Sunday, 8 March 2015

My Wife, My Little Friend (Part 31)



My Wife, My Little Friend (Part 31)

Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,

Part 31

Saking dalam nya raffi memandangi wajah nagita, hingga ia tak menyadari keberadaan karpet di bawahnya yang tersingkap. Dan
Swiiingggg ...... Plaaakk....
"Akh .... Aduh....!!" seru gigi
"Ih kamu mah, ati ati dong untung aku jatohnya di kasur. Coba kalo pas d lantai?? Bisa remek ni badan" ujar nagita membenarkan posisinya untuk duduk tanpa melihat raffi
"Aduh..." raffi mengelus elus dahinya
"Iya maaf maaf aku nggak liat tadi..."
"Oh may god raffi... itu jidat kamu.."
"Hah?? Kenapa??"
"Benjooolll... " gigi masih memandangi wajah suaminya dengan mulut membulat
"Hah benjol...??!!"
"Aduh gimana dong yank masa benjol sih...aarrrgghhhh..." ujar raffi merajuk sembari memastikan benjolan jidatnya di hadepan cermin.
"Sini coba aku liat..."
"Makanya kalo jalan tuh liat liat..."gigi melihat lebih dekat benjolan di jidat raffi
"Adoww.......   Tuh kan kamu mah bukannya di sayang akunya. Malah di gituin.." raffi semakin memajukan bibirnya saat nagita tak sengaja memegang jidat raffi dengan sedikit tekanan.
"iya maaf maaf... sini aku liat dulu.."
"Orang cuma dikit doang ko...." lanjut gigi
"Tapi sakit yank..."
"Udah nggak papa.."
"Iiihh kamu mah nggak ngrasain sih..." rajuk raffi
"Ya udah ya udah aku ambilin kompres dulu di bawah"
Tak lama kemudian nagita datang dengan membawa alat kompres di tangannya lalu segera mengompres benjolan di jidat raffi dengan sangat telaten. Hingga tak terasa raffi tertidur dengan alat kompres yang masih menempel di jidatnya.
#
Ke esokan harinya....
Mereka berdua keluar dari kamarnya dengan menteng satu koper. Karena menginat liburan kali ini mereka hanya mempunyai waktu 1 minggu jadi raffi dan gigi memutuskan untuk tidak membawa baju terlalu banyak.
"Sudah siap??" Suara lembut mama rieta menyapa keduanya saat berada di depan meja makan.
"Iya mah, doain yah biar semuanya lancar" ujar nagita dengan tangannya yang sibuk mengoleskan selai coklat di atas roti tawar untuk suaminya.
"Ya iya dong mamah pasti doain biar semuanya lancar. Biar nanti kalian pulangnya ber 3.. hehehe" raffi melirik nagita dengan mengankat alisnya berirama untuk menggoda nagita
"Landing jam berapa mbak.."
Nagita bergumam mendengar pertanyaan dari caca adiknya. "Jaam... 10 ca" setelah mereka selesai sarapan dan berpamitan dengan orang rumah. Raffi dan nagita langsung pergi ke bandara dengan di antar pak
Salim supirnya.
Di dalam pesawat nagita yang sedang memandangi awan awan lewat jendela pesawat  "hei... kamu mikirin apa.." ujar raffi dengan suara berbisik.
Nagita yang tersentak dari lamunannya segera mengarahkan pandangannya ke wajah raffi yang tengah menatapnya.
"Enggak... aku nggak mikirin apa apa sayang"
Raffi kembali menatap tajam nagita, memegang salah satu tangan nagita yang berada d sampingnya "aku sayang banget sama kamu" raffi membiarkan beberapa detik untuk menarik nafas panjang "jangan pernah tinggalin aku yah..." terlihat mata raffi berbinar binar saat melanjutkan kata katanya "I love you.." lanjut raffi dan sehera menciun tangan nagita dalam dalam "I Love you more raffi..." lalu nagita menempatkan bibirnya di kepala raffi yang sedang menunduk mencium tangannya.
#
Se sampainya di bandara mereka segera di jemput oleh sebuah mobil mewah.
"Kita mau kemana.."
"Udah... nurut aja.."
Nagita bersedekap dan menghela nafas saat mendengarkan jawaban raffi.
1 jam perjalanan sudah mereka tempuh, dan akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti pada sebuah halaman villa yang cukup luas.
"Villa siapa.." tanya nagita. Nagita berdecak kesal karena raffi memilih untuk turun dari mobil dan membukakan pintu untuk nagita dari pada menjawab pertanyaannya.
Sampai di depan villa mereka segera di sambut oleh 2 orang penjaga "eh pak raffi sudah sampai..." sapa salah satu penjaga dengan logat bali yang kental
"Gimana sudah beres semua..?"
"Sudah pak, mari saya antaran ke kamar utama"
Sementara raffi sedang sedikit berbincang bincang, nagita sendiri sibuk memprhatikan interior di dalam villa yang terlihat mewah tapi tidak meninggalkan nuansa tradisional bali yang kental, terlihat ada private pool dan taman kecil di bagian belakang villa "bagus banget.." gumam nagita dengan suara lirih
"Ayok yank" suara raffi menghentikan rasa kagum ku pada villa tersebut.
Se sampainya di kamar yang paling besar di villa, nagita segera membereskan barang bawaan dia dan raffi.
Nagita tersentak saat menyadari ada tangan yang perlahan memeluk pinggangnya dari belakang. "Kamu suka nggak" raffi berbisik pelan di telinga nagita. Tapi Nagita hanya bergumam tak mengerti "kamu suka apa nggak villa ini"
Lalu tangan nagita ikut memegang lengan raffi yang mendekap perutnya
"Suka.. " ujar nagita singkat
Lalu menyandarkan kepalanya di dada raffi yang bidang.
"Tapi..." raffi bergumam mendengar perkataan nagita lalu ia merenggangkan pelukannya, nagita membalikan badanya menghadap raffi.
"Sayang... villa ini punya kita" ujar raffi. Nagita memandang dalam dalam mata raffi berusaha mencari kebohongan di sana, tapi NIHIL.
Nagita mengertutkan dahinya
"Iya, villa ini aku beli pas kita prewed" nagita menepis tangan raffi yang menelangkup di pipinya
"Iihhh... Ko kamu nggak cerita sih" ujar nagita dengan wajah sebal
"Bukan suprise namanya kalo cerita.." raffi mencubit hidung nagita.
Beberapa saat kemudian senyum manis nagita mengembang di bibirnya
"Makasih yah" ujar nagita sembari merangkul leher raffi. Tak ada yang aneh memang jika seorang pengusaha seperti raffi dapat dengan mudah membeli villa yang cukup mewah seperti ini. Raffi hanya bisa tersenyum dengan memegang erat pinggang nagita untuk mendekat.
"Suka nggak" raffi menanyakan ulang, nagita kembali tersenyum.
Tanpa menunggu persetujuan nagita, raffi langsung menggerakkan wajahnya mendekati wajah nagita. Mengetahui apa yang akan di lakukan raffi, nagita perlahan memejamkan matanya. Jantung nagita berdegub begitu kencangnya saat merasakan deru nafas raffi menyapu wajahnya.
Tok tok tok
"Pak raffi makanannya sudah siap.."
Suara seorang di balik pintu yang membuat mereka berhenti lalu menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
Raffi menghela nafas seraya melepaskan dekapannya di tubuh nagita "iya mbak, bentar lagi kita turun" seru raffi dengan muka sebal. "Huh ganggu aja" tangannya langsung meraih tubuh nagita lagi untuk mendekat. Tapi nagita malah menjauhkan tubuhnya dari raffi "iiihh.." grutu raffi memanyunkan bibirnya saat mendapati perlakuan tersebut "ayo kita turun aja, aku udah laper banget ni..." ujar nagita dengan ekspresi sedikit di lebih lebihkan.
Tak berapa lama mereka terlihat sudah asyik menyantap makanan yang sudah tersedia.
"Yank..."
"Rencananya kita mau kemana nanti sore" lanjut raffi sembari menyuapkan makanan ke mulutnya dengan sendok.
"Terserah.."
"Ke pantai mau?"
Nagita hanya menganguk kan kepalanya.
#
Sore harinya mereka sampai di pantai tabanan bali, mereka memilih tempat itu karena memang di sana mempunyai pemandangan sore hari yang indah dan juga tempat yang tidak begitu ramai.
Di sana mereka berdua menghabiskan waktu sore hari dengan berlarian kecil, bermain pasir, ombak, serta hewan hewan kecil yang kebetulan muncul seiring dengan hilangnya ombak.
Mereka terlihat sangat senang melakukan itu semua bersama sama, walaupun terlihat seperti anak anak tapi itulah salah satu cara mereka lebih mengenal satu sama lain.
Malam harinya, di resto pinggir pantai yang sama
"Kamu seneng nggak" suara serak raffi memecah kesunyian keduanya.
Nagita menganguk dengan senyum manis d bibirnya "kapan kapan kita kesini lagi yah"
Raffi berhenti sejenak untuk memegang kedua tangan gigi "nanti kesini lagi sama anak anak kita __" lanju raffi
"Eh nanti kalo kita punya anak, pasti mereka lucu lucu yah" potong nagita
"Iya dong pasti lucu, kamu nggak liat apa ayahnya lucu banget kaya gini" ujar raffi sembari menyilangkan kedua telunjuk ke pipinya
"iihh sini tangannya" raffi merajuk karena gigi menjauhkan tangannya untuk menahan suara tawa yang keluar saat mendengar celotehan raffi.
Suasana hening tercipta lagi, raffi hanya diam memandang dan memainkan jemari tangan nagita sedangkan orangnya sendiri tengah sibuk meyruput minuman di depannya.
"Kamu sayang nggak sama aku?"
Nagita mengerutkan dahinya "menurut kamu?" Ledek nagita
"Ih.. kamu mah gitu..." raffi merajuk
"Lagian kamu tanyanya aneh sih"
"Ya kan tinggal di jawab aja, kenapa"
Nagita hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang terlihat seperti anak balita.
"Ya kalo nggak sayang, ngapain coba aku mau dinikahin kamu" seketika raffi melihatkan senyum andalannya kembali.
"Tinggal Bilang 'iya raffi suamiku aku sayang banget sama kamu' gitu aja susah banget" Ujar raffi
"Lagian kalo kamu udah tau jawabannya ya udah nggak usah di tanyain lagi" ujar nagita cuek
"Tuh kan, kamu mah masih gengsi aja sih sama aku"
"Aku tuh pengen kita selalu membiasakan melakukan hal sekecil apapun setiap hari, entah itu cuma bilang sayang, cinta, pegangan tangan, pelukan, ciuman. Biar kita tuh nantinya dari hal hal kecil itu bisa jadi bumbu percitaan kita" jelas raffi yang di sambut anggukan kecil serta bibir yang mengikuti apa yang di katakan raffi
"iiihhh kamu mah merusak suasana..." raffi mengacak acak rambut gigi sebal
#
ke esokn harinya raffi berniat mengajak nagita untuk menjajal wahana di tanjung benoa nagita yang penasaran  pun langsung meng-iya kan ajakan sang suami.
Terlihat pemandangan yang begitu semrawut d kamar mereka...
"Yank..."
Nagita langsung menoleh
"Kamu bawa apa...."
"Ko banyak banget..." raffi masih heran dengan tas punggung penuh di samping ranjang..
"Ini buat jaga jaga sayang.... nanti kalo kita kenapa kenapa gimana..." nagita masih sibuk menguncung kuda rambutnya
"Bawa baju gantinya satu aja dong yank, ko ini ada banyak banget..." raffi sibuk menelitih apa saja yang berada di dalam ransel di depannya
"Stop...!!! Jangan deket deket tas aku" nagita membalikan badannya menghadap raffi dengan bertolak pinggang.
Sedangkan Raffi melotot kaget mendengar teriakan gigi..
"Ya udah kalo kamu nggak mau bawain tas aku, aku bisa ko bawa sendiri" ujar nagita sok, kemudian nagita melirik ke keadaan rangsel yang terlihat berat.. -waduh bisa patah punggung gue kalo bawa tu rangsel- ujar gigi dalam hati.
"Tapi kleuarin semua barang barang loe" lanjut nagita bersedekap
Melihat itu raffi hanya menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.
"Iya deh iya... aku bawain" raffi akhirnya mengalah dengan kemauan gigi.
"Ini beneran cuma segini?"
Nagita mengerutkan dahinya "nggak mau bawa lemari sekalian, apa bawa kasur gitu..." ledek raffi."hehe becanda yang.. hehe" raffi langsung mencabut omongannya saat melihat mata istrinya yang bulat melirik tajam padanya. Mungkin anak panah arjuna kalah tajam dengan lirikan nagita saat ini.
CUP
tiba tiba raffi memberikan kecupan singkat di bibir nagita saat ia hendak melangah kan kaki keluar kamar. Seketika terlihat pipi nagita merona saat mendapati perlakan suaminya "jangan marah lagi yah..." raffi tersenyum manis berharap gigi akan menyudahi acara ngambek ngambekannya saat ini.
Setelah gigi melangkah keluar  meningalka raffi dengan senyum senyum malu menghiasi bibirnya. Sedangkan Raffi malah mempraktek kan bagai mana rempongnya sang istri beberapa menit yang lalu. "Ayoo... mau berangkat nggak...." seketika raffi diam dan memberikan senyuman andalan yang membuat matanya hilang. -_-

No comments:

Post a Comment