Friday, 1 May 2015

My Wife, My Little Friend (Part 37-End)



 My Wife, My Little Friend (Part 37-End)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,
Sekali lagi ini hanya khayalan semata jadi jangan mengait-kaitkan dengan kehidupan real mereka.

Part 37
Pov Nagita
Sebenarnya bukan itu maksudku menangis saat ini. Aku menangis bukan karena belum hadirnya momongan di antara kita. Hanya saja aku menangisi diriku sendiri yang mungkin sudah menghianati suamiku.
 entah mengapa beberapa hari ini aku semakin dekat dengannya (ijal) , tanpa berusaha untuk menjauh sedikitpun. Nyaman? Apa rasa nyaman itu kembali lagi?
Mungkin aku harus menyudahi semua ini sebelum semuanya terlambat dan aku akan menyesal nantinya.
Beberapa hari terakhir, raffi berubah menjadi sosok yang lebih hangat dengan ku. dan itu membuat rasa bersalah ku semakin besar.
Entah apa yang membuat dia berubah, atau mungkin ini Cuma perasaanku?
Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan keluar dari situasi ini. Rumah ijal akan selesai beberapa hari lagi. Dan setelah itu aku yakin akan kembali kedalam kehidupanku yang dulu bersama raffi tanpa adanya bayang-bayang ijal LAGI.
Disini, duduk dengan sejuta pikiran dikepala ku di rumah ijal. Sebenarnya tak ada sesuatu hal yang sangat penting tuk dibicarakan.
Tapi kurasa tak apa-lah mengontrol akhir rumah itu, yah itung-itung pamit dan meminta dia secara baik-baik tuk tidak menggangguku lagi.
”terimakasih yah gi,”
”sama-sama” jawab ku acuh
“em,,,jal” ijal menoleh saat sempat ia mengalihkan pandnganya tadi
”gue,,,, gue mau minta maaf sebelumnya,,” terlihat raut kebinggungan di muka ijal
”mungkin setelah semua urusan kita selesai, gue harap loe nggak perlu dateng lagi di kehidupan gue” ijal menundukan kepalanya sembari meremas rambut, frustasi
”gue udah bahagia sama raffi, jadi gue mohon sama loe tolong jangan ganggu aku lagi”
Beberapa menit suasana kembali hening
Merasa semuaurusan ku sudah selesai, kini aku berinisiatif untuk segera menelfon supir kantor untuk segera menjemput ku pulang. huft,,,, beginilah kalo punya suami yang sama-sama pelupa.untuk menservic mobil pun ita lupa. Alhasil sekarang mobil pemberian Raffi sejak tadi pagi nangkring manis dibengkel langganan.
”hallo, pak yudi bisa jemput sekarang?”
”,,,,,,,,”
”hah? Ya sudah terimakasih saya bisa pake taksi nanti”
Tut tut tut

”kamu nggak bawa mobil??”
Aku menggangguk kecil
“saya antar kamu”
”disini jarang sekali ada taksii lewat, jadi ku mohon jangan menolak” ujar ijal lagi tanpa membiarkan aku mengtakan apapun
”nggak usah gue bisa telfon raffi, suami gue” dengan peneka di dua kata terakhir.
Setelah beberapa kali mencoba menghubungi raffi aku pun akhirnya putus asa saat mendapati tak ada jawaban dari nya. Mencoba meghubungi beberapa taksi tapi jawabannya sama –tak bisa mengantar dalam waktu dekat- entah ini kebetulan atau memang kebetulan yang disengaja mengingat ijal dapat melakukan apapun dengan uang dan kekuasaannya.
Ijal berusaha meyakinkanku dengan berjanji tak akan berbuat apa-apa selain hanya mengantarkan ku pulang dan setelah semua proyek selesai dia berjanji akan menghilang dari kehidupanku.
Dengan terpaksa aku kini duduk manis disamping kursi kemudi bersama ijal.
Satu jam sudah berada didalam antrian mobil-mobil mewah yang berdesakan berebut aspal. Hanya duduk dan diam.
”mampir dulu bentar nggak apa-apakan gi, ada beberapa dokumen yang perlu diambil”
Aku hanya menganggukan kepala, acuh. Hingga aku tersadar ketika mobil ini bergerak ke arah parkiran sebuah Hottel.
”ayok turun”
Aku hanya diam dengan sejuta pikiran kemungkinan-kemungkinan buruk yang kini berada di otakku. Seakan tau apa yang ada sedang aku pikirkan ijal menghentikan gerakan tangannya yang tengah membuka pintu mobil.
”tenang gi, gue nggak akan macem-macem. Inget janji gue tadi” ujar ijal dengan memperlihatkan mimik meyakinkan padaku
Oke lah, yang aku tahu dari Amira. Ijal memang mempunyai beberapa bisnis di indonesia dan salah satunya hotel, mungkin saja ini tempatnya.
Aku berjalan disamping Ijal dengan memberi jarak aman pastinya. Terlihat seperti sedang bermusuhan memang, tapi ini jauh lebih baik untukku.
”sedang apa kamu di sini?” suara bariton tersebut sukses membuatku membeku
”ra raffi,,,,” ujar ku gugup, bagaimana tidak saat ini aku dan ijal berada di depan lift menuju ruangan dimana ijal menyimpan berkas-berkas sialannya itu. Dan ku pastikan kini raffi melihatku sebagai wanita jalang yang dengan mudahnya diajak kesebuah hotel dengan menyandang setatus sebagai istri orang.
brrukkk,,,,
”aaaaarrrr,,, Raffi apa apa an kamu,,” teriak ku histeris melihat ijal kini tersungkur di hadapan ku dengan hidung dan sudut bibir kirinya yang mengucurkn darah.
Sebegtukah kuatkah raffi. hingga sekali tinjuan saja ia dapat membuat orang didepan ku kini tersungkur.
Seletah melayangkan beberapa kali pukulan kembali, raffi mencekram tangan ku erat. Menarik tubuhku, menuntut untuk segera mengikuti kemana ara tubuhnya pergi, melesat kan tubuh mungilku menabrak dan menerobos tubuh besar didepan sana.
Entah bagai mana nasib ijal, terakhir aku lihat bengkak biru yang terdapat pada wajahnya. Wajahnya kini tak berbentuk lagi.
”Raffi,,, tunggu,,, Raffiii,,,, sakit,,” benar benar sakit, aku yakin kini pergelangan tangan ku sudah membiru.
*******
”maaf,,,,, ma,, maaf,,,” ujar ku tanpa berani menatap kedua manik hitam suamiku
Akhirnya setelah sekian menit hanya ada suara tangisan ku yang menggema kini raffi buka suara ”kamu sedang apa disana”
”a,,,ku,,,, aku hanya,,,” ujar ku terbata-bata menahan isak tangis yang tak juga mau berhenti
”liat mata ku,,,” kini dengan jelas ku lihat sorot matanya yang begitu di penuhi kemarahan. Aku memang salah fi,, aku salah,,,
Tak ingin membiarkan kesalah pahaman ini semakin larut kukumpulkan semua tenaga dan keberanian ku ”ini semua ,,,,salah,,, salah faham”
Dari semua penuturan ku raffi tak bisa menerima alasan yang aku katakan, dia telah buta dengan rasa cemburu.
Tapi sejujurnya ini semua memang salah ku, aku yang memang sangat bodoh. Dengan mudah nya menerima alasan yang di berikan ijal.
”raffi,,, fii,, rafffii,,, jangan pergi,,, ku mohon Raffi dengarkan aku,, Raffi aku sayang kamu,,, tolong jangan tinggalkan aku,, rafiiii”
Autor Pov
Suara pintu yang tertutup dengan kecepatan 100km/jam beberapa hari yang lalu masih saja terngiang di telinga nagita saat ia kembali melihat pintu itu.
Kini pintu itu tak terlihat terbuka lagi. Nagita mengurung diri diapartemennya.
Ia takut jika kelak ia pergi dan ternyata dalam waktu yang bersamaan raffi pulang, ia ingin menyambut suaminya dan segera menjelaskan membali serta meminta maaf.
Ting tong..
”ah raffiii,,,” nagita segera beranjak dari tempat tidurnya
”raffi,,,”  seru nagita saat membuka pintu
Dan wajahnya nkembali sendu tatkala seseorang dibalik sana bukanlah raffi, melainkan mamah kandungnya.
Seakan tau apa yang di rasakan putrinya, mama rieta segera memeluk erat nagita.
Keduanya menangis sendu du depan pintu
Mama rieta berusaha menenangkan nagita, mengusap pucuk kepala anaknya.
*****
”bagaimana keadaan mu nak” mama rieta mulai hawatir dengan kondisi nagita yang terlihat semakin kurus dengan kantung mata yang sangat jelas terlihat.
”mamah sudah tau apa yang sedang kalian hadapi” ujar mama rieta lagi
Nagita hanya diam memalingkan wajahnya membelakangi mamahnya.
”kamu nggak mau ketemu dia gi?”
Nagita kembali diam, memainkan ujung kukunya
”raffi juga sama kacaunya dengan mu, setiap hari dia hanya menghabiskan wakunya dengan bekerja”
”dia tak pernah tertidur gi”
Nagita tersentak mendengar apa yang mama rieta katakan
”mamah tau dari ibu amy”
”bicarakan lah baik baik sayang, mamah yakin ini semua hanya salahpaham”
”kalian berdua sama sama saling mencintai, selesaikanlah secepatnya jangan sampai kamu menyesal nantinya sayang” mama rieta mengecup ujng kepal anaknya dan melangkahkan kakinya untuk pergi.
Memang saat ini sendiri lah yang dibutuhkan nagita, ia mencoba merenung menyedari semua kesalahanya. Memikirkan apa yang seharunya ia lakukan untuk memperbaiki semua ini. Tentu saja ia tak ini berpisah dengannya.
*****

 “sekarang mereka sudah tidak tinggal bersama bos”
“hkeh,,,,” ijal tersenyum sinis
Sudah satu minggu ia  terbaring di rumah sakit, ada beberapa bagian tulangnya yang retak akibat insiden itu.
Tapi semua sakitnya ini telah dibayar dengan informasi yang ia ketahui dari aries orang kepercayaannya.
“jika kau tak bisa ku miliki, maka tidak ada satupun yang dapat meiliki kamu gi”
FlashBack on
”hah? Ya sudah terimakasih saya bisa pake taksi nanti”
Tak sengaja ijal mendengar percakapan nagita dan seseorang diujung sana, dan itu membuat ide brilian muncul.
“hallo aries,,,”
“........”
“tolong pastikan raffi pergi ke hotel malam ini dan saya tidak mau ada satu taksi pun yang bisa kemari”
“..........”
Tuutt tuuutt
-Lihat saja gi, sebentar lagi semuanya akan berakhir dan ku pastikan kau akan kembali ke pelukan ku. Bagaimanapun caranya,,,-
*****

”aaaaarrrr,,, Raffi apa apa an kamu,,” suara gadis ku sempat terdengar sesaat setelah dia memukul rahangku.
Oh tuhan, ternyata cinta ku tak bertepuk sebelah tangan. Kau ternyata masih mencintai ku gi?
Sebentar lagi sayang , sebentar lagi kau akan kembali ke pelukan ku.. bersabarlah
Terlalu senang ku mendengar gadisku, kini aku telah ambruk kelantai dengan dia di atasku  melayang kan pukulan bertubi-tubi tanpa ada perlawanan dariku.
“liat, di depan mu saja dia masih menghawatirkan ku” ujar ku pelan, tapi aku rasa raffi masih bisa mendengarnya.
Ini di buktikan dengan gerakannya yang semakin berutal. Hingga semuanya gelap.
FlashBack off
***********

“sayang istirahat lah, nanti kamu sakit”
“peduli apa sekarang, semuanya sudah tidak ada artinya”
“kamu bicara apa affi”
“sudah lah mah, biarin affi sendiri”
Setelah kejadian itu raffi menyibukan diri dengan bekerja, bekerja dan bekerja.
Entah kapan terakhir kali ia bisa tidur nyenyak.
Setiap kali ia memejamkan mata, suara dan bayangan itu muncul. Dan itu semua membuat raffi muak.
“mamah,,,, tadi kan affi udah bil,,,” ujar raffi saat mendengar pintu kembali terbuka.
Tapi kini didepannya bukanlah sosok mamah yang ia temukan.
 Nagita, kini orang yang sangat ia rindukan telah hadir di depannya. Bukankah ini yang mereka inginkan, bertemu dan melepaskan rasa rindu mereka selama ini.
Tapi kini mereka diam bak patung, raffi kembali focus ke berkas dan layar monitornya setelah beberapa menit menatap kosong ke arah istrinya.
“kamu apa kabar”
-bukan ini yang harusnya ku katakan, bodoh bodoh- sangat sulit memang mengucapkan kata-kata yang segarusnya ia katakan, sedangkan saat ini nagita harus menahan isak tangisnya yang hampir saja jatuh.
“kamu terlihat sangat kurus”
“ini ku bawakan makanan kesukaanmu, makan lah”
Nagita meletakan rantang yang berisikan ayam pop lengkap dengan saus dan sedikit nasi.
Nagita sangat tau raffi tidak menyukai suara tangisan-nya.
makadari itu, sekuat tenaga ia menahan, ia tak ingin raffi semakin di bencinya saat ini. Ia ingin terlihat tegar dan memperjuangkannya sekarang.
Tak lama kemudian nagita berbalik, berjalan menuju pintu dengan air mata yang sudah mengalir dengan deras.  Di pelupuk mtanya
**********
Didalam ruangan raffi membanting berkas yang sedari tadi ia pegang, mengacak-acak rambutnya frustasi.
Semenjak tadi ia memang terlihat konsentrasi dengan laptop dan beberpa kertas di depannya, tapi raffi sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan baik.
Ia sedari tadi sibuk menenagkan dirinya yang ingin sekali loncat dan memeluk nagita, menumpahan semua rasa rindunya itu.
Ia tau bagaimana nagita menahan tangis saat mengatakan semua itu. Dan semua itu membuat hatinya begitu nyeri.
Ia telah menghancurkan perasaan istrinya,
-seharusnya aku tak perlu seperti ini- batin raffi dengan muka karena menahan amarah sebdiri. Tak seharusnya raffi seperti ini memang.
Tapi mengingat apa yang membuatnya seperti ini, mungkin ini adalah hal yang tepat. Hingga waktunya tiba nanti.
*********
“kamu sudah bangun,,?”
“mandi, dan ayok kita sarapan”
Raffi mengamati sekeliling, memincingkn matannya mencari suara yang ia rindukan saat ini.
“semalem kamu ketiduran di ruang kerja”
Kini suara menghilang diganti derian pintu yang menutup
Raffi memijat tengkuknya yang sedikit pegal seraya menautkan alisnya mengigat-ingat kembali apa yang terjadi.
Nagita tak sekuat itu untuk mengendong raffi hingga ke ranjang. Tapi raffi meman sedari dulu mempunyai kebiasaan berjalan di saat tidur.
Ia dulu pernah terbangun saat berada disofa, dan tempat lainnya. tapi smenjak ia menikah dengan nagita keiasaan itu berkurang bahkan hampir sudah tidak ia lakukan kembali.
Semalam nagita tak tega membangunkan raffi, mengingat raffi terlihat begitu lelah.
Dan ia juga tidak bisa membiarkan raffi tidur dengan kondisi seperti ini. Akhirny ia beranikan diri untuk, memegang tangan raffi menuntunnya berdiri hingga berjalan menuju kamar mereka.
Semenjak kejadian itu, raffi menginap dikediaman mamah amy hingga saat ini nagita yang menghampirinya.
“nas,,, kamu tuh harus bisa masak kayak mbak gigi” ujar mama amy
“sekolah dulu dong mah di london” nanas antusias
“ngapain jauh jauh nas, belajar aja sama mbak gigi,,, iya kan mbak” ujar billy yang kebetulan di sana
“apa sih kamu bil, panggilnya biasa aja bisa kali” ujar nagita sembari membawakan nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya
“eh a raffi, ayok a sini gabung, kita sarapan dulu”
“nggak nas, makasih aa masih ad,,,”
“hello,,,, a affi ini kan hari minggu a, masa masih mau kerja seh” nanas segera pergi menghampiri raffi yang sedang berdiri di ujung tanga dan segera mendorong tubuhnya ke kursi meja makan.
“udah aa nurut aja sih sama nanas, nanas kan calon dokter jadi nanas tuh tau mana yang baik dan buruk buat aa, bisa mati kalo aa Cuma makan ayam pop doang semalem” ujar nanas dengan senyum licik.
Raffi terlihat salah tingkah, saat kelakuannya semalam memakan habis tak tersisa makanan dari nagita.
bagaimana bisa raffi menahan keinginannya untuk memakan makanan yang dimasak nagita. Ini adalah salah satu alasan kenapa raffi bisa tidur dengan nyenyak semalam.

Dari baunya saja ia juga sudah tau nagita atau bukan yang memasak makanan itu. Kali ini juga air liur raffi hampir menetes akibat nasi kuning masakan istrinya.
Mungkin saat ini ia butuh lakban hitam, agar bisa menutupi seluruh mukanya yang memerah saat ini.
 “nanas,,,,” tegur mama amy
“sudah lama yah kita nggak ngrasain sarapan bareng kayak gini”
“mau udang?” tanya gigi sembari menyendokan nasi kepiring raffi dengan telaten
“udah mbak taro aja semuanya pasti bakal di habisin ko sama aa” cletuk nanas yang kembali mendapat tatapan tajam dari raffi
Dan memang terbukti beberapa menit kemudian makanan yang ada di atas piring raffi kini ludes tak tersisa. Padahal raffi paling susah untuk diajak sarapan pagi.
Ia cenderung sarapan hanya dengan roti saja. Tapi kali ini nasi kuning kesukaannya juga habis tak terisa.
Sudah berapa hari nagita menginap di rumah ini, tapi sama sekali tidak ada komunikasi diantara mereka. Raffi cenderung menghindari untuk kontak lanngsung dengan gigi.
Tapi nagita tak patah semangat, ia terus melayani suaminya. Menyiapkan segala keperluannya. Membuatkan masakan kesukannya setiap hari. Pagi, siang , sore, hingga malam. Tak jarang pula ia menemani raffi seharin di dalam ruangannya.
Sesekali ia Menanyakan sesuatu yang ringan padanya, tapi tak mendapt respon baik dari raffi. Seperti orang gila memang,   tapi akan lebih gila jika ia kehilangan semuanya.
*******
“raffi,,,” ujar nagita tertahan saat menemui raffi tengah berada diruang kerjannya kembali
“aku rasa, kita perlu bicara” tapi lagi lagi raffi mengacuhkan nagita dan pura-pura sibuk dengan dokumen-dokumen di tangannya
“aku memang salah, tapi aku sudah mengatakan semua hal itu dengan sejujur-jujurnya padamu”
“aku dan dia tidak memiliki niatan untuk berbuat macam-macam”
“dia hanya mau menolong ku, mengantarkan pulang, diperjalanan dia mendapat telefon untuk mengambil beberapa berkas yang perlu dipelajari”
“aku tidak tau bahwa hotel itu adalah tempat dimana berkas itu di simpan dan aku tidak tau kamu juga ada disana,,,”
“jadi,,, jika kau tau aku ada di sana kamu tidak akan keluar dan menyembunyikan semua itu dari ku??” ujar raffi dengan masih sibuk melihat kertas di tangannya
“bukan,, bukan itu maksudku raffi”
“aku mohon kamu percaya padaku raffi,,,, aku tak bermaksud apa-apa mungkin jika saat itu kamu bisa kau hubungi, semua ini tak akan terjadi”
“jadi kamu salahkan aku???” raffi membating berkas-berkasnya, menatap nagita tajam kemudian meremas rambutnya frustasi
 “maaf ,,,,, maa,, af,, maaf kan ,,,a,,k,, aku” kini tak lagi bisa terbendun semuanya, tangisnya tumpah ruah sekarang. Isak tangisnya sangat begitu jelas terdenar memenuhi seisi ruangan ini.
“jika ini yang kamu ingin kan, baiklah aku akan pergi” sebenarnya bukan ini yang nagita ingin katakankan, tapi melihat bagaimana marahnya raffi saat ini.
 Bahakan usahanya beberapa hari ini tidak sama sekali dilihat olehnya. Semuanya percuma,,,,
“aku harap semua akan baik-baik saja tanpa adanya aku disisimu lagi”
Nagita membalikan badan dan perlahan pergi dari rungan itu.
Terbesit kenangan-kanangan yang mereka lalui bersama, dan semua itu hanya akan menjadi sebuah kenangan nantinya.
Tangan kekar membekap tubuh nagita dari belakang, menahan laju tangannya yang hendak memutar knop pintu.
Membenamkan kepalanya dileher nagita, mengetahui siapa pemilik lengan itu. Nagita hanya menangis terisak. Begitu juga raffi, ia menumpahkan semua tangisnya ditengkuk nagita. Hingga dipastian tempat itu sudah bsangat basah sekarang.
Cukup lama mereka diam tak mengatakn apa apa, hanya tangis dan air mata yang mampi menjelaskan semuanya.
“maaf,,, maaf kan aku,,” ujar raffi parau
Tangis Nagita semakin menjadi-jadi saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Raffi menekan semua rasa ego yang ia miliki. Ia tak ini dibutakan oleh rasa egoisnya, padahal jelas-jelas nagita sudah berkata jujur padanya.
Dan memang benar, alasan itulah yang ia dapat dari orang kepercayaannya.
Raffi mengutus seseorang untuk mencari tau apa yang nagita dan laki-laki itu lakukan di sana.
Dan jawabanya sama persis dengan apa yang dikatakan nagita.
Perihal client raffi yang mendadak memintanya metting mala itu juga, rupanya itu hanya akal-akalan dari ijal semata.
Nagita tidak sama sekali berbohong, ia adalah seorang yang sangat jujur dan setia padaku.
Dan sekarang akibat dari kebodohan ku yang dibutakan oleh rasa cemburu tiada akhir, aku hanpir saja melepas nya, membiarkan dia pergi dengan masing-masing membawa luka yang sama.
 Aku pria paling bodoh jika itu terjadi.
Informasi terakhir yang aku dapat. Ijal tengah dirawat oleh pskiater, rupanya ia memiliki penyakit kejiwaan dari dulu. Ia sering obsesi memiliki semua yang ia ingin kan dari dulu. Dan akan membuang setelahnya.
Nagita membalikan badannya perlahan. Memandangi wajah suaminya yang kini terllihat sama seperti kondisinya saat ini.
Muka merah dengan ari mata berada di mana-mana. Kantung matanya juga sangat jelas terlihat, tinggal satu atap saat ini bukan berarti mereka tidur satu ranjang. Raffi memilih menghabiskan malamnya di ruang kerja, bercumbu dengan dokumennya. Sedagkan nagita meringkuk dikamar dengan menangis semalaman.
Nagita mengusap wajah suaminya, membersihkan air mata disana. Wajah yang beberapa hari ini hanya bisa aku pandang setiap kali ia mengendap-endap masuk keruang kerjanya dan mendapati ia tertidur di sofa. Kini nagita dapat memegangnya, mengupap lembut bulu-bulu halus dirahangnya.
Raffi hanya diam dan memejamkan matanya, merasakan setiap inci sentuhan lembut dari tangan halus nagita.
Kemudian, mereka berpelukan. Erat dan dangat lama.
“maaf kan aku baby,,, maaf kan aku” ujar raffi dengan memandang kedua mata nagita
“jangan tinggalkan aku,,,”
“tidak,,, tidak akan pernah,,, aku ak,hemmmttppp”
Raffi memulat bibir nagita, menekan bibirnya dalam seakan ingin menghisap semua yang ada di dalam sana.
Walau merasa hampir kehabisan oxigen tapi nagita tetap membalas ciuman suaminya dengan sesekali meraba bulu halus dirahang dan meremas rambut belakang raffi yang mulai panjang.
“i love you,,, i love you more” ujar raffi tepat berada di bibir nagita
Raffi mengerutkan dahinya saat ia beranjak ingin menciumnya kembali tapi nagita memundurkan kepalanya.
Dan ia merogoh saku celana pendeknya, mengeluarkan sesuatu dari sana.
Benda kecil, panjang. yang sukses membuat mata raffi melotot seakan ingin loncat dari tempatnya.
Raffi memegang benda itu, memandanginya dengan bergetar.
“kamu ,,, “
Nagita mengguk pelan,,,
“kamu hamil sayang”
Raffi memeluk istrinya erat, menghujani ciuman kecil di seluruh wajah nagita.
“makasih sayang ,,,, makasih”
Kemudian ia berlutut, memeluk perut rata milik istrinya.
Seraya berbisik “maaf kan papah sayang,, maafkan papah” suara raffi kembali parau.
“hey,,, jangan nagis terus, apa kamu tidak malu kalau dia tau. Punya papah yang cengeng kayak kamu” ledek nagita
Kemudian raffi bangkit dan segera memeluk istrinya kembali.
*****
Setelah kejadian yang megharu biru, raffi senantiasa menamani nagta cek up ke dokter sitiap bulannya.
Raffi terlihat begitu antusias mendengarkan berbegai penuturan dari dokter. Alhasil kini ia menjadi suami yang siaga, bahkan mungkin cenderung protektif dan cerewet sekarang.
Rupanya, nagita juga beru menyadarinya hari itu jika ia sudah telat beberapa hari, dan belakangan ini ia merasakan ada yang aneh padanya.
Hingga ia memberanikan diri untuk mengeceknya, dan hasilnya sungguh sagat
Membahagiakan.
“sayang kamu tuh harus istirahat,” ujar raffi saat melihat nagita masuk keruang kerjanya
“dianya nggak mau bubu kalo nggak ditemenin papahnya” ujar nagita dengan nada manja sembari mengusap perutnya
Kini nagita memasuki minggu ke 13, belum terlalu besar memang tapi cara ini lah yang paling ampuh untuk menghentikan raffi bekerja.
“oh iya,, duduk sini” raffi menepuk sofa sebelah yang kosong agar nagita mendekat
“aku mau meminta tanda tanganmu di sini” raffi menyodorkan sebuah map berwarna merah didepan gigi
Nagita terlihat ragu membuka map tersebut, ia takut akan menemukan sesuatu yang sangat tidak ia inginkan nantinya.
“ayo lah sayang , jangan parno gitu” raffi meyakinkan nagita, seakan tau apa yang ada dipikiran istrinya tersebut.
Perlahan naita membukanya, dan membacanya bingung
“apa ini,,” nagita mengerutkan dahinya
“itu buat kamu,,, dan anak kita” raffi memegang dan mengusap perut nagita
“mall?”
Raffi mengangguk
“bukan kah itu cita citamu dari dulu?”
“memiliki sebuah mall, yang bisa kapan saja kamu kuncungi dan membuat tenda disana ??” raffi melirik istrinya jahil
Nagita tersenyum lalu menyubit perut sispacx raffi
“aauuuwww,,,”
“hey,,, jangan nangis dong,,,” raffi meraih kepala nagita dan menyandarkannya di bahu.
“maaf yah, sudah merahasiakan semua ini dari kamu”
“aku terlalu sibuk akhir akhir ini karena aku ingin semua yang kamu inginkan bisa terwujud” raffi mengusap dan mencium ujung kepala istrinya lembut
“kamu memiliki 75% saham disana, jadi kelak jika aku bertingkah. Kamu bisa membuat ku jatuh miskin”
Nagita hanya memukul ringan dada bidang raffi

*****
Setelah menunggu 9bulan 10 hari, Setelah melewati insiden cakaran dan jambakan maut dari sang istri  akhirnya raffi dapat mendengar tangisan putra pertamanya kini.
“makasih sayang ,,,, makasih” raffi mengecup ujung kepala istrinya
Putra pertama mereka di beri nama Rafathar Malik Ahmad yang memiliki arti Laki-laki yang membanggakan, terpuji dan agung serta memiliki kecerdasan.


-Sekian-

Horeee,,,, akhirnya selesai juga cerita pertamaku,
Makasih semuanya yang udah setia membaca dan menanti cerita ku yang tak seberapa ini, terutama  buat keluarga ku dan orang yang sudah dengn baik hati meminjamkan seperangkat laptop.
Sepesial untuk INDAH GANA INDRIANA MARIANA TENGKER *maksa* yang sudah senantiasa mendengar ide ide konyol ku, selalu bisa mengeluarkan komentar PEDAS yang membangun tentunya.
Buat para readers ku,,,,, kesup basah buat kalian semuaaaa,,,,,
maaf maaf,,,,, yang tidak sesuai dengan keinginan kalian. Terutma endingnya ini
pasti nggak banget yah?? Hahah maaf kan saya sekali lagi,, tapi emang dari awal ide  edingnya kyak gini,,, *tetep pembelaan diri hahahaha*
sebenarnya lagi nggak ada ide buat ngembangin cerita, in aku paksain sampe kuping ku kluar asep gara-gara dipaksa mikir ini otak,,,  *ini lebay abis*
Oke cuzz kasih coment and likenya,,,,
Maaf yah kalo masih ada typo or kata-kata yang kurang sesuai dengan EYD. Eikye masih belajar nulis, jadi harap maklum.
Terlimakasih sudah meluangkan waktunya,,,,,
#kiss #kiss

Add and follow dulu keleus,,,,
FB                  : Zulva Nadirotu        
Wattpad & IG    : @ZulvaNadirotu
TW                 : @Zulfaupith
#Promo #Again