Friday, 24 April 2015

My Wife, My Little Friend (Part 36)


 My Wife, My Little Friend (Part 36)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,
Sekali lagi ini hanya khayalan semata jadi jangan menyambung-sambungkan degan kehidupan asli mereka.

Part 36

Pov Nagita
“assalamuallaikum,,,”
“fiii,,, Raffii,,,,,” aaiihh pasti dia belum pulang, sambil mengambil lempengan besi tipis di dalam tasku, aku coba untuk sejenak merebahkan badanku ini yang entah kenapa hari ini sangat terasa lelah.
”eeehh,, bau apa ini,,, jangan-jangan ,,,,,,”. bayangkan saja, saya sendirian disini tapi sekarang hidungku ini mencium bau masakan. Alhasil bau itu sukses membuatku terlonjak dari soffa yang sedari tadi aku tempati.
 Klontang,,,,,
Tuhkan bunyi apa lagi itu,-Raffiiii cepat pulang dirumah kita ada setannya,,,, aku takut- Sekarang aku hanya bisa menjingkut disofa dan berharap Raffi muncul di depanku dengan bantuan pintu Doraemon yang pasti, mengingat jam-jam sekarang sangat dipastikan jalanan macet disana-sini jadi untuk mengharapkan Raffi tiba-tiba muncul sekarang tanpa bantuan pintu Doraemon itu sangat susah. ”huh gue nggak perlu takut, manusia lebih sempurna dari pada setan. Jadi buat apa aku takut” meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja dengan semangat 2015 aku menggulung blezer ku. Yah memang tidak sepenuhnya tergulung.
Melihat didekatnya terdapat payung, maka aku berinisiatif untuk membawanya. Hanya untuk berjaga-jaga saja bisa saja kan suara gaduh didapur itu tuyul atau,,,, maling?? Hah apa?? Maling??
Maling kan sama-sama manusia, nanti kalo dia bunuh aku gimana?
Klontang,,,,
” aaaaaarrrrrrrrr.....” suara benda yang jatuh kembali sukses membuatku sekuat tenaga lari dan menyembunyikan kepalaku ditumpukan bantal sofa.
”ada apa,,,, ada apa.,,,,”
”hay gi ada apa,,” suara serak yang terdengar sangat panik
”ampun ampun tolong jangan  apa-apain aku,,,, aku pahit, nggak enak,,, ampun, ambil saja semua yang ada di sini, tapi tolong jangan bunuh aku” seruku pada seseorang yang aku yakini itu adalah maling. Yah aku sangat yakin siapa lagi coba orang yang masuk kerumah tampa ijin lalu meng-obrak-abrik seisi rumah, tanpa ada pemilik rumah tersebut. iyah pasti dia malingnya.
”hahahahahahahahahhahha”
Eh, kenapa itu maling malah ketawa. Dia pikir aku bisa dibohongi dengan suara ketawa paluhnya itu, mungkin saja kan  saat aku membalikan badan dia akan blam,,, memukul, menembak, membacok,,, aaaaarrrhhh gue nggak mau. Kembali aku menenggelamkan kepalaku semakin jauh.
Raffi kamu kemana siihh bisa bisanya kamu meninggalkan aku sendirian di saat suasana genting seperti ini. Bahkan menggubungiku pun tidak, sebenarnya kamu lagi apa. Awas saja nanti kalau ketemu, aku gigit dia sampe abis.
”ahahhahahha Gi, udah Gi berhenti berprilaku bodoh, perutku sudah sakit”
”hey kamu mau sampai kapan sembunyi terus kayak gitu”
Eh, bentar kayaknya gue pernah kenal deh suara itu. Bukan pernah tapi sering, bentar bentar,,,,,,,,
Raffi, iya itu suara Raffi.
Perlahan ku coba menyingkirkan bantal-bantal yang menutupi kepalaku, takut malingtersebut hanya memiliki suara yang sama dengan suamiku. Tapi kini aku meloton saat melihat sesosok pria tampan yang beberapa bulan terakhir menemani hari-hari ku ini. Di terlihat sedang memegangi perutnya menahan tawa didepanku hingga raut wajahnya berubah menjadi merah padam.
”kok kamu ada di sini,maling nya mana?” ujar ku panik
”hahahahha udah udah,,, hahahha”
”iiiihhh ko kamu malah ketawa sih,,, apanya coba yang lucu”
Setelah menarik nafas berulag kali, akirnya Raffi mendekatkan tubuhnya dan mengusap ujung kepalaku.
”kamu kenapa? Ko bisa ketakutan gitu”
Setelah aku menceritakan semuanya, Raffi kembali ketawa lebih keras di banding sebelumnya. ”itu aku sayang,,,”
”lagian mana ada maling yang bisa masuk diaparteman dengan penjagaannya sangat ketat syang” Mataku melotot bahkan hampir loncat dari tempatnya saat menyadari kebodohan ku itu. Aku yakin sekarang muka kuini pasti terlihat semerah tomat. Kenapa aku jadi bodoh sekali, kenapa aku tidak menebak itu Raffi bukan maling. Arrrgggghhh bodoh bodoh... bodoh....
”oke oke aku minta maaf tadi nggak jawab salam kamu, tapi bener bener nggak denger aku sayang,,, maaf yah” ujung kepalaku terasa basah karena ciuman dari Raffi.
”udah dong jangan manyun terus”
Mendengar bujukan Raffi, entah kenapa bibirku semakin manyun. Mungkin dia (Bibirku) iri dengan pelipisku yang sedari tadi entah sudah berapa kali sudah diciumnaya, hahah....
Cup,,,
Eh, kenapa Raffi tiba tiba cium bibirku? Apa jangan-jangan dia sudah bisa baca pikiran ku tadi. Pipiku semakin merona di buatnya
”aku suka banget liat pipi kamu yang merah setiap kali ku cium”
”apan sih dasar ke pe-de an,orang isi blus on ko”
”kenapa sih kamu masih gengsi, padahal hari ini tepat di 7 bulan kita menikah”
Hah? 7 bulan? Serius hari ini?  Segera aku melihat kalender yang terdapat dimeja.
”hemmm,,, lupa yah?” lagi lagi Raffi memperlakukan ku bak anak kecil degan mengacak-acak rambutku padahal usia kamu hanya terpaut lebih muda aku satu tahun. ”enggk ko, siapa yang lupa, aku inget ko”
”alah bohong banget, kalo inget kenapa tadi muka wakwaw-nya diliatin”
”iiihhhh” aku memukul-kan kalender ditanganku ke lengan Raffi berulang kali hingga ia megaduh dan memohon ampun agar aku segera menghentikan aksi brutalku ini.
Memang aku akui, raffi lah yang sering mengingat tanggal yang terdapat moment-moment penting didalamnya. Bukannya aku tida ingin mengingatnya tapi menurutku setiap hari, setiap waktu saat ku bersamanya itu sangat berarti. Jadi jika kau harus mengingat semuanya itu sama dengan menghabiskan separuh memoriku hanya untuk itu. Heheheh....
”hemmm, nggak kerasa yah udah 7 bulan kita nikah”
”semoga kita terus-terus kayak gini, rukun terus, sehat terus, semakin banyak rezekinya,,,”
”dan cepat diberi momongan” potongku saat merada di pelukan raffi
”iyah, pasti lucu deh anak kita nanti” aku hanya mengagguk dan menyembunyikan wajahku di dada raffi. Tiba-tiba air mataku menetes.

Pov Raffi
Aku memang merencanakan untuk pulang lebih awal agar bisa membuat sesuatu yang spesial. Tapi ditengah jalan aku pun membelokkan mobilku kesebuah resto ternama yang sering kita (aku dan gigi) kunjungi. Yah mengingat passion ku memasak hampir tidak ada, bayangkan saja memaak air pun tidak bisa.
 Pernah suatu ketika saat di rumah benar-benar tidak ada siapa-siapa aku coba memasak air untuk membuat kopi.
Tapi bukan kopi yang aku dapat melaikan panci bolong dan semprotan mamah lah yang aku terima.
Mungkin aku adalah pria yang dapat dikatakan sangat tidak romantis, tapi aku tidak akan membiarkan seorang pun yang membuat wanita ku berpindah kelain hati.
 walaupun saya rasa hal itu tidak mungkin tapi melihat akhir-akhir ini dia tengah dekat dengan pria itu maka apapun itu aku akan berusaha meluangkan waktu untuk melakukan hal yang dapat membuat dia sengang.
Sesampainya diapartemen. iYah, sudah beberapa bulan terakhir ini kami putuskan untuk tinggal disebuah aprtemen.
Sebenarnya aku lebuh suka tinggal di sebuah kompels tapi apa daya mengingat rumah ku itu jauh dari kantor tempat kita bekerja, maka saya putuskan untuk membeli apartemen ini.
aku segera mengeluarkan makanan tersebut dari tempatnya semula. Mengingat jalanan yang macet tadi, jadi sudah di pastikan makanan itu pasti sudah dingin. Aku pun berniat untuk menghangatkan makanan tersebut.
Klontang....
Suara alat masak yang jatuh untuk sekian kalinya ini membuat ku tak putus asa. Saat ku coba tuk memilih wadah yang pas aku pun terkaget karena suara triakan dari ruang tamu.
Pikiran ku kacau saat melihat nagita menyembunyikan separuh tubuh mungulnya di tumpukan bantal, terlihat tubuhnya bergetar sembari merancu kata kata yang sma sekali tidak aku mengerti.
Setelah mengetahui sebab dan alasanya aku pun tak bisa menahan tawa yang kaluar dari mulut ku ini.
Saat aku memeluk tubuh istriku ini, sembari mengungkapkan harapan harapan di 7 bulan anniversari pernikahan kita tiba-tiba dia menyembunyikan wajahnya di dada ku ini. Aku yakin ini bukan ekspresi takut yang semula ia rasakan, melainkan ia menyembunyikan air matana yang jatuh.
”hey,,, kamu kenapa” aku coba merenggangkan pelukan ku mencoba melihat mata indahnya. Tapi ia menolak dan semakin memeluk ku erah, alhasil akupun hanya membelai pucuk kepalanya hingga punggung agar dapat memberikan edikit ketenangan untuknya.
”maaf , maaf kan aku” aku mengerutkn dahi saat mendengar kata-kata yang muncul dari bibirnya
”kamu kenapa?”
”aku tau aku tidahlah sempurna, aku masih mempunyai banyak kekurangan bahakan,,,,”
”seeetttt,,,,, kamu jangan ngomong kayak gitu” potong ku segera
”bagai manapun kamu, kamu adalah seorang wanita yang sempurna utuku” aku menyeka sudut mata indahnya, melihatnya menangis seperti sekrang hatiku sangat nyeri. Walaupun ia sering menangis di depanku tapi Entah mengapa saat ini aku sangat benci malihatnya menangis, menangisi kekurangan atau kelemahannya sendiri. Atu tidak suka itu....
”kita belum diberikan momongan bukan karena aku ataupun kamu yang mempunyai kekurangan, hanya aja tuhan belum mempercayakan kita berdua sebagai ayah dan ibu. Allah masih ingin kita berdua memperbaiki sifat kita masing,,,, jdi kamu ngak usah sedih” aku tau dia menangis karena itu,
sebenarnya ada ataupun tidak adanya anak di antara kami aku akan selalu mencintai dia tapi aku juga mengerti posisi di asebagai seorang wanita yang akan selalu dicecar pertanyan tersebut.
Jadi wajar saja sekarang dia menangis karena itu, walaupun ekarang usia pernikahan kita masih sangatlah muda.
Di saat aku menatap kedua manik Nagita, tiba-tiba dia tersenyum. Senyum penuh arti, tapi jujur aku tidak tau apa yang membuatnya tersenyum.
 Mungkin ia baru menyadari ketampanan suaminya ini yang jika lewat didepan artis papan atas sekelas adam levine pun pasti ia akan minder. Yah, aku yakin itu,,,,
”sejak kapan kamu bisa memasak?”
Aku hanya bisa bergumam tak mengerti apa yang di bicarakan istriku ini karena asik menerka nerka apa yang ada dipikiran istriku in
”itu kamu pake apron, kamu mau memasak apa?”
Setelah mencerna maksud dari perkataan nagita, akupun memandangi tubuhku sendiri lalu memperlihatkan deretan gigi putihku pada Nagita.
 Tubuh terbalukan apron dan tangan kiriku masih menggenggam spatula yang terbuat dari kayu.
Setelah melihat kekacauan yang ada Akhirnya nagita lah yang mengambil alih semua pekerjaan ku yang berantakan tadi. setelah semuanya selesai kami pun makan dengan lahapnya.
Tidak ada kejadian romantis diatara kami. Bukan kata-kata romantis yang aku inginkan, hanya sebuah senyuman yang tersungging dari bibir nagita saja sudah cukup membalikan duniaku.
***********

Aku benar-benar kecewa saat ini, bagaimana mungkin seorang istri menolak ajakan makan siang dari suaminya sendiri hanya karena pria di masalalunya. Iya, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagai mana dia bisa dengan bebas tertawa dengan pria di depannya itu.
Apakah mungkin sekarang nagita lebih memilih dia dibanding aku yang notabene masih berstatus sebagai suaminya sekarang, dan akan aku pastikan setatus itu ada hingga aku mati.
 Aku tidak habis pikir, aku kira nagita adalah seorang yang tidak silau dengan harta tapi kini dihadapan ku dia begitu lepas tertawa bersamanya. Apakah merek sedang menertawakan diriku? Bodoh sekal kamu raffi.
Ku coba untuk menahan semua amarahku, berusaha berfikir sepositif mungkin. Toh aku juga sering berada dalam kondisi yang sama seperti dia saat ini. Cuma makan siang, oke sekali lagi raffi. Nagita Cuma makan siang oke, jadi buat apa aku marah,,,,,
Aku segera bangkit dari tempat dudukku meninggalkan client bersama asistent ku, sempat ku dengar salah satu dari mereka menanyakan mau kemana aku saat ini, tapi amarah dikepalaku membutakan dan menulukan semuanya bahkan untuk membuka mulutku saja aku tidak bisa.
Ekhem...
”eh,, raffi kamu ko disini” dari sorot matanya dapat ku lihat tak terlihat sorot ke kuatiran seperti apa yang aku takutkan. Ku perlihatkan senyum sebaik mungkin kepada kedua orang di depanku.
”iya ini lagi ada metting”
”Hp kamu mana,,,” tanya ku tegas, mengingat sedari tadi tak bisa dihubungi. Dania pun tak memberi tahu apa tenteng acara-nya ini.
”lowbatt,,” jawab istriku dengan menggoyangkan handpone yang didepanku.
”oh,,,”
”kamu bisa antar aku ke kantor??”
”mobil kamu??”
”oke” ku iya-kan permintaan nagita tanpa menunggu jawaban nagita, setelah ia menatap ku dengan isyarat –raffi ku mohon-
Setelah berbasa-basi aku segera mengantarkan istriku ke kantornya, dalam diam.
Setelah menyewa beberapa orang untuk menyelidiki siapa orang yang bersama dengan nagita difoto itu beberapa bulan yang lalu aku tau siapa dia sekarang. Rizal namanya, pria yang saat itu duduk satu meja dengan nagita adalah anak salah satu anak dari orang terkaya dinegri ini.
 Dia adalah mantan terakhir dari nagita ang sepat merebut perhatiannya dari aku. Membuat nagta menutup diri beberapa saat. Membuat aku harus berjuang mati matian mendapatkan cintanya kembali. Dan sekarang,,,, dia datang lagi. Tidak akan mengbulkan permintaanmu ijal.....
*********
Bertengger diposisi Wakil CEO memang melelahkan. dengan segudang tanggung jawab aku harus bisa mengorbankan waktu dengan kluarga bhkan tak jarang waktu istirahatku pun menjadi korban. disaat mereka yang bisa berleha-leha, bahkan sekarang jam 8 pun aku harus menuju disebuah restoran, yang terletak di dalam sebuah hottel ternama untuk metting dengan salah satu client.
 Masih belum terlalu malam memang, tapi mengingat kondisi tubuhku ini,,, ah Kalau saja bukan karena proyek besar itu, mungkin aku akan memilih bebrbaring slimut dengan selimut tebal menutupi sekujur tubuh, ah pasti nyaman sekali.
Aku mengerutkan dahi seraya menajamkan penglihatan ku saat mendapati sesosok siluet yang tak asing dimataku. Tapi kenapa dia berjalan dengan laki laku lain?
”sedang apa kamu di sini?” sapaku pada nagita saat berada di depan lif
”ra raffi,,,,” nagita terliht terkejut akan kehadiran ku saat ini.
Brukkk,,,,
Bagai mene bisa aku menahan lagi amarahku, jelas jelas didepan mata ku nagita bedua dengan pria itu di hottel. Sebenarnya apa yang akan mereka lakukan??
”aaaaarrrr,,, Raffi apa apa an kamu,,” Nagita menatapku dengan tajam, rupanya dia masih membela pria tersebut di depan ku. Tega sekali kamu gi,,,,
Setelah melayangkan satu bogem mentah dirahang Rizal, aku segera mencekram dan menarik paksa pergelangan nagita.
”Raffi,,, tunggu,,, Raffiii,,,, sakit,,” aku benar benar marah saat ini, teriakan hingga rontaan di tangan ku tak ku gubris sama sekali Hingga ia seperti terseret mengikuti kemana tubuhku pergi.
Aku benar benar marah saat ini, untung saja jalanan sedang bersahabat dengan ku juka tidak mungkin aku sudah menabrak kan mobilku ini kedepan kesemua yang menghalangi laju ku. 15 menit aku dan istriku, ah masih layakkah di aku panggil istri setelah apa yang dia lakukan di belakang ku ini.
Aku menutup pintu aprtemen dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan suara yang amat sangat keras. Setelah mengendurkan cekraman di tangan nya aku segera melempar nagita ke soffa, aku tau aku sedang marah api bukan berarti aku akan menyakiti dia dengan melemparya kesebarang tempat hingga ia merasa kesakitan.
”maaf,,,,, ma,, maaf,,,” ujar Nagita ku dengan suara serak
Terdengar Istriku manangis tersedu, meringkuk ketakutan di atas soffa. Sebenarnya nyeri sekali melihat ia menangis. tapi mengingat apa yang ia lakukan tadi aku hanya bisa diam meremas rambutku berulangkali mencoba menenangkan diriku sendiri.
Setelah mengatur nafas dan menenangkan dirku sendiri, aku beranikan diri tuk bertanya. walaupun aku tau jawabannya pasti akan membuat hatiku semakin nyeri, tapi apapun itu aku harus menyelesaikan ini.
”kamu sedang apa disana”
”a,,,ku,,,, aku hanya,,,”
”liat mata ku,,,” dengan tidak sabar aku memegang erat rahangnya mencoba mengarahkan matanya untuk menatapku saat bicara.
”ini semua ,,,,salah,,, salah faham” suaraya begitu parau, aku tau dia ketakutan meluhatku sedang kesetanan sekarang
”dia hanya,,, ingin,, meng, mengantarku pulang” sudah sangat jelas aku mendengar isakan dari bibirya hingga Suaranya kini bergerar
”pulang ? puleng kemana? Kamu lupa rumahmu dimana?” teriakku dengan puenuh emosi
”dia hanya ingin mengambil file dan menandatanganinya Raffi””bodoh,,, itu semua hanya akal-akalannya saja”
”kenapa kamu tidak menelfonku saja? hah,,,” lagi lagi aku takbisa mengendalikan volume suaraku
”handphone kamu mati Raffi,,,” nagita mencoba memcoba membalas menatapku dengan sangat tajam
”begitu kah caranya kamu membalas semua ini gi,,,,” kini aku lebih memilih mencekram rambutku, tak terasa air Mataku pun turun radi tempatnya setelah sekian lama ku coba menahan.
”aku salah apa,,,, tolong jawab aku gi,,,aku salah apa,,, sampai kamu tega main belakang seperti ini,,” suaraku memelan
”jika kamu sudah jenuh dan bosan dengan ku, bukan kayak gini caranya”
”aku kecewa sama kamu Gi” aku menggerakan tubuhku menepis tangan Nagita yang berusana memeluk ku dari belakang
Segera ku ambil kunci mobil dan berlalu pergi,
”raffi,,, fii,, rafffii,,, jangan pergi,,, ku mohon Raffi dengarkan aku,, Raffi aku sayang kamu,,, tolong jangan tinggalkan aku,, rafiiii”
Mendengar kata-kata itu, membuat hatiku semakin nyeri. Bagaimana bisa seseorang yang masih mengaku sayang tapi bisa-bisanya ber-kencan dengan mantan pacarnya dan masih bisa memberikan sejuta alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Apa itu yang di sebut sayang?


************
Huaaaa ko jadi dram banget gini yah,,,,
awalnya pengen bikin cerita yang romantiss dan bikin nagis eh malah jadi gaje abis,,, 
maaf maaf,,,,,
Oke cuzz kasih coment and likenya,,,,
Ceritanya masih  kurang panjang ???
Insya allah kalo nggak keluar dari tema, 1 part lagi END
Maaf yah kalo masih ada typo or kata-kata yang kurang sesuai dengan EYD. Eikye masih belajar nulis, jadi harap maklum.
Terlimakasih sudah meluangkan waktunya,,,,,
#kiss #kiss

Kira-kira yang sedang di lakukan nagita dengan ijal di hotel itu apa yah?
 
Add and follow dulu keleus,,,,
FB           : Zulva Nadirotu        
Wattpad    : @ZulvaNadirotu
TW          : @Zulfaupith
#Promo #Again



Friday, 17 April 2015

My Wife, My Little Friend (Part 35)



My Wife, My Little Friend (Part 35)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,

Part 35
”maaf, ruangan ibu nagita lantai berapa yah?” ujar Raffi pada seorang wanita yang duduk dibalik meja bertuliskan Resepsionis. Melihat kedatangan seorang Raffi yang memang sedari dulu sukses membuat mahluk bernamakan wanita melupakan dunianya sejenak, itu juga berlaku pada wanita tersebut. 
Ia yang sedari tadi memoleskan sesuatu (baca: bedak, lipstik,) diwajahnya, seketika menghentikan kegiatannya. Raffi yang merasa tak mendapat jawaban apa-apa, selain tatapan mesum si-resepsionis itu. Merasa jengah, akhirnya Raffi ber-Dehem untuk mengahiri khayalan wanita bersebut, yang entah apa itu.
”oh,, eemm,,, bu nagita yah pak,,, emm,, di lantai 9 pak”
”oke terimakasih” akhirnya setelah sekian lama menjadi objek khayalan si wanita resepsionis itu, Raffi dapat terbebas dan tak perlu menunggu lama lagi ia segera melangkahkan kakinya menuju ruangan yang disebutkan.
 Raffi memang belum pernah masuk ke dalam kantor Nagita, dan Ia sengaja tak memberikan kabar ke Nagita bahwa ia akan menemuinya siang ini. Jadi wajar saja Raffi harus bertanya pada wanita resepsioni itu terlebih dahulu. Memang raffi beberapakali mengantar Istriya ke tempat ini tapi tak pernah masuk. 
Ia hanya mengantar sampai lobi dan langsung pergi menuju kantornya sendiri, yah liat saja betapa sibuknya raffi sekarang. Apalagi semenjak ia mengerjakan projek Rahasianya itu, makan siang bersama istripun jarang sekali ia rasakan. Makadari itu, sekarang Raffi datang menemui Nagita sebagai surprise dan ingin mengajak Nagita makan siang bersama.
Tok Tok...
”masuk,,”
Setelah mendengar suara dari dalam ruangan Raffi segera membuka pintu dan menyiapkan senyuman terbaiknya sekarang.
”Raffi,,, ngapain?” ujar nagita kanget dan senang karen kedatangan sang suami disela-sela kegiatan kantor yang, yah begitulah.
”nggak suka yah di datengin suaminya?”
Nagita langsung bangkit dari duduknya dan segera memeluk Raffi yang masih diam di depan pintu. Seperti biasanya, dimanapun mereka berada Raffi selalu menyempatkan mencium Nagita. Entah itu hanya di kening-nya, dan Nagita suka itu. Tapi sekarang mengingat mereka tengah berada diruangan khusus yang hanya ada mereka berdua di dalamnya, Raffi mendekatkan bibirnya pada Nagita.
 Mereka berciuman cukup lama, sebelum akhirnya Nagita sendiri yang menyudahi moment itu setelah mencium sesuatu yang membuat cacing diperutnya meronta-ronta. Nagita mencoba menghirup dalam-dalam beberapa kali untuk memastikan dan memang bau itu sangat menggirahkan.
”eemmm bau apa itu, ko enak banget”
Terdengar decak kekecewaan dari Raffi, tapi mengetehui ke-asyikan nya terhenti karena kantong plastik yang dibawanya.
”ini hidung kalo urusan bau-bau makan aja cepet banget responnya” ujar Raffi sembari menggesekkan hidungnya pada hidung Nagita, gemas. Nagita hanya nyengir kuda di depan suaminya.
”ayok deh cuss kita makan”
”kok kamu tau aku lagi kelaperan?”
”ya iya lah, kan kita sehati yank jadi aku tau apa yang kamu rasakan sekarang”
”idih, lebay banget”
”yah abisnya kamu pake nanya, liat tuh jam berapa”
Raffi menunjuk jam yang bertengger di dinding dengan dagunya sembari mengeluarkan makanan dari kotak yang ia bawa ”semua orang juga bakal laper kalo jam segini yank” tambah Raffi
Lagi lagi Nagita hanya nyengir kuda di depan suaminya, sembari duduk dengan tatapan tidak sabar menunggu kannnnya siap untuk di santap.
”kamu itu harus inget waktu kalo kerja, aku nggak mau yah liat kamu sakit Cuma karena kamu telat makan” ujar raffi lagi dengan monyodorkan satu porsi makanan kesukaan nagita ”RAMEN”.
”iyaaaa,,, ini juga baru sekali doang ko lupa” Nagita mulai menyuapkan ramen dengan sangat antusias.
”iyaa tapi jangan sampai lupa sama suaminya ajah” ujar raffi sembari pura-pura memandang sekeliling ruangan.
Sejenak Nagita menghentikan gerakannya mengunyah, ”becanda kali yank” raffi segera terenyum dan mengacak-acak rambut Nagita saat melihat perubahan raut wajah istrinya.
”kamu mah gitu ngomongnya”ujar Nagita dengan mulut penuh ramen.
Dengan tersenyum Raffi mengambil tisue dan mengelap barcak ramen di sudut bibir Nagita. Lagi lagi nagita nyengir kuda mendapat perlakuan tersebut.
”permisi bu Nagita,,”
”oh maaf  bu,, nanti saya masuk lagi”
“oh nggak papa Ran, udah selesai juga kok kita, kenapa?” kemudian wanita tersebut mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan
“di depan ada yang mau ketemu,,,,”
“oke lima menit lagi”
”sibuk banget sih istri aku” dengan gemas Raffi mencubit pipi Nagita sembari mengaecup keningnya sekilas sebelum pergi ke toilet.
Tok tok tok
”Iya masuk” setelah membalikn badannya, Nagita diam dan syok akan sesosok yang berdiri di depan pintu ruangannya.
”Rizal?” gumam Nagita
”hay Gi” sapa Ijal dengan senyuman manisnya, tapi teryata itu tak membuat Nagita berniat membalas senyumannya. Bahkan Nagita hanya diam di tempat bak patung, entah kenapa sendi sendinya susah sekali untuk digerakkan saat ini.
”yank,,, Aku langsung balik ke kantor yah” seru Raffi embari membenahi kemejanya
”oh maaf” ujar Raffi saat menyadari ada orang lain diruangan ini
”Eee,, silahkan duduk” tak mau membuat Raffi curiga, Nagita segera mempersilahkna Rizal untuk duduk.
”siapa” bisik Raffi tepat ditelinga nagita saat menyadari wajah yang tidak asing baginya
”client aku yank” ujar Nagita pelan
”oh iya bapak Rizal perkenalkan ini RAFFI ahmad suami saya dan Raffi ini bapak Rizal  client saya,,,” tak lama kemudian mereka saling berjabat tangan dan bertukar seyum ramah satu sama lain. Nagita sengaja tidak mengenalkan siapa Rizal di masalalunya kepada Raffi, ia tak ingin ada perselisihan diantara mereka (Nagita, Raffi, dan Rizal) karena buat apa mempermasalahkan masalalu. Toh semua tidak bisa di rubah lagi, masalalu hanya untuk bahan pembelajaran bukan sebagai bahan pertengkaran kita nanti. Jadi Nagita hanya memperkenalkan Rizal sebagai client nya, toh memang ia benar-benar clien-nya kan? Profesional.
”ya udah yank aku balik ke kantor dulu yah, bentar lagi ada metting”
”iyah,, ati ati yah” ujar Nagita sembari memakaikan tuxedo kebadan suaminya tanpa menganggap kehadiran orang lain diruangan ini yang mulai muak dengan adegan di depannya.
”ya udah, kamu ati ati yah” ujar Raffi saat Nagita mencium punggung tangan suaminya, tak ketinggalan juga Raffi mencium pelipis Nagita dengan hangat.
”mari pak Rizal saya pergi dulu” sapa Raffi ramah yang di sambut senyum ramah pula dari Rizal. Nagita berjalan mengantar Raffi keluar ruangan.
Sebelum Raffi melangah kan kakinya menjauh dari ruangan Nagita, ia sempat berbalik dan melihat sosok pria didalam sana.
”kamu ati ati yah” Raffi mengecup punggung tangan Nagita saat Nagita menganngukan kapalanya. Raffi merasa tak tenang jika ia harus menginggalkan istrinya akan berada dalam satu ruangan hanya dengan pria tersebut. 
Memang Rizal terlihat orang yang baik, tapi entah lah perasaannya sekarang mengatakan tersebut hingga ia sangat berat untuk meninggalkannya. Jika saja tidak ada metting itu, mungkin Raffi lebih memilih tinggal di sana menemani istrinya. Tapi pikiran negatif itu segera di buang jauh-jauh oleh Raffi, mengingat ia juga sering kali berada dalam suatu ruangan dengan seorang wanita dan tidak terjadi apa-apa selama ini.
”bye,,,” Raffi melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut
***
”apakah kalian setiap hari melakukan itu” ujar Rizal dengan nada dingin
Nagita terlihat mengangkat sebelah alisnya, ”kalian terlihat sangat bahagia” Nagita tersenyum sinis saat mendengar ucapan rizal.
”langsung saja, ada keperluan apa anda kemari?”
Rizal tersenyum sinis, ”ucapan mu terdengar sangat kaku”
Setelah melihat tatapan sinis Nagita, akhirya Rizal mengalah dan menghembuskan nafasnya jengah ”oke, saya ingin merubah wallpaper diruang kerja saya” Rizal berusaha profesional
”hah, bukannya anda sendiri yang meilih desainnya?”
”iya memang, tapi bukankah itu ruang kerja saya? Jadi,,,”
”oke, seperti apa yang anda inginkan?” potong Nagita
Mereka terlihat laru dalam pembahasan desain yang di ingin kan Rizal, entah karena memang Rizal ingin mengubahnya atau karena itu semua di sengaja agar ia lebih sering bertemu dengn Nagita. Karena hampir semua bagian rumahnya yang didesain ulang. Beberapa kali Rizal terlihat memandangi nagita penuh arti.
”gi,,”
”heumm,,” Nagita sibuk dengan coretan di kertas miliknya tanpa berniat mealingkan wajahnya menghadap Rizal.
”sampai kapan aku harus menunggu kamu untuk memaafkan ku?” tiba-tiba Nagita menghentikan aktifitasnya setelah mendengar apa yang dikatana Rizal, di tambah panggilan mereka telah berubah dari saya dan anda menjadi aku dan kamu. Namun Nagita berusaha mengalihkan perhatiannya dengan menunjukan hasil goresan pensilnya pada Rizal.
”sepertinya ruangan kerja anda lebih cocok menggunakan desain seperti ini” dengan menunjukan selembar bertas pada Rizal
”Gi,,, please aku udah muak dengan semua ini, aku nggak mau di diemin terus sama kamu” Nagita mengerutkan dahinya
”bukankah dari tadi saya sudah berbicara panjang lebar dengan anda?” Nagita bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri meja kerjanya. Karena sedari tadi ia duduk di sofa tepat di pojok ruangan ini.
”bukan itu yang aku maksud gi,,,”
”apakah sebegitu bencinya kamu sama aku, sampai-sampai kamu nggak bisa lagi bersikap ramah seperti dulu”
”semuanya udah beda Jal, loe Cuma masalalu gue dan gue harap loe bisa bersikap profesional” seru Nagita dengan muka merahnya, rupanya Nagita mulai dihinggapi emosi yang siap meledak sebentar lagi.
”dan ingat gue udah punya suami,” imbuh nagita sembari menunjukan cicin ema utih bertahtakan berlian di hadapan Rizal
”iya gi, aku tau, aku cukup sadar tindakan ku ini terlalu berani”
”tapi tolong, beri aku kesempan satu kali lagi Gi, aku janji nggak akan mengulangi kesalahan ku dulu” rizal memang sosok yang pantang menyerah sejak dulu, bahkan ia juga bisa menghalalkan segala cara agar seua keinginannya dapat tercapai. Tapi nagita tak sedikitpun berniat akan mengabulkan keinginan rizal, jadipercuma saja ia memohon, bersujupun jawabanya satu yaitu TIDAK.
”Rizal asal loe tau, gue udah bahagia dengan kehidupan gue sekarang, dengan Raffi gue bisa tau makna dari kehidupan ini. Gue cinta sama Raffi gue bahagia sama Raffi jadi Jangan harap loe bisa masuk dikehidupan kita”
Rizal terlihat geram akan ucapan nagita, rahangnya mengaras saat nama Raffi di sebut. ”oke maaf gi, mungkin aku udah lancang ngomong ini ke kamu” rizal menghembuskan nafas beratnya
”aku Cuma pengen kamu tau ini semua, tapi sekarang aku juga sadar kamu sudah menjadi milik lelaki itu”
”selamat yah gi” imbuh Rizal
”aku harap kita bisa berteman, yah setidaknya sebagai patner kerja” ujar Rizal dengan pelan
”seprtinya saya butuh istirahat, jadi metting kita kali ini cukup sampai disini silahkan bapak Rizal bis meninggalkan ruangan saya” ujar nagita tanpa melihat sosok yang dituju.
Nagita memit pelipisnya pelan, saat Rizal tak lagi terlihat di ruangannya.
****
Setelah kejadian itu, Nagita terlihat sedikit memberi jarak lebih pada rizal. Ia sering menolak ajakan metting jika dilakukan hanya berdua saja. Hingga pada hari ini ia tak bisa menolak metting yang pada awalnya ada amira yang akan menemani, tapi ditengah jalan Nagita mendapat telefon dari amira yang mengabarkan ia tak bisa menemani metting kali ini karena anak semata wayangnya tiba-tiba sakit.
Pov Billy
”Suapin kali nas, gitu amat sama tunangan sendiri” sekarang kita (gue ama nanas) lagi makana siang di caffe Potdjok sama si tembem Nanas tunangan gue haha, 2 bulan yang lalau gue sama Nanas resmi tunangan. Yah belum tau juga sih nikahnya kapan, secara Nanas kan masih kuliah dan semuanya nggak kasih restu buat kita nikah buat sekarang. Terutama si-aa Raffi, iyah mulai sekarang gue harus membiasakan diri meaangdil dia dengan panggilan AA. Asisten Apoteker? Bukan, AA itu semacam panggilan kaka laki laki orang sunda.
”eemmmm enaak” makanan paling enak adalah makana yang disuapkan langsung dari tangan orang yang kita sayang. selain dari suapan mamah gue, nanas adalah orang kedua yang bisa menyulap makanan sesederhana mungkin menjadi makanan yang super duper lezat hanya dengan menyuapkan nya saja kedalam mulut gue ini.
 Entah maruk atau apa, selalu itu yang gue rasain selama ini. Selalu nyaman dan bisa mengubah hari-hari ku yang penuh awan kabut menjadi hari-hari yang penuh bunga-bunga sekejap saja saat aku melihat senyum serukut di pipi si tebem ini. Itu yang menjadikan gue, kekeh meminta dan memohon ke-keluaranya agar dapat mengikat kita dalam ikatan pertunangan (lebay).
”photo dulu kali hun” mungkin semua orang bilang gue lebay (emang) karena jika kalian bisa buka akun instagram Gue mungkin hampir setiap hari gue posting salah satu photo gue sama si tembem kesayangan gue ini.
saat gue coba memperhtikan photo yang baru saja gue posting ternyata di belakan terdapat sosok yang sangat tidak asing ”ih ada si nagita tuh,”
”hust” nanas mengikuti arah dimana gue menunjuk seseorang dengan dagu gue yang hampir terlihat ada dua.
”eh iya maksudnya mbak gigi” lagi-lagi gue lupa memberikan embel-embel di depannya. sebenarnya nagita tak mempermasalahkan akan panggilan itu, namun keluarga nanas termasuk dalam keluarag yang sangat menghormati silsilah dari keluarga. Jadi walaupun itu seorang bayi tapi jika lagir dari kakan mama amy maka bayi itu akan di panggil kaka. Mengingat gigi adalah keturunan jawa, padang dan manado jadi gue mutusin buat panggil dia dengan sebutan mbak (nanas juga dari dulu memangil seperti itu) dari pada uni nanti salah sebut berabe kan (berisik sekali si billy). mbak gigi dan aa raffi oke nggak masalah.
”eh bentar sama siapa itu,,,”
”patner kerja kali, ya udah gue samperin dulu ah” akhirnya setelah nanas mencoba say hay dengan kakak iparnya, gue haya melambaikan tangan kearah mereka.
Dari pada gue bengong sendirian, akhirnya gue coba ambil Handphone. Awalnya hanya cek notif yang mulai banyak bermunculan. Tapi dengan iseng gue coba bbm si-aa raphi.
Billy : phi coba deh loe buka instagram gue
Ah ngapain juga gue buka buka instagram loe, : Raffi
paling loe mau pamer photo ama nanas kan... dasar alay loe          
Billy : tadi gue photo sama si nanas eh nggak sengaja liat
       bini loe ikut ke photo
yah masa si nagita udah ketularan ke-alay an loe seh aduh : Raffi
gawat ini kudu buru-buru di vaksin
Billy : ih si a raphi pake ngelawak lagi,
       Aduh udah deh panggil gue raffi aja, gue geli loe panggil gue Aa : Raffi
Billy : Bini loe lagi ama cowok, ganteng pula
1 menit, 2, 3,5 menit
Billy : ping!!!
Billy : ping!!!
Billy : ping!!!


******************
Hay guys,,,,,
Saya kembali lagi dengan membawa cerita gaje ku,,,
Kalian pasti jenuh yah baca cerita yang semakin gaje ini. Huft maaf
Aku bener bener lagi nggak ada ide,,,, entah kenapa
Tugas-tugas pun semakin menumpuk, jadi buat bisa konsen lagi ke CERBUNG ini pun susah. Maaf yah guys....
Tapi aku tetep tunggu kritikan, hujatan (jangan nge-bully tapi yah nanti gue bisa nangis berhari-hari #heheheh) dari kalian semua. Add and follow dulu keleus,,,,
FB  : Zulva Nadirotu           Wattpad    : @ZulvaNadirotu
TW : @Zulfaupith
#Promo #Again