnya tanpa melihat nagita
"Yang kemaren aku pake loh"
"Di sana" ujar nagita sembari menunjuk laci meja rias.
"Yank, kamu kenapa??" Perlahan raffi melangkah kan kakinya mendekat, setelah melihat nagita tertidur dengan slimut yang melekat hingga lehernya.
"Nggak papa" ujar nagita dengan mata terpejam
"Iiiihh kamu tuh kalo ada apa apa ngomong, jangan kaya gini. Sini coba" perlahan raffi menempelkan punggung tangannya ke dahi nagita.
"ih panas, kamu sakit yank"
"Nggak papa raffi, aku cuma kecapean aja. Ini istirahat sebentar juga udah sembuh ko"
"Kamu tuh nggak boleh gitu yank..." raffi mendekatkan pipinya ke pipi nagita untuk merasakan suhu tubuh istrinya.
"Mau kemana" ujar nagita saat merasakan raffi mergerak menjauh.
"Bentar, mau ambil obat dulu"
"Nggak usah fi. Kamu di sini aja" ujar nagita pelan. Raffi kembali mendekat dan memeluk serta mencium ujung kepala nagita."kamu harus minum obat sayang. Aku nggak mau liat kamu sakit" ujar raffi sembari membenarkan anak rambut nagita yang menutupi wajah nagita. "Kamu disni aja temenin aku, nanti juga sembuh sendiri"
"Sayang" raffi mencoba merayu nagita agar melepaskan genggaman tangannya
"Aku pengennya kamu disini aja temenin aku" nagita rupanya tak ingin raffi pergi beranjak dari sampingnya walaupun untuk sekedar mengambil obat untuk nya. Akhirnya raffi mencoba telfon putu yang menjaga villa ini untuk membawakan obat obat yang diperlukan nya ke kamar.
"Sayang.... ini obatnya di minum dulu yuk. Biar panas nya cepet turun" rayu raffi sembari menempatkan pipinya lagi ke pipi nagita.
Mendengar itu nagita bangun dari tidur ayamnya dan segera meminum obat dengan bantuan raffi.
Lalu mereka tertidur, tanpa sekalipun raffi memindahkan tangannya dari pinggang nagita. hingga esok hari nagita terbangun dari tidurnya berniat untuk merenggangkan otot otot yang kaku tapi ia mengurungkan niatnya saat merasakan beban berat pada perutnya. Sesaat nagita tersenyum menyadari siapa pemilik lengan tersebut. Perlahan nagita berusaha memidahkan lengan raffi, awalnya berniat agar tidak membangunkan pemiliknya. tapi ternyata usaha nagita sia sia karena sekarang nagita bukannya terbebas dari dekapan raffi bahkan sekarang raffi lebih meng eratkan peluknnya dan menariknya mendekat. Tiba tiba nagita terpekik mendapat hembusan udara hangat mendekati tengkuknya "Morning mems" ujar raffi pelan di akhiri kecupan lembut di pipi nagita. Terlihat semurat merah merona di pipi nagita, akibat perlakuan suaminya. -ada yang nggak beres deh sama gue, bisa bisa harus cekup ke dokter jantung kalo kaya gini terus- bisik nagita dalam hati saat merasakan jantungnya berpacu lebih kencang dari pada sebelumnya.
Yah begitulah nagita, selalu merasakan jantungnya berdetak lebih kencang saat berada di posisi seperti sekarang.
"Mems?" Nagita mengerutkan dahinya.
"Emang nggak boleh apa yah aku panggil kamu mems" raffi menguraikan pelukannya memandang wajah nagita dengan masih tiduran. Raffi bangkit setengah duduk dengan bertumpuan pada siku kanannya untuk menghadap nagita,
Nagita hanya tersenyum manis, lidahnya kelu saat melihat wajah suaminya yang begitu berkarisma.  lalu raffi menepuk nepukkan ujung jarinya di depan bibir. "Apah??" Nagita pura pura tidak mengerti "morning kiss" ujar raffi manja "ih bau, belum mandi juga" ledek nagita sembari menutup hidungnya. "iiihh kamu mah suka banget sih ngrusak moment " rajuk raffi sembari menggesek gesekan hidung mancungnya ke pipi hingga tengkuk nagita. "Ih geli geli" nagita menggerak kan tubuhnya menjauhi raffi. "Nih geli nih geli... hahahahah" raffi semakin menglitik glitik perut nagita hingga nagita tak kuasa menahan tawanya
DUK..!!
Terdengar suara nagita yang meng aduh akibat kepalanya membentur kepala ranjang
"Tuh kan, makanya sini deket deket aku aja" ujar raffi sembari menarik tubuh nagita agar mendekat.
Nagita yang merasakan badannya kini bergeser mendekati raffi, hanya bisa diam dengan salah satu tanan yang masih memegangi ujung kepalanya.
"Gimana, udah enakan??" Raffi menanyakan kondisi nagita yang semalam sempat demam. Nagita hanya mengangguk manja, "lain kali.... kalo ada apa apa tuh ngomong, aku nggak mau liat kamu sakit lagi" nagita hanya bisa memandangi wajah raffi yang tengah membenarkan anak rambut nagita yang menutupi wajah. "Thanks paps" raffi mendengar sapaan sang istri hanya bisa tersenyum "cium.." ujar raffi manja sembari memajukan bibirnya. "Ya udah merem coba" raffi memejam kan mataya, terasa degub jantungnya begitu cepat saat menunggu sentuhan hangat di bibirnya. Perahan nagita mnggerakkan  bibirnya mendekati bibir raffi dengan nafas yang memburu akibat dari  detak jantung yang semakin cepat.
"Muach" suara bibir nagita saat menempel di bibir raffi.
Sesudah mencium suaminya, nagita menjauhkan wajahnya memberi jarak beberapa centi. Tapo Tak perlu waktu lama tiba tiba raffi mendekat dan langsung melumat bibir nagita dengan naffas yang memburu. Nagita yang kini berada di bawah raffi hanya bisa membulatkan matanya karena kaget dengan apa yang di lakukan suaminya. Perlahan raffi menggigit bibir bawah nagita, menyapukan lidahnya ke semua sudut bibir nagita, memaksa untuk masuk dan menglitik setiap inci bagian di dalamnya.
karena permainan raffi, secara perlahan nagita akhirnya dapat terbawa permainan yang dibuat suaminya. Perlahan nagita membuka bibirnya menyambut kehangatan yang diciptakan raffi. Nagita membiarkan lidah suaminya bermain main di langit langit mulutnya, mencoba menglitik dan menggoda lidah nagita agar dapat ikut bermain di dalamnya untuk bertukar saliva.
"Ga... Bis.... a... na...f...aa..sss" ujar nagita terpotong disela-sela kegiatannya, akibat permainan panas raffi.
Segera raffi melepaskan ciumannya saat sadar akan ucapan nagita, dengan nafas yang masih memburu. Raffi menempelkan jidatnya ke jidat nagita saling menandang satu sama lain, dan beberapa detik kemudian raffi kembali melumat bibir nagita lebih panas dari sebelumnya. Perlahan tangan kiri raffi berjalan menyusuri kaki mulus nagita yang menekuk ke atas. mebelai mesra dari tumit, betis, paha hingga sampai ke sampai ke perut ___
Kriing kriing
Suara Handphope raffi di nakas. Tangan nagita yang sedari tadi memegang rahang kokoh raffi kini berpindah menahan tangan raffi yang semakin menyusuri bagian atas tubuhnya. Raut kekecewaan terlihat sekilas di wajah nagita saat raffi melepaskan ciumannya setelah mendengar teriakan handpone di nakas.
Tak lama kemudian raffi terihat tengah serius berbicara dengan seseorang di telfon tersebut.
Sedangkan nagita segera bangun dan mandi, tak lupa pula nagita bercermin sembari tersenyum saat memandang dan memegang garis bibirnya yang terlihat sedikit bengkak dan memerah  walau tanpa poles an lipstic. Begitulah nagita, walaupun ia sudah beberapa kali berciuman dengan raffi. Tapi ia selalu merasakan perasaan yang hangat di dirinya, mungkin karena baru hari ini mereka melakukannya dengan penuh gairah hingga tak terasa mereka hampir kehilangan nafasnya satu

Sunday, 8 March 2015

My Wife, My Little Friend (Part 31)



My Wife, My Little Friend (Part 31)

Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,

Part 31

Saking dalam nya raffi memandangi wajah nagita, hingga ia tak menyadari keberadaan karpet di bawahnya yang tersingkap. Dan
Swiiingggg ...... Plaaakk....
"Akh .... Aduh....!!" seru gigi
"Ih kamu mah, ati ati dong untung aku jatohnya di kasur. Coba kalo pas d lantai?? Bisa remek ni badan" ujar nagita membenarkan posisinya untuk duduk tanpa melihat raffi
"Aduh..." raffi mengelus elus dahinya
"Iya maaf maaf aku nggak liat tadi..."
"Oh may god raffi... itu jidat kamu.."
"Hah?? Kenapa??"
"Benjooolll... " gigi masih memandangi wajah suaminya dengan mulut membulat
"Hah benjol...??!!"
"Aduh gimana dong yank masa benjol sih...aarrrgghhhh..." ujar raffi merajuk sembari memastikan benjolan jidatnya di hadepan cermin.
"Sini coba aku liat..."
"Makanya kalo jalan tuh liat liat..."gigi melihat lebih dekat benjolan di jidat raffi
"Adoww.......   Tuh kan kamu mah bukannya di sayang akunya. Malah di gituin.." raffi semakin memajukan bibirnya saat nagita tak sengaja memegang jidat raffi dengan sedikit tekanan.
"iya maaf maaf... sini aku liat dulu.."
"Orang cuma dikit doang ko...." lanjut gigi
"Tapi sakit yank..."
"Udah nggak papa.."
"Iiihh kamu mah nggak ngrasain sih..." rajuk raffi
"Ya udah ya udah aku ambilin kompres dulu di bawah"
Tak lama kemudian nagita datang dengan membawa alat kompres di tangannya lalu segera mengompres benjolan di jidat raffi dengan sangat telaten. Hingga tak terasa raffi tertidur dengan alat kompres yang masih menempel di jidatnya.
#
Ke esokan harinya....
Mereka berdua keluar dari kamarnya dengan menteng satu koper. Karena menginat liburan kali ini mereka hanya mempunyai waktu 1 minggu jadi raffi dan gigi memutuskan untuk tidak membawa baju terlalu banyak.
"Sudah siap??" Suara lembut mama rieta menyapa keduanya saat berada di depan meja makan.
"Iya mah, doain yah biar semuanya lancar" ujar nagita dengan tangannya yang sibuk mengoleskan selai coklat di atas roti tawar untuk suaminya.
"Ya iya dong mamah pasti doain biar semuanya lancar. Biar nanti kalian pulangnya ber 3.. hehehe" raffi melirik nagita dengan mengankat alisnya berirama untuk menggoda nagita
"Landing jam berapa mbak.."
Nagita bergumam mendengar pertanyaan dari caca adiknya. "Jaam... 10 ca" setelah mereka selesai sarapan dan berpamitan dengan orang rumah. Raffi dan nagita langsung pergi ke bandara dengan di antar pak
Salim supirnya.
Di dalam pesawat nagita yang sedang memandangi awan awan lewat jendela pesawat  "hei... kamu mikirin apa.." ujar raffi dengan suara berbisik.
Nagita yang tersentak dari lamunannya segera mengarahkan pandangannya ke wajah raffi yang tengah menatapnya.
"Enggak... aku nggak mikirin apa apa sayang"
Raffi kembali menatap tajam nagita, memegang salah satu tangan nagita yang berada d sampingnya "aku sayang banget sama kamu" raffi membiarkan beberapa detik untuk menarik nafas panjang "jangan pernah tinggalin aku yah..." terlihat mata raffi berbinar binar saat melanjutkan kata katanya "I love you.." lanjut raffi dan sehera menciun tangan nagita dalam dalam "I Love you more raffi..." lalu nagita menempatkan bibirnya di kepala raffi yang sedang menunduk mencium tangannya.
#
Se sampainya di bandara mereka segera di jemput oleh sebuah mobil mewah.
"Kita mau kemana.."
"Udah... nurut aja.."
Nagita bersedekap dan menghela nafas saat mendengarkan jawaban raffi.
1 jam perjalanan sudah mereka tempuh, dan akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti pada sebuah halaman villa yang cukup luas.
"Villa siapa.." tanya nagita. Nagita berdecak kesal karena raffi memilih untuk turun dari mobil dan membukakan pintu untuk nagita dari pada menjawab pertanyaannya.
Sampai di depan villa mereka segera di sambut oleh 2 orang penjaga "eh pak raffi sudah sampai..." sapa salah satu penjaga dengan logat bali yang kental
"Gimana sudah beres semua..?"
"Sudah pak, mari saya antaran ke kamar utama"
Sementara raffi sedang sedikit berbincang bincang, nagita sendiri sibuk memprhatikan interior di dalam villa yang terlihat mewah tapi tidak meninggalkan nuansa tradisional bali yang kental, terlihat ada private pool dan taman kecil di bagian belakang villa "bagus banget.." gumam nagita dengan suara lirih
"Ayok yank" suara raffi menghentikan rasa kagum ku pada villa tersebut.
Se sampainya di kamar yang paling besar di villa, nagita segera membereskan barang bawaan dia dan raffi.
Nagita tersentak saat menyadari ada tangan yang perlahan memeluk pinggangnya dari belakang. "Kamu suka nggak" raffi berbisik pelan di telinga nagita. Tapi Nagita hanya bergumam tak mengerti "kamu suka apa nggak villa ini"
Lalu tangan nagita ikut memegang lengan raffi yang mendekap perutnya
"Suka.. " ujar nagita singkat
Lalu menyandarkan kepalanya di dada raffi yang bidang.
"Tapi..." raffi bergumam mendengar perkataan nagita lalu ia merenggangkan pelukannya, nagita membalikan badanya menghadap raffi.
"Sayang... villa ini punya kita" ujar raffi. Nagita memandang dalam dalam mata raffi berusaha mencari kebohongan di sana, tapi NIHIL.
Nagita mengertutkan dahinya
"Iya, villa ini aku beli pas kita prewed" nagita menepis tangan raffi yang menelangkup di pipinya
"Iihhh... Ko kamu nggak cerita sih" ujar nagita dengan wajah sebal
"Bukan suprise namanya kalo cerita.." raffi mencubit hidung nagita.
Beberapa saat kemudian senyum manis nagita mengembang di bibirnya
"Makasih yah" ujar nagita sembari merangkul leher raffi. Tak ada yang aneh memang jika seorang pengusaha seperti raffi dapat dengan mudah membeli villa yang cukup mewah seperti ini. Raffi hanya bisa tersenyum dengan memegang erat pinggang nagita untuk mendekat.
"Suka nggak" raffi menanyakan ulang, nagita kembali tersenyum.
Tanpa menunggu persetujuan nagita, raffi langsung menggerakkan wajahnya mendekati wajah nagita. Mengetahui apa yang akan di lakukan raffi, nagita perlahan memejamkan matanya. Jantung nagita berdegub begitu kencangnya saat merasakan deru nafas raffi menyapu wajahnya.
Tok tok tok
"Pak raffi makanannya sudah siap.."
Suara seorang di balik pintu yang membuat mereka berhenti lalu menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
Raffi menghela nafas seraya melepaskan dekapannya di tubuh nagita "iya mbak, bentar lagi kita turun" seru raffi dengan muka sebal. "Huh ganggu aja" tangannya langsung meraih tubuh nagita lagi untuk mendekat. Tapi nagita malah menjauhkan tubuhnya dari raffi "iiihh.." grutu raffi memanyunkan bibirnya saat mendapati perlakuan tersebut "ayo kita turun aja, aku udah laper banget ni..." ujar nagita dengan ekspresi sedikit di lebih lebihkan.
Tak berapa lama mereka terlihat sudah asyik menyantap makanan yang sudah tersedia.
"Yank..."
"Rencananya kita mau kemana nanti sore" lanjut raffi sembari menyuapkan makanan ke mulutnya dengan sendok.
"Terserah.."
"Ke pantai mau?"
Nagita hanya menganguk kan kepalanya.
#
Sore harinya mereka sampai di pantai tabanan bali, mereka memilih tempat itu karena memang di sana mempunyai pemandangan sore hari yang indah dan juga tempat yang tidak begitu ramai.
Di sana mereka berdua menghabiskan waktu sore hari dengan berlarian kecil, bermain pasir, ombak, serta hewan hewan kecil yang kebetulan muncul seiring dengan hilangnya ombak.
Mereka terlihat sangat senang melakukan itu semua bersama sama, walaupun terlihat seperti anak anak tapi itulah salah satu cara mereka lebih mengenal satu sama lain.
Malam harinya, di resto pinggir pantai yang sama
"Kamu seneng nggak" suara serak raffi memecah kesunyian keduanya.
Nagita menganguk dengan senyum manis d bibirnya "kapan kapan kita kesini lagi yah"
Raffi berhenti sejenak untuk memegang kedua tangan gigi "nanti kesini lagi sama anak anak kita __" lanju raffi
"Eh nanti kalo kita punya anak, pasti mereka lucu lucu yah" potong nagita
"Iya dong pasti lucu, kamu nggak liat apa ayahnya lucu banget kaya gini" ujar raffi sembari menyilangkan kedua telunjuk ke pipinya
"iihh sini tangannya" raffi merajuk karena gigi menjauhkan tangannya untuk menahan suara tawa yang keluar saat mendengar celotehan raffi.
Suasana hening tercipta lagi, raffi hanya diam memandang dan memainkan jemari tangan nagita sedangkan orangnya sendiri tengah sibuk meyruput minuman di depannya.
"Kamu sayang nggak sama aku?"
Nagita mengerutkan dahinya "menurut kamu?" Ledek nagita
"Ih.. kamu mah gitu..." raffi merajuk
"Lagian kamu tanyanya aneh sih"
"Ya kan tinggal di jawab aja, kenapa"
Nagita hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang terlihat seperti anak balita.
"Ya kalo nggak sayang, ngapain coba aku mau dinikahin kamu" seketika raffi melihatkan senyum andalannya kembali.
"Tinggal Bilang 'iya raffi suamiku aku sayang banget sama kamu' gitu aja susah banget" Ujar raffi
"Lagian kalo kamu udah tau jawabannya ya udah nggak usah di tanyain lagi" ujar nagita cuek
"Tuh kan, kamu mah masih gengsi aja sih sama aku"
"Aku tuh pengen kita selalu membiasakan melakukan hal sekecil apapun setiap hari, entah itu cuma bilang sayang, cinta, pegangan tangan, pelukan, ciuman. Biar kita tuh nantinya dari hal hal kecil itu bisa jadi bumbu percitaan kita" jelas raffi yang di sambut anggukan kecil serta bibir yang mengikuti apa yang di katakan raffi
"iiihhh kamu mah merusak suasana..." raffi mengacak acak rambut gigi sebal
#
ke esokn harinya raffi berniat mengajak nagita untuk menjajal wahana di tanjung benoa nagita yang penasaran  pun langsung meng-iya kan ajakan sang suami.
Terlihat pemandangan yang begitu semrawut d kamar mereka...
"Yank..."
Nagita langsung menoleh
"Kamu bawa apa...."
"Ko banyak banget..." raffi masih heran dengan tas punggung penuh di samping ranjang..
"Ini buat jaga jaga sayang.... nanti kalo kita kenapa kenapa gimana..." nagita masih sibuk menguncung kuda rambutnya
"Bawa baju gantinya satu aja dong yank, ko ini ada banyak banget..." raffi sibuk menelitih apa saja yang berada di dalam ransel di depannya
"Stop...!!! Jangan deket deket tas aku" nagita membalikan badannya menghadap raffi dengan bertolak pinggang.
Sedangkan Raffi melotot kaget mendengar teriakan gigi..
"Ya udah kalo kamu nggak mau bawain tas aku, aku bisa ko bawa sendiri" ujar nagita sok, kemudian nagita melirik ke keadaan rangsel yang terlihat berat.. -waduh bisa patah punggung gue kalo bawa tu rangsel- ujar gigi dalam hati.
"Tapi kleuarin semua barang barang loe" lanjut nagita bersedekap
Melihat itu raffi hanya menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.
"Iya deh iya... aku bawain" raffi akhirnya mengalah dengan kemauan gigi.
"Ini beneran cuma segini?"
Nagita mengerutkan dahinya "nggak mau bawa lemari sekalian, apa bawa kasur gitu..." ledek raffi."hehe becanda yang.. hehe" raffi langsung mencabut omongannya saat melihat mata istrinya yang bulat melirik tajam padanya. Mungkin anak panah arjuna kalah tajam dengan lirikan nagita saat ini.
CUP
tiba tiba raffi memberikan kecupan singkat di bibir nagita saat ia hendak melangah kan kaki keluar kamar. Seketika terlihat pipi nagita merona saat mendapati perlakan suaminya "jangan marah lagi yah..." raffi tersenyum manis berharap gigi akan menyudahi acara ngambek ngambekannya saat ini.
Setelah gigi melangkah keluar  meningalka raffi dengan senyum senyum malu menghiasi bibirnya. Sedangkan Raffi malah mempraktek kan bagai mana rempongnya sang istri beberapa menit yang lalu. "Ayoo... mau berangkat nggak...." seketika raffi diam dan memberikan senyuman andalan yang membuat matanya hilang. -_-