Friday, 17 April 2015

My Wife, My Little Friend (Part 35)



My Wife, My Little Friend (Part 35)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,

Part 35
”maaf, ruangan ibu nagita lantai berapa yah?” ujar Raffi pada seorang wanita yang duduk dibalik meja bertuliskan Resepsionis. Melihat kedatangan seorang Raffi yang memang sedari dulu sukses membuat mahluk bernamakan wanita melupakan dunianya sejenak, itu juga berlaku pada wanita tersebut. 
Ia yang sedari tadi memoleskan sesuatu (baca: bedak, lipstik,) diwajahnya, seketika menghentikan kegiatannya. Raffi yang merasa tak mendapat jawaban apa-apa, selain tatapan mesum si-resepsionis itu. Merasa jengah, akhirnya Raffi ber-Dehem untuk mengahiri khayalan wanita bersebut, yang entah apa itu.
”oh,, eemm,,, bu nagita yah pak,,, emm,, di lantai 9 pak”
”oke terimakasih” akhirnya setelah sekian lama menjadi objek khayalan si wanita resepsionis itu, Raffi dapat terbebas dan tak perlu menunggu lama lagi ia segera melangkahkan kakinya menuju ruangan yang disebutkan.
 Raffi memang belum pernah masuk ke dalam kantor Nagita, dan Ia sengaja tak memberikan kabar ke Nagita bahwa ia akan menemuinya siang ini. Jadi wajar saja Raffi harus bertanya pada wanita resepsioni itu terlebih dahulu. Memang raffi beberapakali mengantar Istriya ke tempat ini tapi tak pernah masuk. 
Ia hanya mengantar sampai lobi dan langsung pergi menuju kantornya sendiri, yah liat saja betapa sibuknya raffi sekarang. Apalagi semenjak ia mengerjakan projek Rahasianya itu, makan siang bersama istripun jarang sekali ia rasakan. Makadari itu, sekarang Raffi datang menemui Nagita sebagai surprise dan ingin mengajak Nagita makan siang bersama.
Tok Tok...
”masuk,,”
Setelah mendengar suara dari dalam ruangan Raffi segera membuka pintu dan menyiapkan senyuman terbaiknya sekarang.
”Raffi,,, ngapain?” ujar nagita kanget dan senang karen kedatangan sang suami disela-sela kegiatan kantor yang, yah begitulah.
”nggak suka yah di datengin suaminya?”
Nagita langsung bangkit dari duduknya dan segera memeluk Raffi yang masih diam di depan pintu. Seperti biasanya, dimanapun mereka berada Raffi selalu menyempatkan mencium Nagita. Entah itu hanya di kening-nya, dan Nagita suka itu. Tapi sekarang mengingat mereka tengah berada diruangan khusus yang hanya ada mereka berdua di dalamnya, Raffi mendekatkan bibirnya pada Nagita.
 Mereka berciuman cukup lama, sebelum akhirnya Nagita sendiri yang menyudahi moment itu setelah mencium sesuatu yang membuat cacing diperutnya meronta-ronta. Nagita mencoba menghirup dalam-dalam beberapa kali untuk memastikan dan memang bau itu sangat menggirahkan.
”eemmm bau apa itu, ko enak banget”
Terdengar decak kekecewaan dari Raffi, tapi mengetehui ke-asyikan nya terhenti karena kantong plastik yang dibawanya.
”ini hidung kalo urusan bau-bau makan aja cepet banget responnya” ujar Raffi sembari menggesekkan hidungnya pada hidung Nagita, gemas. Nagita hanya nyengir kuda di depan suaminya.
”ayok deh cuss kita makan”
”kok kamu tau aku lagi kelaperan?”
”ya iya lah, kan kita sehati yank jadi aku tau apa yang kamu rasakan sekarang”
”idih, lebay banget”
”yah abisnya kamu pake nanya, liat tuh jam berapa”
Raffi menunjuk jam yang bertengger di dinding dengan dagunya sembari mengeluarkan makanan dari kotak yang ia bawa ”semua orang juga bakal laper kalo jam segini yank” tambah Raffi
Lagi lagi Nagita hanya nyengir kuda di depan suaminya, sembari duduk dengan tatapan tidak sabar menunggu kannnnya siap untuk di santap.
”kamu itu harus inget waktu kalo kerja, aku nggak mau yah liat kamu sakit Cuma karena kamu telat makan” ujar raffi lagi dengan monyodorkan satu porsi makanan kesukaan nagita ”RAMEN”.
”iyaaaa,,, ini juga baru sekali doang ko lupa” Nagita mulai menyuapkan ramen dengan sangat antusias.
”iyaa tapi jangan sampai lupa sama suaminya ajah” ujar raffi sembari pura-pura memandang sekeliling ruangan.
Sejenak Nagita menghentikan gerakannya mengunyah, ”becanda kali yank” raffi segera terenyum dan mengacak-acak rambut Nagita saat melihat perubahan raut wajah istrinya.
”kamu mah gitu ngomongnya”ujar Nagita dengan mulut penuh ramen.
Dengan tersenyum Raffi mengambil tisue dan mengelap barcak ramen di sudut bibir Nagita. Lagi lagi nagita nyengir kuda mendapat perlakuan tersebut.
”permisi bu Nagita,,”
”oh maaf  bu,, nanti saya masuk lagi”
“oh nggak papa Ran, udah selesai juga kok kita, kenapa?” kemudian wanita tersebut mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan
“di depan ada yang mau ketemu,,,,”
“oke lima menit lagi”
”sibuk banget sih istri aku” dengan gemas Raffi mencubit pipi Nagita sembari mengaecup keningnya sekilas sebelum pergi ke toilet.
Tok tok tok
”Iya masuk” setelah membalikn badannya, Nagita diam dan syok akan sesosok yang berdiri di depan pintu ruangannya.
”Rizal?” gumam Nagita
”hay Gi” sapa Ijal dengan senyuman manisnya, tapi teryata itu tak membuat Nagita berniat membalas senyumannya. Bahkan Nagita hanya diam di tempat bak patung, entah kenapa sendi sendinya susah sekali untuk digerakkan saat ini.
”yank,,, Aku langsung balik ke kantor yah” seru Raffi embari membenahi kemejanya
”oh maaf” ujar Raffi saat menyadari ada orang lain diruangan ini
”Eee,, silahkan duduk” tak mau membuat Raffi curiga, Nagita segera mempersilahkna Rizal untuk duduk.
”siapa” bisik Raffi tepat ditelinga nagita saat menyadari wajah yang tidak asing baginya
”client aku yank” ujar Nagita pelan
”oh iya bapak Rizal perkenalkan ini RAFFI ahmad suami saya dan Raffi ini bapak Rizal  client saya,,,” tak lama kemudian mereka saling berjabat tangan dan bertukar seyum ramah satu sama lain. Nagita sengaja tidak mengenalkan siapa Rizal di masalalunya kepada Raffi, ia tak ingin ada perselisihan diantara mereka (Nagita, Raffi, dan Rizal) karena buat apa mempermasalahkan masalalu. Toh semua tidak bisa di rubah lagi, masalalu hanya untuk bahan pembelajaran bukan sebagai bahan pertengkaran kita nanti. Jadi Nagita hanya memperkenalkan Rizal sebagai client nya, toh memang ia benar-benar clien-nya kan? Profesional.
”ya udah yank aku balik ke kantor dulu yah, bentar lagi ada metting”
”iyah,, ati ati yah” ujar Nagita sembari memakaikan tuxedo kebadan suaminya tanpa menganggap kehadiran orang lain diruangan ini yang mulai muak dengan adegan di depannya.
”ya udah, kamu ati ati yah” ujar Raffi saat Nagita mencium punggung tangan suaminya, tak ketinggalan juga Raffi mencium pelipis Nagita dengan hangat.
”mari pak Rizal saya pergi dulu” sapa Raffi ramah yang di sambut senyum ramah pula dari Rizal. Nagita berjalan mengantar Raffi keluar ruangan.
Sebelum Raffi melangah kan kakinya menjauh dari ruangan Nagita, ia sempat berbalik dan melihat sosok pria didalam sana.
”kamu ati ati yah” Raffi mengecup punggung tangan Nagita saat Nagita menganngukan kapalanya. Raffi merasa tak tenang jika ia harus menginggalkan istrinya akan berada dalam satu ruangan hanya dengan pria tersebut. 
Memang Rizal terlihat orang yang baik, tapi entah lah perasaannya sekarang mengatakan tersebut hingga ia sangat berat untuk meninggalkannya. Jika saja tidak ada metting itu, mungkin Raffi lebih memilih tinggal di sana menemani istrinya. Tapi pikiran negatif itu segera di buang jauh-jauh oleh Raffi, mengingat ia juga sering kali berada dalam suatu ruangan dengan seorang wanita dan tidak terjadi apa-apa selama ini.
”bye,,,” Raffi melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut
***
”apakah kalian setiap hari melakukan itu” ujar Rizal dengan nada dingin
Nagita terlihat mengangkat sebelah alisnya, ”kalian terlihat sangat bahagia” Nagita tersenyum sinis saat mendengar ucapan rizal.
”langsung saja, ada keperluan apa anda kemari?”
Rizal tersenyum sinis, ”ucapan mu terdengar sangat kaku”
Setelah melihat tatapan sinis Nagita, akhirya Rizal mengalah dan menghembuskan nafasnya jengah ”oke, saya ingin merubah wallpaper diruang kerja saya” Rizal berusaha profesional
”hah, bukannya anda sendiri yang meilih desainnya?”
”iya memang, tapi bukankah itu ruang kerja saya? Jadi,,,”
”oke, seperti apa yang anda inginkan?” potong Nagita
Mereka terlihat laru dalam pembahasan desain yang di ingin kan Rizal, entah karena memang Rizal ingin mengubahnya atau karena itu semua di sengaja agar ia lebih sering bertemu dengn Nagita. Karena hampir semua bagian rumahnya yang didesain ulang. Beberapa kali Rizal terlihat memandangi nagita penuh arti.
”gi,,”
”heumm,,” Nagita sibuk dengan coretan di kertas miliknya tanpa berniat mealingkan wajahnya menghadap Rizal.
”sampai kapan aku harus menunggu kamu untuk memaafkan ku?” tiba-tiba Nagita menghentikan aktifitasnya setelah mendengar apa yang dikatana Rizal, di tambah panggilan mereka telah berubah dari saya dan anda menjadi aku dan kamu. Namun Nagita berusaha mengalihkan perhatiannya dengan menunjukan hasil goresan pensilnya pada Rizal.
”sepertinya ruangan kerja anda lebih cocok menggunakan desain seperti ini” dengan menunjukan selembar bertas pada Rizal
”Gi,,, please aku udah muak dengan semua ini, aku nggak mau di diemin terus sama kamu” Nagita mengerutkan dahinya
”bukankah dari tadi saya sudah berbicara panjang lebar dengan anda?” Nagita bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri meja kerjanya. Karena sedari tadi ia duduk di sofa tepat di pojok ruangan ini.
”bukan itu yang aku maksud gi,,,”
”apakah sebegitu bencinya kamu sama aku, sampai-sampai kamu nggak bisa lagi bersikap ramah seperti dulu”
”semuanya udah beda Jal, loe Cuma masalalu gue dan gue harap loe bisa bersikap profesional” seru Nagita dengan muka merahnya, rupanya Nagita mulai dihinggapi emosi yang siap meledak sebentar lagi.
”dan ingat gue udah punya suami,” imbuh nagita sembari menunjukan cicin ema utih bertahtakan berlian di hadapan Rizal
”iya gi, aku tau, aku cukup sadar tindakan ku ini terlalu berani”
”tapi tolong, beri aku kesempan satu kali lagi Gi, aku janji nggak akan mengulangi kesalahan ku dulu” rizal memang sosok yang pantang menyerah sejak dulu, bahkan ia juga bisa menghalalkan segala cara agar seua keinginannya dapat tercapai. Tapi nagita tak sedikitpun berniat akan mengabulkan keinginan rizal, jadipercuma saja ia memohon, bersujupun jawabanya satu yaitu TIDAK.
”Rizal asal loe tau, gue udah bahagia dengan kehidupan gue sekarang, dengan Raffi gue bisa tau makna dari kehidupan ini. Gue cinta sama Raffi gue bahagia sama Raffi jadi Jangan harap loe bisa masuk dikehidupan kita”
Rizal terlihat geram akan ucapan nagita, rahangnya mengaras saat nama Raffi di sebut. ”oke maaf gi, mungkin aku udah lancang ngomong ini ke kamu” rizal menghembuskan nafas beratnya
”aku Cuma pengen kamu tau ini semua, tapi sekarang aku juga sadar kamu sudah menjadi milik lelaki itu”
”selamat yah gi” imbuh Rizal
”aku harap kita bisa berteman, yah setidaknya sebagai patner kerja” ujar Rizal dengan pelan
”seprtinya saya butuh istirahat, jadi metting kita kali ini cukup sampai disini silahkan bapak Rizal bis meninggalkan ruangan saya” ujar nagita tanpa melihat sosok yang dituju.
Nagita memit pelipisnya pelan, saat Rizal tak lagi terlihat di ruangannya.
****
Setelah kejadian itu, Nagita terlihat sedikit memberi jarak lebih pada rizal. Ia sering menolak ajakan metting jika dilakukan hanya berdua saja. Hingga pada hari ini ia tak bisa menolak metting yang pada awalnya ada amira yang akan menemani, tapi ditengah jalan Nagita mendapat telefon dari amira yang mengabarkan ia tak bisa menemani metting kali ini karena anak semata wayangnya tiba-tiba sakit.
Pov Billy
”Suapin kali nas, gitu amat sama tunangan sendiri” sekarang kita (gue ama nanas) lagi makana siang di caffe Potdjok sama si tembem Nanas tunangan gue haha, 2 bulan yang lalau gue sama Nanas resmi tunangan. Yah belum tau juga sih nikahnya kapan, secara Nanas kan masih kuliah dan semuanya nggak kasih restu buat kita nikah buat sekarang. Terutama si-aa Raffi, iyah mulai sekarang gue harus membiasakan diri meaangdil dia dengan panggilan AA. Asisten Apoteker? Bukan, AA itu semacam panggilan kaka laki laki orang sunda.
”eemmmm enaak” makanan paling enak adalah makana yang disuapkan langsung dari tangan orang yang kita sayang. selain dari suapan mamah gue, nanas adalah orang kedua yang bisa menyulap makanan sesederhana mungkin menjadi makanan yang super duper lezat hanya dengan menyuapkan nya saja kedalam mulut gue ini.
 Entah maruk atau apa, selalu itu yang gue rasain selama ini. Selalu nyaman dan bisa mengubah hari-hari ku yang penuh awan kabut menjadi hari-hari yang penuh bunga-bunga sekejap saja saat aku melihat senyum serukut di pipi si tebem ini. Itu yang menjadikan gue, kekeh meminta dan memohon ke-keluaranya agar dapat mengikat kita dalam ikatan pertunangan (lebay).
”photo dulu kali hun” mungkin semua orang bilang gue lebay (emang) karena jika kalian bisa buka akun instagram Gue mungkin hampir setiap hari gue posting salah satu photo gue sama si tembem kesayangan gue ini.
saat gue coba memperhtikan photo yang baru saja gue posting ternyata di belakan terdapat sosok yang sangat tidak asing ”ih ada si nagita tuh,”
”hust” nanas mengikuti arah dimana gue menunjuk seseorang dengan dagu gue yang hampir terlihat ada dua.
”eh iya maksudnya mbak gigi” lagi-lagi gue lupa memberikan embel-embel di depannya. sebenarnya nagita tak mempermasalahkan akan panggilan itu, namun keluarga nanas termasuk dalam keluarag yang sangat menghormati silsilah dari keluarga. Jadi walaupun itu seorang bayi tapi jika lagir dari kakan mama amy maka bayi itu akan di panggil kaka. Mengingat gigi adalah keturunan jawa, padang dan manado jadi gue mutusin buat panggil dia dengan sebutan mbak (nanas juga dari dulu memangil seperti itu) dari pada uni nanti salah sebut berabe kan (berisik sekali si billy). mbak gigi dan aa raffi oke nggak masalah.
”eh bentar sama siapa itu,,,”
”patner kerja kali, ya udah gue samperin dulu ah” akhirnya setelah nanas mencoba say hay dengan kakak iparnya, gue haya melambaikan tangan kearah mereka.
Dari pada gue bengong sendirian, akhirnya gue coba ambil Handphone. Awalnya hanya cek notif yang mulai banyak bermunculan. Tapi dengan iseng gue coba bbm si-aa raphi.
Billy : phi coba deh loe buka instagram gue
Ah ngapain juga gue buka buka instagram loe, : Raffi
paling loe mau pamer photo ama nanas kan... dasar alay loe          
Billy : tadi gue photo sama si nanas eh nggak sengaja liat
       bini loe ikut ke photo
yah masa si nagita udah ketularan ke-alay an loe seh aduh : Raffi
gawat ini kudu buru-buru di vaksin
Billy : ih si a raphi pake ngelawak lagi,
       Aduh udah deh panggil gue raffi aja, gue geli loe panggil gue Aa : Raffi
Billy : Bini loe lagi ama cowok, ganteng pula
1 menit, 2, 3,5 menit
Billy : ping!!!
Billy : ping!!!
Billy : ping!!!


******************
Hay guys,,,,,
Saya kembali lagi dengan membawa cerita gaje ku,,,
Kalian pasti jenuh yah baca cerita yang semakin gaje ini. Huft maaf
Aku bener bener lagi nggak ada ide,,,, entah kenapa
Tugas-tugas pun semakin menumpuk, jadi buat bisa konsen lagi ke CERBUNG ini pun susah. Maaf yah guys....
Tapi aku tetep tunggu kritikan, hujatan (jangan nge-bully tapi yah nanti gue bisa nangis berhari-hari #heheheh) dari kalian semua. Add and follow dulu keleus,,,,
FB  : Zulva Nadirotu           Wattpad    : @ZulvaNadirotu
TW : @Zulfaupith
#Promo #Again

No comments:

Post a Comment