Friday, 24 April 2015

My Wife, My Little Friend (Part 36)


 My Wife, My Little Friend (Part 36)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,
Sekali lagi ini hanya khayalan semata jadi jangan menyambung-sambungkan degan kehidupan asli mereka.

Part 36

Pov Nagita
“assalamuallaikum,,,”
“fiii,,, Raffii,,,,,” aaiihh pasti dia belum pulang, sambil mengambil lempengan besi tipis di dalam tasku, aku coba untuk sejenak merebahkan badanku ini yang entah kenapa hari ini sangat terasa lelah.
”eeehh,, bau apa ini,,, jangan-jangan ,,,,,,”. bayangkan saja, saya sendirian disini tapi sekarang hidungku ini mencium bau masakan. Alhasil bau itu sukses membuatku terlonjak dari soffa yang sedari tadi aku tempati.
 Klontang,,,,,
Tuhkan bunyi apa lagi itu,-Raffiiii cepat pulang dirumah kita ada setannya,,,, aku takut- Sekarang aku hanya bisa menjingkut disofa dan berharap Raffi muncul di depanku dengan bantuan pintu Doraemon yang pasti, mengingat jam-jam sekarang sangat dipastikan jalanan macet disana-sini jadi untuk mengharapkan Raffi tiba-tiba muncul sekarang tanpa bantuan pintu Doraemon itu sangat susah. ”huh gue nggak perlu takut, manusia lebih sempurna dari pada setan. Jadi buat apa aku takut” meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja dengan semangat 2015 aku menggulung blezer ku. Yah memang tidak sepenuhnya tergulung.
Melihat didekatnya terdapat payung, maka aku berinisiatif untuk membawanya. Hanya untuk berjaga-jaga saja bisa saja kan suara gaduh didapur itu tuyul atau,,,, maling?? Hah apa?? Maling??
Maling kan sama-sama manusia, nanti kalo dia bunuh aku gimana?
Klontang,,,,
” aaaaaarrrrrrrrr.....” suara benda yang jatuh kembali sukses membuatku sekuat tenaga lari dan menyembunyikan kepalaku ditumpukan bantal sofa.
”ada apa,,,, ada apa.,,,,”
”hay gi ada apa,,” suara serak yang terdengar sangat panik
”ampun ampun tolong jangan  apa-apain aku,,,, aku pahit, nggak enak,,, ampun, ambil saja semua yang ada di sini, tapi tolong jangan bunuh aku” seruku pada seseorang yang aku yakini itu adalah maling. Yah aku sangat yakin siapa lagi coba orang yang masuk kerumah tampa ijin lalu meng-obrak-abrik seisi rumah, tanpa ada pemilik rumah tersebut. iyah pasti dia malingnya.
”hahahahahahahahahhahha”
Eh, kenapa itu maling malah ketawa. Dia pikir aku bisa dibohongi dengan suara ketawa paluhnya itu, mungkin saja kan  saat aku membalikan badan dia akan blam,,, memukul, menembak, membacok,,, aaaaarrrhhh gue nggak mau. Kembali aku menenggelamkan kepalaku semakin jauh.
Raffi kamu kemana siihh bisa bisanya kamu meninggalkan aku sendirian di saat suasana genting seperti ini. Bahkan menggubungiku pun tidak, sebenarnya kamu lagi apa. Awas saja nanti kalau ketemu, aku gigit dia sampe abis.
”ahahhahahha Gi, udah Gi berhenti berprilaku bodoh, perutku sudah sakit”
”hey kamu mau sampai kapan sembunyi terus kayak gitu”
Eh, bentar kayaknya gue pernah kenal deh suara itu. Bukan pernah tapi sering, bentar bentar,,,,,,,,
Raffi, iya itu suara Raffi.
Perlahan ku coba menyingkirkan bantal-bantal yang menutupi kepalaku, takut malingtersebut hanya memiliki suara yang sama dengan suamiku. Tapi kini aku meloton saat melihat sesosok pria tampan yang beberapa bulan terakhir menemani hari-hari ku ini. Di terlihat sedang memegangi perutnya menahan tawa didepanku hingga raut wajahnya berubah menjadi merah padam.
”kok kamu ada di sini,maling nya mana?” ujar ku panik
”hahahahha udah udah,,, hahahha”
”iiiihhh ko kamu malah ketawa sih,,, apanya coba yang lucu”
Setelah menarik nafas berulag kali, akirnya Raffi mendekatkan tubuhnya dan mengusap ujung kepalaku.
”kamu kenapa? Ko bisa ketakutan gitu”
Setelah aku menceritakan semuanya, Raffi kembali ketawa lebih keras di banding sebelumnya. ”itu aku sayang,,,”
”lagian mana ada maling yang bisa masuk diaparteman dengan penjagaannya sangat ketat syang” Mataku melotot bahkan hampir loncat dari tempatnya saat menyadari kebodohan ku itu. Aku yakin sekarang muka kuini pasti terlihat semerah tomat. Kenapa aku jadi bodoh sekali, kenapa aku tidak menebak itu Raffi bukan maling. Arrrgggghhh bodoh bodoh... bodoh....
”oke oke aku minta maaf tadi nggak jawab salam kamu, tapi bener bener nggak denger aku sayang,,, maaf yah” ujung kepalaku terasa basah karena ciuman dari Raffi.
”udah dong jangan manyun terus”
Mendengar bujukan Raffi, entah kenapa bibirku semakin manyun. Mungkin dia (Bibirku) iri dengan pelipisku yang sedari tadi entah sudah berapa kali sudah diciumnaya, hahah....
Cup,,,
Eh, kenapa Raffi tiba tiba cium bibirku? Apa jangan-jangan dia sudah bisa baca pikiran ku tadi. Pipiku semakin merona di buatnya
”aku suka banget liat pipi kamu yang merah setiap kali ku cium”
”apan sih dasar ke pe-de an,orang isi blus on ko”
”kenapa sih kamu masih gengsi, padahal hari ini tepat di 7 bulan kita menikah”
Hah? 7 bulan? Serius hari ini?  Segera aku melihat kalender yang terdapat dimeja.
”hemmm,,, lupa yah?” lagi lagi Raffi memperlakukan ku bak anak kecil degan mengacak-acak rambutku padahal usia kamu hanya terpaut lebih muda aku satu tahun. ”enggk ko, siapa yang lupa, aku inget ko”
”alah bohong banget, kalo inget kenapa tadi muka wakwaw-nya diliatin”
”iiihhhh” aku memukul-kan kalender ditanganku ke lengan Raffi berulang kali hingga ia megaduh dan memohon ampun agar aku segera menghentikan aksi brutalku ini.
Memang aku akui, raffi lah yang sering mengingat tanggal yang terdapat moment-moment penting didalamnya. Bukannya aku tida ingin mengingatnya tapi menurutku setiap hari, setiap waktu saat ku bersamanya itu sangat berarti. Jadi jika kau harus mengingat semuanya itu sama dengan menghabiskan separuh memoriku hanya untuk itu. Heheheh....
”hemmm, nggak kerasa yah udah 7 bulan kita nikah”
”semoga kita terus-terus kayak gini, rukun terus, sehat terus, semakin banyak rezekinya,,,”
”dan cepat diberi momongan” potongku saat merada di pelukan raffi
”iyah, pasti lucu deh anak kita nanti” aku hanya mengagguk dan menyembunyikan wajahku di dada raffi. Tiba-tiba air mataku menetes.

Pov Raffi
Aku memang merencanakan untuk pulang lebih awal agar bisa membuat sesuatu yang spesial. Tapi ditengah jalan aku pun membelokkan mobilku kesebuah resto ternama yang sering kita (aku dan gigi) kunjungi. Yah mengingat passion ku memasak hampir tidak ada, bayangkan saja memaak air pun tidak bisa.
 Pernah suatu ketika saat di rumah benar-benar tidak ada siapa-siapa aku coba memasak air untuk membuat kopi.
Tapi bukan kopi yang aku dapat melaikan panci bolong dan semprotan mamah lah yang aku terima.
Mungkin aku adalah pria yang dapat dikatakan sangat tidak romantis, tapi aku tidak akan membiarkan seorang pun yang membuat wanita ku berpindah kelain hati.
 walaupun saya rasa hal itu tidak mungkin tapi melihat akhir-akhir ini dia tengah dekat dengan pria itu maka apapun itu aku akan berusaha meluangkan waktu untuk melakukan hal yang dapat membuat dia sengang.
Sesampainya diapartemen. iYah, sudah beberapa bulan terakhir ini kami putuskan untuk tinggal disebuah aprtemen.
Sebenarnya aku lebuh suka tinggal di sebuah kompels tapi apa daya mengingat rumah ku itu jauh dari kantor tempat kita bekerja, maka saya putuskan untuk membeli apartemen ini.
aku segera mengeluarkan makanan tersebut dari tempatnya semula. Mengingat jalanan yang macet tadi, jadi sudah di pastikan makanan itu pasti sudah dingin. Aku pun berniat untuk menghangatkan makanan tersebut.
Klontang....
Suara alat masak yang jatuh untuk sekian kalinya ini membuat ku tak putus asa. Saat ku coba tuk memilih wadah yang pas aku pun terkaget karena suara triakan dari ruang tamu.
Pikiran ku kacau saat melihat nagita menyembunyikan separuh tubuh mungulnya di tumpukan bantal, terlihat tubuhnya bergetar sembari merancu kata kata yang sma sekali tidak aku mengerti.
Setelah mengetahui sebab dan alasanya aku pun tak bisa menahan tawa yang kaluar dari mulut ku ini.
Saat aku memeluk tubuh istriku ini, sembari mengungkapkan harapan harapan di 7 bulan anniversari pernikahan kita tiba-tiba dia menyembunyikan wajahnya di dada ku ini. Aku yakin ini bukan ekspresi takut yang semula ia rasakan, melainkan ia menyembunyikan air matana yang jatuh.
”hey,,, kamu kenapa” aku coba merenggangkan pelukan ku mencoba melihat mata indahnya. Tapi ia menolak dan semakin memeluk ku erah, alhasil akupun hanya membelai pucuk kepalanya hingga punggung agar dapat memberikan edikit ketenangan untuknya.
”maaf , maaf kan aku” aku mengerutkn dahi saat mendengar kata-kata yang muncul dari bibirnya
”kamu kenapa?”
”aku tau aku tidahlah sempurna, aku masih mempunyai banyak kekurangan bahakan,,,,”
”seeetttt,,,,, kamu jangan ngomong kayak gitu” potong ku segera
”bagai manapun kamu, kamu adalah seorang wanita yang sempurna utuku” aku menyeka sudut mata indahnya, melihatnya menangis seperti sekrang hatiku sangat nyeri. Walaupun ia sering menangis di depanku tapi Entah mengapa saat ini aku sangat benci malihatnya menangis, menangisi kekurangan atau kelemahannya sendiri. Atu tidak suka itu....
”kita belum diberikan momongan bukan karena aku ataupun kamu yang mempunyai kekurangan, hanya aja tuhan belum mempercayakan kita berdua sebagai ayah dan ibu. Allah masih ingin kita berdua memperbaiki sifat kita masing,,,, jdi kamu ngak usah sedih” aku tau dia menangis karena itu,
sebenarnya ada ataupun tidak adanya anak di antara kami aku akan selalu mencintai dia tapi aku juga mengerti posisi di asebagai seorang wanita yang akan selalu dicecar pertanyan tersebut.
Jadi wajar saja sekarang dia menangis karena itu, walaupun ekarang usia pernikahan kita masih sangatlah muda.
Di saat aku menatap kedua manik Nagita, tiba-tiba dia tersenyum. Senyum penuh arti, tapi jujur aku tidak tau apa yang membuatnya tersenyum.
 Mungkin ia baru menyadari ketampanan suaminya ini yang jika lewat didepan artis papan atas sekelas adam levine pun pasti ia akan minder. Yah, aku yakin itu,,,,
”sejak kapan kamu bisa memasak?”
Aku hanya bisa bergumam tak mengerti apa yang di bicarakan istriku ini karena asik menerka nerka apa yang ada dipikiran istriku in
”itu kamu pake apron, kamu mau memasak apa?”
Setelah mencerna maksud dari perkataan nagita, akupun memandangi tubuhku sendiri lalu memperlihatkan deretan gigi putihku pada Nagita.
 Tubuh terbalukan apron dan tangan kiriku masih menggenggam spatula yang terbuat dari kayu.
Setelah melihat kekacauan yang ada Akhirnya nagita lah yang mengambil alih semua pekerjaan ku yang berantakan tadi. setelah semuanya selesai kami pun makan dengan lahapnya.
Tidak ada kejadian romantis diatara kami. Bukan kata-kata romantis yang aku inginkan, hanya sebuah senyuman yang tersungging dari bibir nagita saja sudah cukup membalikan duniaku.
***********

Aku benar-benar kecewa saat ini, bagaimana mungkin seorang istri menolak ajakan makan siang dari suaminya sendiri hanya karena pria di masalalunya. Iya, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagai mana dia bisa dengan bebas tertawa dengan pria di depannya itu.
Apakah mungkin sekarang nagita lebih memilih dia dibanding aku yang notabene masih berstatus sebagai suaminya sekarang, dan akan aku pastikan setatus itu ada hingga aku mati.
 Aku tidak habis pikir, aku kira nagita adalah seorang yang tidak silau dengan harta tapi kini dihadapan ku dia begitu lepas tertawa bersamanya. Apakah merek sedang menertawakan diriku? Bodoh sekal kamu raffi.
Ku coba untuk menahan semua amarahku, berusaha berfikir sepositif mungkin. Toh aku juga sering berada dalam kondisi yang sama seperti dia saat ini. Cuma makan siang, oke sekali lagi raffi. Nagita Cuma makan siang oke, jadi buat apa aku marah,,,,,
Aku segera bangkit dari tempat dudukku meninggalkan client bersama asistent ku, sempat ku dengar salah satu dari mereka menanyakan mau kemana aku saat ini, tapi amarah dikepalaku membutakan dan menulukan semuanya bahkan untuk membuka mulutku saja aku tidak bisa.
Ekhem...
”eh,, raffi kamu ko disini” dari sorot matanya dapat ku lihat tak terlihat sorot ke kuatiran seperti apa yang aku takutkan. Ku perlihatkan senyum sebaik mungkin kepada kedua orang di depanku.
”iya ini lagi ada metting”
”Hp kamu mana,,,” tanya ku tegas, mengingat sedari tadi tak bisa dihubungi. Dania pun tak memberi tahu apa tenteng acara-nya ini.
”lowbatt,,” jawab istriku dengan menggoyangkan handpone yang didepanku.
”oh,,,”
”kamu bisa antar aku ke kantor??”
”mobil kamu??”
”oke” ku iya-kan permintaan nagita tanpa menunggu jawaban nagita, setelah ia menatap ku dengan isyarat –raffi ku mohon-
Setelah berbasa-basi aku segera mengantarkan istriku ke kantornya, dalam diam.
Setelah menyewa beberapa orang untuk menyelidiki siapa orang yang bersama dengan nagita difoto itu beberapa bulan yang lalu aku tau siapa dia sekarang. Rizal namanya, pria yang saat itu duduk satu meja dengan nagita adalah anak salah satu anak dari orang terkaya dinegri ini.
 Dia adalah mantan terakhir dari nagita ang sepat merebut perhatiannya dari aku. Membuat nagta menutup diri beberapa saat. Membuat aku harus berjuang mati matian mendapatkan cintanya kembali. Dan sekarang,,,, dia datang lagi. Tidak akan mengbulkan permintaanmu ijal.....
*********
Bertengger diposisi Wakil CEO memang melelahkan. dengan segudang tanggung jawab aku harus bisa mengorbankan waktu dengan kluarga bhkan tak jarang waktu istirahatku pun menjadi korban. disaat mereka yang bisa berleha-leha, bahkan sekarang jam 8 pun aku harus menuju disebuah restoran, yang terletak di dalam sebuah hottel ternama untuk metting dengan salah satu client.
 Masih belum terlalu malam memang, tapi mengingat kondisi tubuhku ini,,, ah Kalau saja bukan karena proyek besar itu, mungkin aku akan memilih bebrbaring slimut dengan selimut tebal menutupi sekujur tubuh, ah pasti nyaman sekali.
Aku mengerutkan dahi seraya menajamkan penglihatan ku saat mendapati sesosok siluet yang tak asing dimataku. Tapi kenapa dia berjalan dengan laki laku lain?
”sedang apa kamu di sini?” sapaku pada nagita saat berada di depan lif
”ra raffi,,,,” nagita terliht terkejut akan kehadiran ku saat ini.
Brukkk,,,,
Bagai mene bisa aku menahan lagi amarahku, jelas jelas didepan mata ku nagita bedua dengan pria itu di hottel. Sebenarnya apa yang akan mereka lakukan??
”aaaaarrrr,,, Raffi apa apa an kamu,,” Nagita menatapku dengan tajam, rupanya dia masih membela pria tersebut di depan ku. Tega sekali kamu gi,,,,
Setelah melayangkan satu bogem mentah dirahang Rizal, aku segera mencekram dan menarik paksa pergelangan nagita.
”Raffi,,, tunggu,,, Raffiii,,,, sakit,,” aku benar benar marah saat ini, teriakan hingga rontaan di tangan ku tak ku gubris sama sekali Hingga ia seperti terseret mengikuti kemana tubuhku pergi.
Aku benar benar marah saat ini, untung saja jalanan sedang bersahabat dengan ku juka tidak mungkin aku sudah menabrak kan mobilku ini kedepan kesemua yang menghalangi laju ku. 15 menit aku dan istriku, ah masih layakkah di aku panggil istri setelah apa yang dia lakukan di belakang ku ini.
Aku menutup pintu aprtemen dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan suara yang amat sangat keras. Setelah mengendurkan cekraman di tangan nya aku segera melempar nagita ke soffa, aku tau aku sedang marah api bukan berarti aku akan menyakiti dia dengan melemparya kesebarang tempat hingga ia merasa kesakitan.
”maaf,,,,, ma,, maaf,,,” ujar Nagita ku dengan suara serak
Terdengar Istriku manangis tersedu, meringkuk ketakutan di atas soffa. Sebenarnya nyeri sekali melihat ia menangis. tapi mengingat apa yang ia lakukan tadi aku hanya bisa diam meremas rambutku berulangkali mencoba menenangkan diriku sendiri.
Setelah mengatur nafas dan menenangkan dirku sendiri, aku beranikan diri tuk bertanya. walaupun aku tau jawabannya pasti akan membuat hatiku semakin nyeri, tapi apapun itu aku harus menyelesaikan ini.
”kamu sedang apa disana”
”a,,,ku,,,, aku hanya,,,”
”liat mata ku,,,” dengan tidak sabar aku memegang erat rahangnya mencoba mengarahkan matanya untuk menatapku saat bicara.
”ini semua ,,,,salah,,, salah faham” suaraya begitu parau, aku tau dia ketakutan meluhatku sedang kesetanan sekarang
”dia hanya,,, ingin,, meng, mengantarku pulang” sudah sangat jelas aku mendengar isakan dari bibirya hingga Suaranya kini bergerar
”pulang ? puleng kemana? Kamu lupa rumahmu dimana?” teriakku dengan puenuh emosi
”dia hanya ingin mengambil file dan menandatanganinya Raffi””bodoh,,, itu semua hanya akal-akalannya saja”
”kenapa kamu tidak menelfonku saja? hah,,,” lagi lagi aku takbisa mengendalikan volume suaraku
”handphone kamu mati Raffi,,,” nagita mencoba memcoba membalas menatapku dengan sangat tajam
”begitu kah caranya kamu membalas semua ini gi,,,,” kini aku lebih memilih mencekram rambutku, tak terasa air Mataku pun turun radi tempatnya setelah sekian lama ku coba menahan.
”aku salah apa,,,, tolong jawab aku gi,,,aku salah apa,,, sampai kamu tega main belakang seperti ini,,” suaraku memelan
”jika kamu sudah jenuh dan bosan dengan ku, bukan kayak gini caranya”
”aku kecewa sama kamu Gi” aku menggerakan tubuhku menepis tangan Nagita yang berusana memeluk ku dari belakang
Segera ku ambil kunci mobil dan berlalu pergi,
”raffi,,, fii,, rafffii,,, jangan pergi,,, ku mohon Raffi dengarkan aku,, Raffi aku sayang kamu,,, tolong jangan tinggalkan aku,, rafiiii”
Mendengar kata-kata itu, membuat hatiku semakin nyeri. Bagaimana bisa seseorang yang masih mengaku sayang tapi bisa-bisanya ber-kencan dengan mantan pacarnya dan masih bisa memberikan sejuta alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Apa itu yang di sebut sayang?


************
Huaaaa ko jadi dram banget gini yah,,,,
awalnya pengen bikin cerita yang romantiss dan bikin nagis eh malah jadi gaje abis,,, 
maaf maaf,,,,,
Oke cuzz kasih coment and likenya,,,,
Ceritanya masih  kurang panjang ???
Insya allah kalo nggak keluar dari tema, 1 part lagi END
Maaf yah kalo masih ada typo or kata-kata yang kurang sesuai dengan EYD. Eikye masih belajar nulis, jadi harap maklum.
Terlimakasih sudah meluangkan waktunya,,,,,
#kiss #kiss

Kira-kira yang sedang di lakukan nagita dengan ijal di hotel itu apa yah?
 
Add and follow dulu keleus,,,,
FB           : Zulva Nadirotu        
Wattpad    : @ZulvaNadirotu
TW          : @Zulfaupith
#Promo #Again



No comments:

Post a Comment