My Wife,
My Little Friend (Part 35)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat
kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,
Part 35
”maaf, ruangan ibu nagita lantai berapa yah?” ujar Raffi pada
seorang wanita yang duduk dibalik meja bertuliskan Resepsionis. Melihat
kedatangan seorang Raffi yang memang sedari dulu sukses membuat mahluk
bernamakan wanita melupakan dunianya sejenak, itu juga berlaku pada wanita
tersebut.
Ia yang sedari tadi memoleskan sesuatu (baca: bedak, lipstik,) diwajahnya,
seketika menghentikan kegiatannya. Raffi yang merasa tak mendapat jawaban
apa-apa, selain tatapan mesum si-resepsionis itu. Merasa jengah, akhirnya Raffi
ber-Dehem untuk mengahiri khayalan wanita bersebut, yang entah apa itu.
”oh,, eemm,,, bu nagita yah pak,,, emm,, di lantai 9 pak”
”oke terimakasih” akhirnya setelah sekian lama menjadi
objek khayalan si wanita resepsionis itu, Raffi dapat terbebas dan tak perlu
menunggu lama lagi ia segera melangkahkan kakinya menuju ruangan yang
disebutkan.
Raffi memang belum pernah masuk ke dalam kantor Nagita, dan Ia sengaja
tak memberikan kabar ke Nagita bahwa ia akan menemuinya siang ini. Jadi wajar
saja Raffi harus bertanya pada wanita resepsioni itu terlebih dahulu. Memang
raffi beberapakali mengantar Istriya ke tempat ini tapi tak pernah masuk.
Ia
hanya mengantar sampai lobi dan langsung pergi menuju kantornya sendiri, yah
liat saja betapa sibuknya raffi sekarang. Apalagi semenjak ia mengerjakan
projek Rahasianya itu, makan siang
bersama istripun jarang sekali ia rasakan. Makadari itu, sekarang Raffi datang
menemui Nagita sebagai surprise dan
ingin mengajak Nagita makan siang bersama.
Tok Tok...
”masuk,,”
Setelah mendengar suara dari dalam ruangan Raffi segera membuka
pintu dan menyiapkan senyuman terbaiknya sekarang.
”Raffi,,, ngapain?” ujar nagita kanget dan senang karen
kedatangan sang suami disela-sela kegiatan kantor yang, yah begitulah.
”nggak suka yah di datengin suaminya?”
Nagita langsung bangkit dari duduknya dan segera memeluk Raffi
yang masih diam di depan pintu. Seperti biasanya, dimanapun mereka berada Raffi
selalu menyempatkan mencium Nagita. Entah itu hanya di kening-nya, dan Nagita suka
itu. Tapi sekarang mengingat mereka tengah berada diruangan khusus yang hanya
ada mereka berdua di dalamnya, Raffi mendekatkan bibirnya pada Nagita.
Mereka
berciuman cukup lama, sebelum akhirnya Nagita sendiri yang menyudahi moment itu
setelah mencium sesuatu yang membuat cacing diperutnya meronta-ronta. Nagita
mencoba menghirup dalam-dalam beberapa kali untuk memastikan dan memang bau itu
sangat menggirahkan.
”eemmm bau apa itu, ko enak banget”
Terdengar decak kekecewaan dari Raffi, tapi mengetehui
ke-asyikan nya terhenti karena kantong plastik yang dibawanya.
”ini hidung kalo urusan bau-bau makan aja cepet banget
responnya” ujar Raffi sembari menggesekkan hidungnya pada hidung Nagita, gemas.
Nagita hanya nyengir kuda di depan suaminya.
”ayok deh cuss kita makan”
”kok kamu tau aku lagi kelaperan?”
”ya iya lah, kan kita sehati yank jadi aku tau apa yang
kamu rasakan sekarang”
”idih, lebay banget”
”yah abisnya kamu pake nanya, liat tuh jam berapa”
Raffi menunjuk jam yang bertengger di dinding dengan
dagunya sembari mengeluarkan makanan dari kotak yang ia bawa ”semua orang juga
bakal laper kalo jam segini yank” tambah Raffi
Lagi lagi Nagita hanya nyengir kuda di depan suaminya,
sembari duduk dengan tatapan tidak sabar menunggu kannnnya siap untuk di
santap.
”kamu itu harus inget waktu kalo kerja, aku nggak mau yah
liat kamu sakit Cuma karena kamu telat makan” ujar raffi lagi dengan
monyodorkan satu porsi makanan kesukaan nagita ”RAMEN”.
”iyaaaa,,, ini juga baru sekali doang ko lupa” Nagita mulai
menyuapkan ramen dengan sangat antusias.
”iyaa tapi jangan sampai lupa sama suaminya ajah” ujar
raffi sembari pura-pura memandang sekeliling ruangan.
Sejenak Nagita menghentikan gerakannya mengunyah,
”becanda kali yank” raffi segera terenyum dan mengacak-acak rambut Nagita saat
melihat perubahan raut wajah istrinya.
”kamu mah gitu ngomongnya”ujar Nagita dengan mulut penuh
ramen.
Dengan tersenyum Raffi mengambil tisue dan mengelap
barcak ramen di sudut bibir Nagita. Lagi lagi nagita nyengir kuda mendapat
perlakuan tersebut.
”permisi bu Nagita,,”
”oh
maaf bu,, nanti saya masuk lagi”
“oh nggak
papa Ran, udah selesai juga kok kita, kenapa?” kemudian wanita tersebut mengurungkan
niatnya untuk keluar dari ruangan
“di depan ada yang mau ketemu,,,,”
“oke lima menit lagi”
”sibuk banget sih istri aku” dengan gemas Raffi mencubit
pipi Nagita sembari mengaecup keningnya sekilas sebelum pergi ke toilet.
Tok tok tok
”Iya masuk” setelah membalikn badannya, Nagita diam dan
syok akan sesosok yang berdiri di depan pintu ruangannya.
”Rizal?” gumam Nagita
”hay Gi” sapa Ijal dengan senyuman manisnya, tapi teryata
itu tak membuat Nagita berniat membalas senyumannya. Bahkan Nagita hanya diam di
tempat bak patung, entah kenapa sendi sendinya susah sekali untuk digerakkan
saat ini.
”yank,,, Aku langsung balik ke kantor yah” seru Raffi embari
membenahi kemejanya
”oh maaf” ujar Raffi saat menyadari ada orang lain
diruangan ini
”Eee,, silahkan duduk” tak mau membuat Raffi curiga, Nagita
segera mempersilahkna Rizal untuk duduk.
”siapa” bisik Raffi tepat ditelinga nagita saat menyadari
wajah yang tidak asing baginya
”client aku yank” ujar Nagita pelan
”oh iya bapak Rizal perkenalkan ini RAFFI ahmad suami
saya dan Raffi ini bapak Rizal client
saya,,,” tak lama kemudian mereka saling berjabat tangan dan bertukar seyum
ramah satu sama lain. Nagita sengaja tidak mengenalkan siapa Rizal di
masalalunya kepada Raffi, ia tak ingin ada perselisihan diantara mereka (Nagita,
Raffi, dan Rizal) karena buat apa mempermasalahkan masalalu. Toh semua tidak
bisa di rubah lagi, masalalu hanya untuk bahan pembelajaran bukan sebagai bahan
pertengkaran kita nanti. Jadi Nagita hanya memperkenalkan Rizal sebagai client
nya, toh memang ia benar-benar clien-nya kan? Profesional.
”ya udah yank aku balik ke kantor dulu yah, bentar lagi
ada metting”
”iyah,, ati ati yah” ujar Nagita sembari memakaikan
tuxedo kebadan suaminya tanpa menganggap kehadiran orang lain diruangan ini
yang mulai muak dengan adegan di depannya.
”ya udah, kamu ati ati yah” ujar Raffi saat Nagita mencium
punggung tangan suaminya, tak ketinggalan juga Raffi mencium pelipis Nagita dengan
hangat.
”mari pak Rizal saya pergi dulu” sapa Raffi ramah yang di
sambut senyum ramah pula dari Rizal. Nagita berjalan mengantar Raffi keluar
ruangan.
Sebelum Raffi melangah kan kakinya menjauh dari ruangan Nagita,
ia sempat berbalik dan melihat sosok pria didalam sana.
”kamu ati ati yah” Raffi mengecup punggung tangan Nagita saat
Nagita menganngukan kapalanya. Raffi merasa tak tenang jika ia harus menginggalkan
istrinya akan berada dalam satu ruangan hanya dengan pria tersebut.
Memang Rizal
terlihat orang yang baik, tapi entah lah perasaannya sekarang mengatakan
tersebut hingga ia sangat berat untuk meninggalkannya. Jika saja tidak ada
metting itu, mungkin Raffi lebih memilih tinggal di sana menemani istrinya.
Tapi pikiran negatif itu segera di buang jauh-jauh oleh Raffi, mengingat ia
juga sering kali berada dalam suatu ruangan dengan seorang wanita dan tidak
terjadi apa-apa selama ini.
”bye,,,” Raffi melambaikan tangannya dan pergi
meninggalkan ruangan tersebut
***
”apakah kalian setiap hari melakukan itu” ujar Rizal dengan
nada dingin
Nagita terlihat mengangkat sebelah alisnya, ”kalian terlihat
sangat bahagia” Nagita tersenyum sinis saat mendengar ucapan rizal.
”langsung saja, ada keperluan apa anda kemari?”
Rizal tersenyum sinis, ”ucapan mu terdengar sangat kaku”
Setelah melihat tatapan sinis Nagita, akhirya Rizal mengalah
dan menghembuskan nafasnya jengah ”oke, saya ingin merubah wallpaper diruang
kerja saya” Rizal berusaha profesional
”hah, bukannya anda sendiri yang meilih desainnya?”
”iya memang, tapi bukankah itu ruang kerja saya? Jadi,,,”
”oke, seperti apa yang anda inginkan?” potong Nagita
Mereka terlihat laru dalam pembahasan desain yang di
ingin kan Rizal, entah karena memang Rizal ingin mengubahnya atau karena itu
semua di sengaja agar ia lebih sering bertemu dengn Nagita. Karena hampir semua
bagian rumahnya yang didesain ulang. Beberapa kali Rizal terlihat memandangi
nagita penuh arti.
”gi,,”
”heumm,,” Nagita sibuk dengan coretan di kertas miliknya
tanpa berniat mealingkan wajahnya menghadap Rizal.
”sampai kapan aku harus menunggu kamu untuk memaafkan
ku?” tiba-tiba Nagita menghentikan aktifitasnya setelah mendengar apa yang
dikatana Rizal, di tambah panggilan mereka telah berubah dari saya dan anda
menjadi aku dan kamu. Namun Nagita berusaha mengalihkan perhatiannya dengan
menunjukan hasil goresan pensilnya pada Rizal.
”sepertinya ruangan kerja anda lebih cocok menggunakan
desain seperti ini” dengan menunjukan selembar bertas pada Rizal
”Gi,,, please aku udah muak dengan semua ini, aku nggak
mau di diemin terus sama kamu” Nagita mengerutkan dahinya
”bukankah dari tadi saya sudah berbicara panjang lebar
dengan anda?” Nagita bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri meja kerjanya.
Karena sedari tadi ia duduk di sofa tepat di pojok ruangan ini.
”bukan itu yang aku maksud gi,,,”
”apakah sebegitu bencinya kamu sama aku, sampai-sampai
kamu nggak bisa lagi bersikap ramah seperti dulu”
”semuanya udah beda Jal, loe Cuma masalalu gue dan gue
harap loe bisa bersikap profesional” seru Nagita dengan muka merahnya, rupanya
Nagita mulai dihinggapi emosi yang siap meledak sebentar lagi.
”dan ingat gue udah punya suami,” imbuh nagita sembari
menunjukan cicin ema utih bertahtakan berlian di hadapan Rizal
”iya gi, aku tau, aku cukup sadar tindakan ku ini terlalu
berani”
”tapi tolong, beri aku kesempan satu kali lagi Gi, aku
janji nggak akan mengulangi kesalahan ku dulu” rizal memang sosok yang pantang
menyerah sejak dulu, bahkan ia juga bisa menghalalkan segala cara agar seua
keinginannya dapat tercapai. Tapi nagita tak sedikitpun berniat akan
mengabulkan keinginan rizal, jadipercuma saja ia memohon, bersujupun jawabanya
satu yaitu TIDAK.
”Rizal asal loe tau, gue udah bahagia dengan kehidupan
gue sekarang, dengan Raffi gue bisa tau makna dari kehidupan ini. Gue cinta
sama Raffi gue bahagia sama Raffi jadi Jangan harap loe bisa masuk dikehidupan kita”
Rizal terlihat geram akan ucapan nagita, rahangnya
mengaras saat nama Raffi di sebut. ”oke maaf gi, mungkin aku udah lancang ngomong
ini ke kamu” rizal menghembuskan nafas beratnya
”aku Cuma pengen kamu tau ini semua, tapi sekarang aku
juga sadar kamu sudah menjadi milik lelaki itu”
”selamat yah gi” imbuh Rizal
”aku harap kita bisa berteman, yah setidaknya sebagai
patner kerja” ujar Rizal dengan pelan
”seprtinya saya butuh istirahat, jadi metting kita kali
ini cukup sampai disini silahkan bapak Rizal bis meninggalkan ruangan saya”
ujar nagita tanpa melihat sosok yang dituju.
Nagita memit pelipisnya pelan, saat Rizal tak lagi
terlihat di ruangannya.
****
Setelah kejadian itu, Nagita terlihat sedikit memberi
jarak lebih pada rizal. Ia sering menolak ajakan metting jika dilakukan hanya
berdua saja. Hingga pada hari ini ia tak bisa menolak metting yang pada awalnya
ada amira yang akan menemani, tapi ditengah jalan Nagita mendapat telefon dari
amira yang mengabarkan ia tak bisa menemani metting kali ini karena anak semata
wayangnya tiba-tiba sakit.
Pov Billy
”Suapin kali nas, gitu amat sama tunangan sendiri” sekarang
kita (gue ama nanas) lagi makana siang di caffe Potdjok sama si tembem Nanas tunangan
gue haha, 2 bulan yang lalau gue sama Nanas resmi tunangan. Yah belum tau juga
sih nikahnya kapan, secara Nanas kan masih kuliah dan semuanya nggak kasih
restu buat kita nikah buat sekarang. Terutama si-aa Raffi, iyah mulai sekarang
gue harus membiasakan diri meaangdil dia dengan panggilan AA. Asisten Apoteker?
Bukan, AA itu semacam panggilan kaka laki laki orang sunda.
”eemmmm enaak” makanan paling enak adalah makana yang
disuapkan langsung dari tangan orang yang kita sayang. selain dari suapan mamah
gue, nanas adalah orang kedua yang bisa menyulap makanan sesederhana mungkin
menjadi makanan yang super duper lezat hanya dengan menyuapkan nya saja kedalam
mulut gue ini.
Entah maruk atau apa, selalu itu yang gue rasain selama ini. Selalu
nyaman dan bisa mengubah hari-hari ku yang penuh awan kabut menjadi hari-hari
yang penuh bunga-bunga sekejap saja saat aku melihat senyum serukut di pipi si
tebem ini. Itu yang menjadikan gue, kekeh meminta dan memohon ke-keluaranya
agar dapat mengikat kita dalam ikatan pertunangan (lebay).
”photo dulu kali hun” mungkin semua orang bilang gue
lebay (emang) karena jika kalian bisa buka akun instagram Gue mungkin hampir
setiap hari gue posting salah satu photo gue sama si tembem kesayangan gue ini.
saat gue coba memperhtikan photo yang baru saja gue
posting ternyata di belakan terdapat sosok yang sangat tidak asing ”ih ada si
nagita tuh,”
”hust” nanas mengikuti arah dimana gue menunjuk seseorang
dengan dagu gue yang hampir terlihat ada dua.
”eh iya maksudnya mbak gigi” lagi-lagi gue lupa
memberikan embel-embel di depannya. sebenarnya nagita tak mempermasalahkan akan
panggilan itu, namun keluarga nanas termasuk dalam keluarag yang sangat
menghormati silsilah dari keluarga. Jadi walaupun itu seorang bayi tapi jika
lagir dari kakan mama amy maka bayi itu akan di panggil kaka. Mengingat gigi
adalah keturunan jawa, padang dan manado jadi gue mutusin buat panggil dia
dengan sebutan mbak (nanas juga dari dulu memangil seperti itu) dari pada uni
nanti salah sebut berabe kan (berisik sekali si billy). mbak gigi dan aa raffi
oke nggak masalah.
”eh bentar sama siapa itu,,,”
”patner kerja kali, ya udah gue samperin dulu ah”
akhirnya setelah nanas mencoba say hay dengan kakak iparnya, gue haya melambaikan
tangan kearah mereka.
Dari pada gue bengong sendirian, akhirnya gue coba ambil
Handphone. Awalnya hanya cek notif yang mulai banyak bermunculan. Tapi dengan
iseng gue coba bbm si-aa raphi.
Billy :
phi coba deh loe buka instagram gue
Ah ngapain juga gue buka buka instagram loe, : Raffi
paling loe mau pamer photo ama nanas kan... dasar alay
loe
Billy : tadi gue photo sama si nanas eh nggak sengaja
liat
bini loe ikut ke photo
yah masa si nagita udah ketularan ke-alay an loe seh aduh
: Raffi
gawat ini kudu buru-buru di vaksin
Billy : ih
si a raphi pake ngelawak lagi,
Aduh udah
deh panggil gue raffi aja, gue geli loe panggil gue Aa : Raffi
Billy : Bini loe lagi ama cowok, ganteng pula
1 menit, 2, 3,5 menit
Billy : ping!!!
Billy : ping!!!
Billy : ping!!!
******************
Hay guys,,,,,
Saya kembali
lagi dengan membawa cerita gaje ku,,,
Kalian
pasti jenuh yah baca cerita yang semakin gaje ini. Huft maaf
Aku bener
bener lagi nggak ada ide,,,, entah kenapa
Tugas-tugas
pun semakin menumpuk, jadi buat bisa konsen lagi ke CERBUNG ini pun susah. Maaf
yah guys....
Tapi aku
tetep tunggu kritikan, hujatan (jangan nge-bully tapi yah nanti gue bisa nangis
berhari-hari #heheheh) dari kalian semua. Add and follow dulu keleus,,,,
FB : Zulva
Nadirotu Wattpad : @ZulvaNadirotu
TW :
@Zulfaupith
#Promo
#Again
No comments:
Post a Comment