Monday, 10 November 2014

My Wife, My Little Friend (Part 16)

My Wife, My Little Friend (Part 16)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Part 16
Selagi mendengrkan penjelsan dari sang supir, nagita pun memperhatikan dengan seksama siapakah orang yang tengah tergletak tak berdaya di sana. Iyah nagita, penumpang mobil yang melintas  di tempat dimana raffi di bantai habis habisan oleh nanda adalah nagita.
“bentar bentar kaya kenal,,,,” sejenak nagita pun diam dan semakin menajamkan penglihatannya
“ya allah raffi,,, pak berenti pak,,,,” teriak nagita yang segera memerintahkan pak parman agar segera memberhentikan mobilnya
Nagita dan pak parman pun turun dari mobilnya dan segera meghampiri raffi yang tergletak tak sadarkan diri, nagita yang terlihat sangat panik ia segera menghubungi irwan yang tak jauh dari lokasi untuk membantunya membawa raffi segera ke rumah sakit.
Se sampai nya di rumah sakit, raffi segera di tangani oleh dokter di ruang operasi. Sedangkan di ruang tunggu terdapat nagita yang tak henti hentinya menangis ketakutan di pundak irwan melihat temannya tak sadarkan diri dengan sebuah, luka tusuk di perutnya.
Satu persatu keluarga raffi pun datang, dari mulai mama amy, nisya, dan sang bungsu nanas. mereka datang menghampiri gigi, irwan, billy, dan kia yang sudah lebih dulu menunggu di depan ruangan. Dengan raut wajah kuatir dan berurai air mata mama amy mencoba menanyakan kondisi raffi kepada irwan.
“gimana raffi,,,, gimana keadaan dia,,,”
“tenang tante raffi akan baik baik saja,,, dia sedang di tangani dokter,,,” irwan pun memeluk tubuh mama amy untuk sekedar menenangkannya. Sedangkan perasaan irwan tidaklah jauh lebih tenang dari mama amy, melihat berpapa banyak darah yang harus raffi keluarkan, pastilah bukan kondisi yang bias dibilang BAIK BAIK SAJA untuk temannya saat ini.
Sedangkan nagita masih sama seperti saat pertama kali melihat raffi tergletak tak berdaya, ia masih saja terus menangis. Dalam dekapan kia, nagita terus menangis hingga ingatan beberapa tahun silam melitas di benaknya saat mereka sering bertengkkar, membuat keributan keributan yang dulu ia lakukan saat belum mengenal lebih jauh satu sama lain. Air matanya mengucur begitu banyak saat mengingat moment moment kebersamaan nya bersama raffi, dimana ia sellalu hadir disaat ia sendiri, di saat dimana ia memerlukan bantuan, di saat dimana ia sedang sedih, ia merasa aman, nyaman saat bersama raffi dan segala celotehan yang membuatnya merasa tak hidup sendiri. Raffi adalah salah satu orang yang memperlihatkann betapa indahnya dunia ini. Ia telah menyadarkan dan membukakan mata nagita saat ia merasa sepi, sendiri tatkala di hadapkan kenyataan bahwa papah dan  mamahnya di haruskan berpisah.
Nagita di hinggapi rassa takut yang amat sangat ketika ia Melihat banyaknya bekas darah raffi yang tertinggal di bajunya, ia tak tahu apakah esok, lusa, minggu depan, bulan depan, bahkan tahun depan. ia akan melihat dan mendengar celotehan konyol yang keluar dari raffi.
Saat semua orang menangis, billy yang sedari tadi hanya diam tiba tiba teringat sesuatu. Dengan penuh amarah billy meninjukan tangannya tepat di dinding dimana ia berada “nanda,,,!!!” seru billy lalu ia melngkahkan kakinya dengan cepat menuju tempat dimana motornya di parkirkan
Melihat dan Mendengar ucapan billy irwan pun segera berlari menghampiri billy, tapi usahanya sia sia ternyata billy telah lebih dulu berlalu menjauh dengan motor yang ia kendarai dengan penuh emosi. Tak mau terjadi apa apa dengan temannya, irwan pun segera tancapkan gass menyusul billy
“bill billy,,, mau ngapain loe,,,” teriak irwan saat posisi motornya sejajar dengan motor yang billy kendari
“nanda wan,,,, dia yang ngebuat raffi kaya gini,,,,” seru billy penuh emosi
mendengar penjelasan dari billy, irwan pun di rundung rassa kuatir yang amat sangat ia tak mau apa yang terjadi pada raffi terulang lagi pada billy
“wah wah bill loe jangan gila bill,,, nanda tuh punya temen banyak,,,, mereka preman semua,,,,,”
“gue nggak peduli wan, gue nggak trima ngliat raffi tergletak tak berdaya di sanan cuma gara gara ayam kampong kaya nanda,,,,” seru billy lallu ia segera menancapkan gas motornya lebih kencang meninggalkan irwan
Melihat tekat yang sangat bulat dari sahabatnya, irwan pun tak tinggal diam ia pun segera menelfon polisi dan segera mengikuti kemana motor billy di arahkan. Sebenarnya irwan juga merasa tidak rela melihat raffi tersiksa atas sprilaku nanda.
Hingga sampailah tepat di mana motor billy di hentikan, di sebuah bangunan tua yang terlihat beberapa mobil rongsokan tergletak di sana. terdengar sayup sayup gelak tawa dari seorang pria. Dengan langkah mengendap, irwan dan billy mendekati krumunan lelaki yang terlihat tengah dibawah pengaruh alcohol.
Dengan bermodalkan sebilah kayu di tangannya, billy memberanikan diri memukul kepala salah satu dari mereka hingga ia terjatuh. Billy dan irwan pun terlibat adu jotos dengan para preman di sana, dengan suara keributan yang mereka buat satu persatu preman pun bermunculan. semakin lama jumlah mereka semakin banyak, tapi tak terlihat satupun dari mereka orang yang billy cari. hingga saat di mana billy dan irwan merasa lunglai munculah sesosok yang berpenampilan beda dari orang orang kumuh yang sedari tadi bergulat dengan irwan dan billy, ia berprawakan putih bersih dengan sedikit brewok yang tumbuh menghiasi pipinya.
Sosok tersebut terlihat sangat berpengaruh bagi lingkungannya, terlihat saat ia datang dan mengangkat tanggan kanannya. Semua berhenti seraya memberikan jalan baginya untuk mendekat. Dengan sisa sisa tenangganya irwan dan billy berusaha bangkit dan melihat siapa sebenarnya orang tersebut, apakah dia boss, atau bahkah big boss, entahlah yang ada di pikiran billy dan irwn saat itu adalah membalaskan dendam mereka atas apa yang telah mereka perbuat terhdap sahabatnya.
Betapa kagetnya billy dan irwan saat orang tersebut membuka penutup kepalanya yang sedari tadi menghalangi wajahnya. ”nanda,,,!!??”  Iya, nanda adalah bos dari para preman tersebut. Menyadari orang yang ia cari sudah berada di depannya irwan dan billy pun tak lagi berfikir lama untuk menghajar nanda, tapi apa mau di kata begitu banyak preman yang berada disekelilingnya hingga irwan dan billy tak sempat melangkahkan kalinya lebih dekat dengan nanda. Ia sudah di hadang oleh beberapa preman di hadapannya, sejenak irwan dan billy pun melihat satu sama lain dan
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,,,
Suara yang keluar dari keduanya saat Mereka membulatkan tekatnya, apapun yang terjadi ia harus membalaskan dendam raffi. Dengan bermodalkan sebilah kayu yang senantiasa menemani perjuangan mereka dari awal Satu persatu preman pun berjatuhan. Saat mereka menghantamkan kayu, mereka hanya mengingat raffi  mengingat hari hari bersamanya, susah, senang, kekonyolannya, dan kebaikan kebaikannya, tapi saat ini ia  sedang tergletak tak berdaya bertarung dengan maut sendirian di ruang oprasi karena ulah beberapa orang di hadapannya tanpa sempat mereka tolong. mungkin ini lah cara mereka membalas baik budi yang di berikan raffi terhadap billy dan irwan sejak mereka berkenalah hingga saat ini.
Setelah sekian banyak orang telah bily dan irwan lumpuhkan tersisa lah nanda bersama tiga orang ajudan di sampingnya. “ternyata besar juga yah nyali loe berdua,,” ujar nanda dengan sebatang korenk api yang sedari tadi terlihat berada di sela sela giginya. dengan susah payah billy berusaha bangun dari tempatnya tersungkur dengan Berpenopangkan balok di tangannya. “hahahahah,,,,, cuiiiihhh,,,,” dengan meluncurnya sebatang korek api dari mulut nanda, I apun menggerak gerakkna legernya untuk sekedar melemaskan otot ototnya. Sesaat sebelum pertarungan yang sesungguhnya di mulai irwan dan billy sekali lagi saling memandang wajah satu sama lain yang saat ini di penuhi beberapa luka lebam. Dengan anggukan kepala secara bersamaan mereka mendekati nanda dengan langkah cepat. Tak sekalipun ia mengalihkan pandanggannya dari nanda bak se ekor elang yang sedang mengintai mangsanya,,,,,,
Aaaaaaaaaa,,,,,,
Teriak billy saat ia mengayunkan sebilah kayu yang berada di tangannya kea rah nanda,,,, dan
Bukkkk,,,, pllaaakkk ,,,, bukkk blluukk,,,
Suara itu silih berganti seiring dengan pukulan pukulan yang mereka dapatkan, ya memang dalam pertarungan ini tidak lah di temukan ke adilan tetapi inilah kenyataan yang harus mereka hadapi.
“setoopppp,,,,, jangan bergerak,,,,,”
Suara lantang yang membuat mereka berhenti seketika, suara itu telah membuat tubuh nanda menjadi dingin, gemetar, ia tak lagi dapat menggerakkan anggota badannya semua terkunci saat suara itu di kumandangkan
“tempat ini sudah di kepung,,,,”
Tak lama kemudian, muncul lah beberapa orang bertubuh tegap dengan seragam coklat lengkap dengan topi dan senjata di tangannya yang mengacung dengan gagah lurus tepat dimana nanda dan teman temannya berada,hingga Satu persatu mereka di aman kan. Melihat itu irwan dan billy bernafas lega, tubuhnya yang sedari tadi kuat tiba tiba lunglai hingga mereka terjatuh dengan tanggan membentang ke samping. Dengan sisa sisa tenaganya mereka memejamkan matanya dan tersenyum, tak terasa air mata mereka pun jatuh.
“terimakasih atas bantuan kalian, kami dapat menemukan mereka yang selama ini sudah kami incar, terimakasih atas kerjasamanya,,,,,” ujar komandan dengan lantang
“iya pak sama sama ,,,,, kami juga sangat bertrimakasih, bapak datang di waktu yang tepat, kalo tidak ada bapak kami nggak tau masih hidup atau tidak,,,” jelas irwan
“mari ikut kami,,,,,,”
Irwan dan billy pun masuk kedalam mobil polisi untuk di mintai keterangan atas kejadian tersebut.
==========================
Pada waktu yang bersamaan Di depan ruang oprasi masih terlihat kekhawatiran mama amy yang sedang menunggu raffi yang sedang bergulat dengan jarum dan pisau oprasi di dalam sana. 30 menit sudah raffi berada dalam ruangan tersebut tapi tak kunjung adanya tanda tanda dokter akan segera keluar memberikan keterangan. Hingga salah satu suster keluar dan menanyakan “keluarga raffi faridz akhmad,,,”
Seketika mereka pun langsung tersentak bangkit dari tempat duduknya mendekati sang suster, “iya saya ibunya,,,” suara mama amy bergetar, jantungnya berdetak begitu cepat hingga terasa mau lompat tatkala menunggu apa yang akan di katakan sang suster.

No comments:

Post a Comment