Tuesday, 18 November 2014

My Wife, My Little Friend (Part 18)

My Wife, My Little Friend (Part 18)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,

Part 18
Tanpa mereka ketahui tingkah lakunya diam diam telah di perhatikan seorang gadis yang sedari tadi berdiri di balik pintu, ia hanya melihat mereka dari sepotong kaca yang menempel pada pintu tersebut.Dengan muka kesal wanita itu berbalik untuk segera pergi manjauh, belum sempat gadis itu melangkahkan kakinya tiba tiba ia berpapasan dengan mama amy,,,,
“eh vellove,,, apa kabar ko di luar sih,,,” ujar mama amy
“eh ee,,,, itu tan tadi ada yang ketinggalan di mobil,,,,”
“oh gitu,,, ya udah sini masuk dulu, di dalem juga ada gigi loh,,,”
 “ah nggak usah deh tante, nggak enak ngganggu raffi sama gigi,,,” Dengan seribu alasan velove pun ia berikan kepada mama amy agar tidak memaksanya untuk bertemu dengan raffi.
“Loh kok nggak enak sih,,,, kalian kan berteman,,,”
“iya sih,,, tapi tadi vellove liat sekilas raffi lagi serius ngobrol sama gigi jadi takut ngganggu,,, hehe” ujar vellove
“oh iya memang semenjak raffi sakit, gigi selallu nenggok kesini,, yaa hmpir tiap hari lah sepulang sekolah,,, mungkin karena gigi tahu raffi bakal BT kalo sendirian terus kan,,,,”
Mendengar perktaan mama amy yang terlihat sangat akrab dengan gigi, velove pun di buat semakin tidak ingin masuk menemui mereka. Hingga Ia teringat sesuatu yang dapat membuat hubungan mereka renggang (mama may & gigi)
“bukan itu kali tante alasannya, mungkin karena gigi nggak enak sama raffi dan tante,,,”
                  “loh ko nggak enak,,,, nggak enak kenapa,,” selidik mama amy
 “loh mama amy belum tau,,, gigi kan yang menyebabkan raffi jadi kaya gini,,,”
“maksud kamu apa vellove,,,” seru mama amy kaget
Merasa mendapatkan kesempatan emas untuk menjelek jelekan gigi di depan mama amy “iya jdi gini loh tante,,,,,” vellove  pun menjelaskan alasan kenapa raffi bisa terbaring di rumah sakit ini
Perlu pembaca ketahui, vellove menaruh dendam terhadap nagita. Karena velove merasa gigilah penyebab karam nya hubungannya dengan raffi.
Saat mendengarkan penjelasan dari velove, mama amy hanya menggeleng geleng kan keplanya. tanggannya memegang dadanya yang kian sesak terasa saat mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Saat vellove selesai menjelaskan  apa yang ia ketahui dari teman teman sekolahnya, mama may segera meninggalkan vellove. Dengan penuh marah mama amy membuka pintu kamar raffi hingga membuat orang yang berada di dalamnya tersentak kaget.
“astaghfirullah,,,” seru raffi dan gigi dengan hampir bersamaan
“pergi kamu dari sini,,,,” seru mama may seraya menunjukkan jari telunjuknya kearah gigi. “hah,,,tante ken,,,,”
“udah ga usah banyak Tanya, sekarang kamu pergi dari sini, jauhi ank saya,,, cepat pergi,,,,” potong mama aamy,
“mah mamah apa apaan sih ngusir gigi kaya gitu,,, mah” nampaknya percuma saja raffi mengatakah hal yang demikian, karena mama amy sangatlah kecewa dengan orang yang selama ini di nilai baik di matanya
  Dengan sedikit menarik tubuh nagita keluar mama amy menjelaskan sedikit alasan yang membuatnya melakukan hal ini “tolong jangan dekati anak saya lagi,,,, sudah cukup gi,,,, cukup kamu buat raffi menderita seperti ini,,,, udah sekarang kamu pergi dari sini dan jangan temui anak saya lagi,,,,”
Mendengar penjelasan itu, dengan muka menunduk gigi mengucapkan permohonan maaf yng teramat sangat kepada raffi dan mama amy,,,
“iya,, saya memang salah tante,,,,, maaf selama ini saya bukan teman yang baik untuk raffi,,,, saya akan menjauhi raffi sekarang dan selamanya,,,,, sekali lagi maaf,,,” dalam ucapannya terlihat sekali nagita menahan tangisnya didepan mama amy dan raffi. Dengan berat hati gigi membalikan tubuhnya untuk keluar dari kamar tersebut
Di luar ruangan vellove melihat semua kejdian tersebut dengan senyum kepuasan menghiasi bibirnya, dan segera pergi bersembunyi tatkala melihat gigi yang hendak menghampiri pintu dengan air mata yang menetes di pipinya.
“hah rasain loe,,,,” ujar vellove pelan yang melihat gigi menjauh dari ruangan tersebut
Di dalam kamar, mama amy tak menjawab satupun pertanyaan yang di lontarkan raffi
“mah,,, mamah apa apaan sih,,, kan kasian gigi tuh nangis,,,, lagian kan sekarng affi udah nggak apa apa ,, affi udah sehat kok,, ini tuh bukan salah si gigi,,,,, si nanda aja yang,,,,” belum sempat raffi melanjutkan perkataannya, tiba tiba mama amy menghentikan pembicaraan raffi dengan nada tinggi “affi,,,,, diam,,, nurut apa kata mama,,,!!!!” seru mama amy
“tapi mah,,,,,”
“affi,,,,” melihat mama amy yang semakin marah, raffi pun memutuskan untuk diam
Hari demi hari telah raffi lewati tanpa hadirnya seorang gigi disampingnya, setiap pintu kamarnya terbuka ia selallu berharap gigi lah yang berada di baliknya. Tapi apa daya semua ini telah mengubah jalan ceritanya, semua angan dan cita raffi telah punah seketika tatkala mamah amy tak menyukai apa yang anaknya lakukan.
Sampai pada suatu hari, billy dan temannya yang lain menjenguk dengan beberapa buku di tasnya
“hay fi pa kabar,,,,” sapa billy
Tapi tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut raffi, hanya senyum terpaksa yang terpancar dari bibirnya
“oh yah,, ni ada titipan,,,,,,” bily mengeluarkan buku buku yang sejak tadi membuat punggungnya terasa berat
“,,,, dari nagita,,”
Mendengar penjelasan selanjutnya dari billy, seketika mata raffi berbinar binar. Ia segera mengambil buku buku itu dan membuka bukanya berharap ada secari kertas pesan untuknya. Tapi usahanya sia sia, raffi hanya melihat torehan tinta dari tangan nagita bertuliskan materi materi yang diberikan oleh sang guru. Tapi ini semua memberikan sedikit semangat untuk raffi karena ia sangat tau bahwa tulisan itu benar benar di tulis ulang oleh gigi bukan Cuma sekedar copy an semata.
“gue ga percaya mama loe bakalan bertindak kaya gini fi,,,, gue juga ga tau siapa orang yang ngasih tau semua ini ke nyokap loe,,,”
“hmm,,,, gue juga nggak tau wan,,,, udah lah mending kita mikirin gimana caranya ini semua bias balik kaya dulu lagi,,,,” ujar raffi
Beberapa hari setelah kejadian itu, raffi telah diperbolehkan pulang. Keberangkatannya ke sekolah di sambut hangat oleh teman temannya. Dari sekian banyak temannya tak terlihat sosok nagita, ya nagita sosok wanita yang membuatnya ingin cepat cepat kembali ke sekolah ini. Tapi hingga jam sekolah hampir usai ia tak kunjung menemukan sosok itu.
“eh ky,,,,  kia,,,, sapa raffi,,,”
“eh iya ffi knpa???”
“gigi mana ko gue dari tadi nggak liat gigi,,,,,”
“oh,,, gigi dia lagi ga masuk hari ini,,,,”
“Hah,,,, nggak masuk,,, dia sakit,,, sakit apa,,, haduh haduh gimana dong,,” ujar raffi panic
“wuissttt sabar bro,,,, dia nggak masuk karena ada kepentingan kluarga, nggak tau katanya mau apa gitu,,,,”
“hufftttt,,,, syukur deh,,, kirain apa an,,,,” ujar raffi yang sedang mengusap udap dadanya
Ke esokan harinya, raffi berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. hanya Terlihat beberapa motor dan mobil yang sudah trparkir dengan rapih di sana,,,,
Di depan lahan parkir, raffi duduk dengan mengangkringkan kaki kirinya di paha kanannya. Setelah hampir beberapa menit celingukan kesana kemari, tiba tiba mata raffi tertuju pada suatu mobil merah yang berhenti tak jauh dari tempatnya duduk. Seakan ia mengetahui siapa pemiliknya, raffi pun langsung berdiri dan mengembangkan senyum andalannya.
Jantung raffi berdetak kencang tatkala pintu itu terbuka dan terlihat seorang ber rok abu abu dengan spatu kets putihnya keluar dari mobil. udara pagi yang menerpa rambut indahnya seakan menambah ke elokan wanita tesebut, Dengan langkah anggunnya wanita itu pergi menjauh dari mobil yang ia kenakan. Sedangkan Raffi hanya diam mematung seperti terhipnotis akan keadaan.
“raffi,,,,” ujar wanita tersebut
Mendengar sapaan itu, senyuman semakin merekah di bibir raffi. Ia pun secera bersamaan mendekat satu sama lain
“kamu udah sehat,,,,”
“hu’um,,,” ujar raffi sambil membuka tanggan dan mengangkat bahunya untuk menunjukan sekarang ia baik baik saja
Tiba tiba wanita tersebut memeluk tubuh raffi tatkla mendengar dan melihat keadaan raffi yang sudah jauh lebih baik “eeeemmmmmm syukur deh,,,,,,”
Dengan posisi tangan nya yang masih terbuka raffi terkejut bukan main, matanya terbelalak kaget saat mendapatkn perlakuan sedemikian rupa dari wanita yang sejak dulu Ia kagumi.
“I I iya gi,,,,, aduh,,,” eluh raffi
Seketika wanita tersebut melepaskan pelukannya “hah kenapa kenpa,,,, mana yang sakit,,,” sambil memegang bahu raffi dan melihat lihat badan raffi dengan pandangn panic.
“hem,,, masih ngilu,,,” ujar raffi dengan memegang perutnya
“ya allah raffi,,,, maaf maaf,,,, haduh gara gara gue loe jadi kesakitan gitu,,,, maaf yah” ujar wanita tersebut dengan sedikit membenarkan rambutnya yang sering terlihat terurai indah.
“gi,,,,” ujar raffi memanggil nama wanita yang berdiri di depannya
“hum,,, apah,,,” ujar nagita, ya wanita tersebut adalah nagita
“maaf yah, atas kelakuan mamah gue ke loe tempo hari ,,,”
Mendengar perkataan raffi, nagita pun seketika diam. Dan sedikit memalingkn wajahnya.
“em, mungkin mamah syok tau semua masalah ini, tapi aku yakin ko di dalam hati kecil mamah dia nggak mau nglakuin itu semua ke loe gi,,,,”
“udah lah, lupain aja lagian gue pntes ko dapetin semua ini,,,, ya emang bener fi, gue harus lebih jaga jarak dari loe supaya loe nggak di ganggu nanda terus,,,,”
“loe nggak perlu takut lagi gi, sekarng kan nanda di buii, jadi udah nggak ada lagi yang bisa nyakitin kita lagi, terutama kamu” ujar raffi yang sedikit mencubit hudung gigi
“tapi fi kamu tau sendiri nanda orangnya gimana,,,” balas nagita yang sedang menggelap dan menggerak gerak kan hidungnya
“seeeettttt udah ah berisik,,,, ayo masuk kelas,,” raffi pun menggandeng tangan gigi untuk mengajaknya memasuki kelas.
Hari demi hari mereka lewati, hingga sampai pada hari pengumuman kelulusan itu tiba. Satu persatu siswa siswi keluar dari kelas dengan membawa amplop putih yang berisikan hasil akhir dari pejuangan selama tiga tahun. Mereka semua terlihat kegirangan dan saling menyemprotkan pilok satu sama lain saat melihat isi amplop tersebut, tapi ada satu sosok yang terlihat gugup dari sekin siswa.
“gigi,,,,,, gue lulus gi,,,” ujar kia
“ah,,, selamet yah ky,,,” ujar gigi
“eh loe gimana,,, lulus kan,,,,” selidik kia saat menyadari gigi yang terlihat gugup
“em,,, e,, gue nggak tau,,”
“loh ko nggak tau sih,,, di buka dong,,, sini gue buka in,,,,” kia pun segera merebut amplop yang berada di tangan nagita
Dengan lantang  kia membacakan isi surat tersebut di depan gigi, sedangkan gigi yang terlihat ketakutan dengan kedua tanggan nya yang sibuk menutupi telinganya.
“yang tercantum dibawah ini atas nama NAGITA SLAVINA MARIANA TENGKER dinyatakan ,,,,,,,, LULUS,,,”
Mendengar ucpan kia, gigi pun segera melepaskan kedua tanganya untuk segera merebut kertas tersebut lalu membaca dan melihat ulang seakan tak yakin atas apa yang Ia dengar dari sahabatnya. Mereka pun segera berpelukan dengan erat dengan loncat kegirangan.
“gigi,,,,, kya,,,,” seru raffi dan billy dengan berlarian menghmpiri keduanya
“gue lulus,,,,, “ seru raffi
“aaaaaaa,,,, selamet yah,,,” tak mereka sadari mereka pun berpelukan dengan loncatan loncatan kecil dikakinya.
“ye ye ye ye,, kita lulus,,,, kita lulus” seru raffi yang masih asyik dengan loncatannya
“ye udah kali peluknnya,,,,” seru billy
Mendengar ucapan billi raffi dan gigi pun seketika kaget dan segera melepaskan pelukannya. “eh iya maap maap,,,” terlihat jelas bagaimana keduanya gugup dan canggung didepan teman temannya
“gue juga mau kali gi di peluk,,,,” seru billy yang membentangkan tanggannya kearah gigi
Namun raffi segera mendaratkan pukulan kecil di kepala billy, “apa an sih loe bil,,,,” grutu rffi kesal
“cieeee ada yang cemburu ,,, hahay” seru billy
Mendengar ledekan dari billy, raffi segera menyemprotkkannya ke tubuh billy dengan pilok yang sedari tadi ia bawa. Mereka pun berlarian untuk menghindar dari semprotan masing masing, begitu pun gigi dan kia mereka tak luput dari kejahilan kejahilan kedua temannya ini.
Saat raffi dan billy duduk bersama karena kelelahan, billy mencoba menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah sejak lama mengganjal di pikirannya.
“eh fi, gue aneh deh liat loe ama gigi,,,”
“kenapa,” jawab raffi enteng
“loe suka kana sama gigi,,,”
“nggak biasa aja,,,,”
“jangan bohong loe,,,, udah ngaku aja,,,”
“nggak dia tuh orangnya baik, pinter, lucu, polos lagi,,,”
“tuh tuh kan,,,,” ujar billy sembari menunjuk kea rah raffi
“pa an sih bil,,,” dengan menangkis tangan billy yng terlihat mengganggu
“udh pacarin aja fi,,,”
“hem,,,, cewek kaya dia tuh bukan buat di pacarin bil,,,,”
“han terus,,,,” selidik billy
“cewek kaya dia tuh pantesnya buat di nikahin bukan buat di pacarin,,,”
Mendengar ucapan raffi, billy pun seketikak tertawa terbahak bahak “ hahahahahah”
“yeh bener bil,,, dia tuh cewek yang langka,,,,, jarang banget bisa di temuin,,”
Dengan sisa sisa tawanya billy mencoba menanggapi apa yang di katakana raffi “haha haha ya udah sono nikahin,,,,”
“ah elu mah becanda mulu,,,,,”
“yak an kata loe si gigi bukan buat di pacarin tapi buat di nikahin ya berarti loe nikahin dong,,,”ujar billy ngasal
“ya enggak secepet ini juga kali bill,,,, elu mah”
“hahahahah terus gimna dong,,,”
“ya tunggu gue sukses dulu, nih yah ntar gue bakal nglamar dia di depan orang banyak, dengan berlutut,,,,,,,,,, meminta dia di depan kedua orang tuanya, hahay romantis nggak gue,,,” ujar raffi memperagakan apa yang ia ucapkan
Billy yang mendengar ucapan raffi hanya bisa membalasnya dengan tertawa lebih terbahak bahak di depannya.
“hahaha hhaha hduh fi, udah ,,,, udah nglawaknya udah perut gue sakit,,,,” ujar billy dengan memegangi perutnya
“ih iya bener,,,,”
“tapi kapan fi,, keburu di embat tuh si gigi,,,”
“ye elu bill, ntar kali,ni juga baru lulus SMA, ntar nih yah kalo gue udah punya rumah sendiri, udah punya apartemen sendiri, baru gue lamar gigi hahaha eh satu lagi udah punya mobil sport,,, yang mobilnya gini bil,,,, wuuiiiisssstt,,,” jelas raffi dengan semangat menirukan lekuk mobil yang ia impi impikan
Melihat kedua temannya yang sedang asik bergurau, nagita dan kia dengan baju SMA nya yang penuh dengan warna warni pilok. Menghampiri keduanya “kenapa loe  bill ketawa sampe kya gitu banget,,,,,”
“hahahaha iya ini si raffi hempt hempt,,,” belum sempat billy menjawab apa yang di tanyakan nagita, raffi segera mendaratkan tangannya tepat kemulut billy untuk menahan agar ia tak melanjutkan apa yang ia akan katakan.
“ah nggak billy Cuma mau bilang itu tadi ada yang kepleset  di sana,,,” ujar raffi dengan tangan yang masih berada di mulut billy
“ohh,,,” jawab gigi polos
“jangan ember loe bill,,,,,,,” bisik raffi terhadap billy, lalu billy mengangggukan kepalanya lalu raffi melepaskan bekapan tangannya terhaap billy
“hahahahahaha,,,,,,,,,,,”
“jengong bil,,, jengong,,,” sembari memberikan kode kepada billy
Lalu mereka pun berbincang bincang sebelum memutuskan untuk pergi dari sekolah untuk sekedar makan siang sebagai perayaan atas keberhasilan perjuangan mereka selama 3 tahun belakangan ini.

Friday, 14 November 2014

My Wife, My Little Friend (Part 17)

My Wife, My Little Friend (Part 17)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Part 17
Seketika mereka pun langsung tersentak bangkit dari tempat duduknya mendekati sang suster, “iya saya ibunya,,,” suara mama amy bergetar, jantungnya berdetak begitu cepat hingga terasa mau lompat tatkala menunggu apa yang akan di katakan sang suster.
“anak ibu telah mengeluarkan banyak sekali darah, sedangkan stok darah yang sama persis dengan golongan darahnya telah habis beberapa jam yang lalu,,,,,” jelas sang suster. dengan muka sedikit cemas mama amy yang mengetahui apa maksud suster tersebut pun segera menanyakan “apa golongan darah anak saya sus,,,,” suara mama amy sangat jelas menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang
“A,,,,,, A+” ujar sang suster, dengan muka semangat nagita menghampiri sang suster dengan masih ber uraian air mata “saya sus,,, golongan darah saya A+,,,,” sontak mama amy menoleh seketika mendengar perkataan nagita, “apakah kamu yakin nak,,,” dengan saling menatap satu sama lain nagita segera menyambut perkataan mama amy dengan anggukan mantap, “terimakasih nak terimakasih,,,,” tubuh mereka pun segera menyatu sama lain, pelukan dari seorang ibu yang selallu mendoakan anaknya dalam keadaan baik baik saja, air mata keduanya yang jatuh terlihat sangat jelas bagaimana besarnya harapan mereka untuk raffi agar dapat melewati masa tersulit saat ini.
Dengan langkah cepat, nagita mengikuti suster itu berjalan. Lorong demi lorong telah ia lewati hingga sampailah gigi di depan pintu kaca dengan tulisan LABOLATORIUM BANK DARAH.
Ketika pintu itu di buka terpampanglah beberapa ranjang kosong, dan terlihat seorang suster yang siap membantu gigi tuk mengeluarkan beberapa mili darahnya untuk raffi. Saat jarum di tusuk kan tepat di tengannya, gigi hanya bisa berdoa “bissmillahirokhmanirokkhim,,,, semoga dengan setetes darah ku ini, kamu bisa sembuh fi,,,, Amien,,,” bisik raffi dalam hati
Beberapa menit berlalu, dengan sebuah plester putih dilengannya nagita datang menghampiri mereka dengan langkah sedikit gontai. “apakah kamu baik baik saja,,,,” ujar mama amy, takut menambah kecemasan dari mama amy. nagita pun segera menjawabnya dengan senyum manis yang merekah di sudut bibirnya,,,, “ibu tenang saja,,,, saya jauh lebih baik ketika kita sama sama melihat raffi sehat kembali,,,,” air mata mereka pun jatuh lagi dalam pelukannya.
30 menit setelah pelukan itu terjadi, terbukalah pintu ruang oprasi untuk kedua kalinya. muncul lah seorang dengan perawakan tinggi, putih, dengan sedikit lemak di perutnya. Ia datang dengan mengenakan baju yang senada dengan warna maskernya. “gimana dok keadaan raffi anak saya,,,,” suaranya bergetar kembali tatkala menanyakan kondisi sang anak kepada dokter yang berada tepat di depannya.
“ibu tidak usah kuatir, anak ibu baik baik saja,,,,,,, tapi untuk saat ini raffi belum dapat di ajak bicara,,,,,” jelas sang dokter
Setelah sekian lama mama amy menunggu, akhinya ia telah mendapatkan jawaban yang sesuan dengan apa yang telah ia inginkan. Ucapan terimakasih tak henti-hentinya keluar dari mulut mama amy, air mata yang ia kemuarkan saat ini adalah air mata kebahagiaan, kelegaan dan ia berharap apa yang ia dengar bukanlah kata kata sementara. Ia berharap raffi akan baik baik saja untuk sekarang dan selamanya.
Dengan selang oksigen yang masih terlihat menempel di hidungnya, raffi berusaha menggerakkan jari tangannya untuk pertama kali semenjak kejadian itu.
“dok dokter,,,,, tolong dok, anak saya sudah sadar,,,” teriak wanita paruh baya yang senantiasa menemani dan memanjatkan doa doa untuk anaknya.
Dengan raut wajah sedikit cemas mama amy tak sedikitpun memalingkan wajahnya dari raffi yang sedang di tangani oleh dokter,,,, “berkat doa ibu dan semuanya, raffi telah melewati masa masa kritisnya,,,,,,,,” kata kata yang keluar dari mulut dokter tersebut bak air sejuk yang mengalir di tenggorokan yang kering.
“mah,,,,” itulah kata kata yang muncul saat ia membuka matanya
“alkhamdulillah,,,,,, raffi anak mamah,,,, kamu sudah sadar sayang,,,” ujar mama amy seraya tangannya tak henti hentinya membelai lebut kepala anakny, raffi.
“affi kenapa mah, kenapa mama nangis,,,,” ujar raffi lemas
“nggak, mamah nggak kenapa kenapa,,,, affi istirahat aja yah,,,”
Sejenak raffi mengerutkan dahinya dan mengingat apa yang telah terjadi, hingga mengantarkan nya pada tempat keramat ini. “gigi,,,, kia,,, nanas ,,, nisya” ujar raffi tatkala meihat sosok perempuan lain yang berada di sampingnya.
Beberapa menit setelah raffi siuman, datanglah billy dan irwan,,,, tok tok tok
“assalamuallaikum,,,,,”
“waallaikumsallam,,,”
“hah kamu menapa,,,” seru kia
“seeettt diem,,, panjang critanya,,,” ujar billy dengan nada berbisik agar ki mngecilkan volume suaranya.
Takut raffi terbangun dari tidurnya, kia segera menarik irwan untuk keluar di ikuti billy dan gigi. “kamu kenapa sih, kenapa jadi biru biru gini,,” seru kia yang kuatir akan kondisi yang terjadi pada pacar dan sahabatnya.
dengan menahan sakit, billy dan irwan menceritakan dengan deti apa yang sebenaryna terjadi hingga menyebabkan beberapa luka biru di wajah mereka. Selama mendengarkan penjelasan dari mereka, gigi terus menerus mengerutkan dahinya seraya menggigiti ujung kukunya. Ia sangat tidak menyangka bahwa di balik semua kejadian yang menimpa raffi ini atas perbuatan nanda yang tak lain adalah mantan kekasih dari nagita. Seketika nagita di landa rasa marah yang amat sangat pada nanda dan dirinya sendiri karena bukan tidak mungkin nagita menjadi salah satu penyebab dari semua kejadian ini. Dengan ber urai air mata gigi mengutarakan penyesalan yang di alami sahabatnya “,,, kii,,, gue nyesel ki,, kenapa gue nggak nahan raffi pas raffi mau ngebelain gue,,,, gini kan akhirnya dia yang nanggung semua, dia yang herus ngrasain sakit, yang harus ngrasaain itu semua tuh gue ki,,,, gue emang temen yang nggak berguna,,,,”
melihat temannya yang sedikit histeris, kia pun segera memeluk tubuh yang besarnya hampir sama dengan besar tubuhnya sendiri. “nggak gi,,, itu semua bukan kesalahan loe,,,, semua sudah di atur sama allah,,, kita berdoa aja yang terbaik buat kesembuah raffi,,,,,”
Di dalam kamar dimana raffi terbaringg lemas, terlihat seorang gadis yang senantisa menemani hari harinya. Iya, semenjak kejadian di hari itu nagita hampir tak pernah absen menjenguk raffi. Sempat terlihat beberapakali dengan telaten gigi menyuapkan sendok persendok bubur panas yang di sediakan suster dimana raffi di rawat. Ia melakukan ini semua bukan Cuma karena raffi adalah sahabatnya tapi ada suatu perasaan bersalahnya cukup besar ia rasakan terhadap raffi. Gigi merasa tak mungkin mampu tuk membalikan waktu agar semua tak terjadi, gigi hanya bisa membantu merawat kondisi raffi agar dapat kembali sehat seperti dulu.
Di sela sela canda an billy raffi mengucapkan kata kata yang membuat mereka diam seketika. “bill,,,, wan,,,,, makasih yah,,,,” mendengar kata kata itu irwan dan billy melihat satu sama lain
“buat???” ujar billy belaga bego
“gue udah tau semua dari gigi,,,,, dia udah crita semuanya,,,, tentang,,,”
“eh udah udah,,,, luapin kejadian itu, toh udah selsai semua kan,,,??” potong irwan
“eh tapi bentar deh ,,,, ngomong omong kenapa ada polisi sagala yah,,,,” seru bily
“ya elah bil,,,, gue nama berani ngebiarin loe nglakuin itu sendirian, jadi gue telpon dah tu polisi,,,”
“ohh gitu yah,,,” ujar billy yang sembari menggaruk garuk kepalanya
“eh bil, tapi gue hampir nggak percaya loh. sama loe ,,, ko bisa yah orang kya loe bisa mukulin orang sampe kya gitu,,,” tanyya irwan tidak percaya
“hemmm,,,,  jngan salah wan gini gini gue jawara di kampung gw,,,,,”
“di mana mang bill,,,” seru irwan
“jonggolllllllll,,,,”
Serentak mereka pun di buat tertawa oleh billy
“kan gue udah pernah bilang,,,,, kalo ada apa apa sama kalian, gw yang bakal maju duluan,,,,,” ujar billy serius
“hheheeh makasih yah,,, tapi jangn pada bilang mamah yah,,,, guea takut mamah tambah kuatir…”
“siiippp,,,” seru billy
Ke esokan harinya,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
“assalamullaikum,,,,,” seru gigi
“waallaikum salam ,,,, eh gigi masuk nak,,,” dengan mengecup tangan mama amy, nagita memberikan buah tangan nya yang ia dapat dari titipan mama rita untuk raffi
“ini tante, ada titipan dari mamah,,, katanya maaf belum bisa ke sini, salam aja buat tante sama raffi biar cepet sembuh,,,”
“waduh ko repot repot sih gi,,,, makasih yah, doain aja biar affi bisa cepet sebuh terus pulang deh,,,,”
“amien,,, amien,,,,” seru gigi dengan tulus
“oh iya gi kebetulan kamu ada di sini, tante titip affi bentar yah,,,, tante mau ke supermarket bentar,,,,,,,,,,”
“ah mamah emang affi barang apa di titip titip in segala,,,,” celetuk raffi saat mendengarkan ucapan ibunya
“hus kamu tuh,,,” seru gigi, seraya mengangguk sopan kepda mama amy untuk megIYA kan apa yang dikatakan mama amy
Dengan membawa tas rangselny gigi menghampiri raffi yang terlihat lebih baik
“loe ga capek apa gi tiap hari njengukin gue,,,,” ujar raffi pelan saat nagita duduk di kursi tepat disampng ranjang raffi
“kenapa,,, bosen??” ujar gigi
“ya nggak gitu,,, gue mah seneng seneng aja, tapi gue takut loe ke capean,,,, entar loe ikut sakit gimana,,,”
“udah ah loe nggak usah berfikiran macem macem deh,,,, oh iya kan bentar lagi ujian tuh nih gue udah bawain buku pelajaran buat loe, biar loe bisa tetep belajar disini,,,,” dengan semngat gigi mengeluarkan beberapa buku yang ia bawa dari rumah, untuk di letakkan di meja persis di samping raffi
Dengan memegang tangan kiri gigi yang sedang merapihkan buku bukunya, raffi mengagetkan gigi “makasih yah,,,,”, sejenak gigipun menghentikan kegiatannya dan memberi senyum manisnya kepada raffi.
Satu persatu buku dibuka, dengan penuh kesabaran gigi mengajarkan satu persatu soal yang memang raffi kurang menguasainya. Tapi jelas sangat terlihat raffi bukannya memperhatikan apa yang di jelaskan gigi melainkan melihat sosok orang yang memberikan penjelasan. Dengan pandangan yang teramat dalam hingga raffi tak menyadari sapaan dari gigi
“fiii,,, hello,,, paham nggak sih,,,,” ujar gigi yang melambai lambaikan tangannya tepat di depan muk raffi
“eh iya iya,,, mana,,,”
“iiiihhhh nyebelin banget sih,,, “ serutu gigi sebal
“iya princes,,,,, aku dengerin ko,,,,,” ujar raffi yang mengacak ngacak rambut gigi
Tanpa mereka ketahui tingkah lakunya diam diam telah di perhatikan seorang gadis yang sedari tadi berdiri di balik pintu, ia hanya melihat mereka dari sepotong kaca yang menempel pada pintu tersebut.