My Wife,
My Little Friend (Part 37-End)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat
kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,
Sekali lagi ini hanya khayalan semata jadi jangan mengait-kaitkan
dengan kehidupan real mereka.
Part 37
Pov Nagita
Sebenarnya bukan itu maksudku menangis saat ini. Aku
menangis bukan karena belum hadirnya momongan di antara kita. Hanya saja aku
menangisi diriku sendiri yang mungkin sudah menghianati suamiku.
entah mengapa
beberapa hari ini aku semakin dekat dengannya (ijal) , tanpa berusaha untuk
menjauh sedikitpun. Nyaman? Apa rasa nyaman itu kembali lagi?
Mungkin aku harus menyudahi semua ini sebelum semuanya
terlambat dan aku akan menyesal nantinya.
Beberapa hari terakhir, raffi berubah menjadi sosok yang
lebih hangat dengan ku. dan itu membuat rasa bersalah ku semakin besar.
Entah apa yang membuat dia berubah, atau mungkin ini Cuma
perasaanku?
Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan keluar dari situasi
ini. Rumah ijal akan selesai beberapa hari lagi. Dan setelah itu aku yakin akan
kembali kedalam kehidupanku yang dulu bersama raffi tanpa adanya bayang-bayang ijal LAGI.
Disini, duduk dengan sejuta pikiran dikepala ku di rumah
ijal. Sebenarnya tak ada sesuatu hal yang sangat penting tuk dibicarakan.
Tapi kurasa tak apa-lah mengontrol akhir rumah itu, yah
itung-itung pamit dan meminta dia secara baik-baik tuk tidak menggangguku lagi.
”terimakasih yah gi,”
”sama-sama” jawab ku
acuh
“em,,,jal” ijal menoleh saat sempat ia mengalihkan
pandnganya tadi
”gue,,,, gue mau minta maaf sebelumnya,,” terlihat raut
kebinggungan di muka ijal
”mungkin setelah semua urusan kita selesai, gue harap loe
nggak perlu dateng lagi di kehidupan gue” ijal menundukan kepalanya sembari
meremas rambut, frustasi
”gue udah bahagia sama raffi, jadi gue mohon sama loe
tolong jangan ganggu aku lagi”
Beberapa menit suasana kembali hening
Merasa semuaurusan ku sudah selesai, kini aku berinisiatif
untuk segera menelfon supir kantor untuk segera menjemput ku pulang. huft,,,,
beginilah kalo punya suami yang sama-sama pelupa.untuk menservic mobil pun ita
lupa. Alhasil sekarang mobil pemberian Raffi sejak tadi pagi nangkring manis dibengkel langganan.
”hallo, pak yudi bisa jemput sekarang?”
”,,,,,,,,”
”hah? Ya sudah terimakasih saya bisa pake taksi nanti”
Tut tut tut
”kamu nggak bawa mobil??”
Aku menggangguk kecil
“saya antar kamu”
”disini jarang sekali ada taksii lewat,
jadi ku mohon jangan menolak” ujar ijal lagi tanpa membiarkan aku
mengtakan apapun
”nggak usah gue bisa telfon raffi, suami gue”
dengan peneka di dua kata terakhir.
Setelah beberapa kali mencoba menghubungi raffi aku pun
akhirnya putus asa saat mendapati tak ada jawaban dari nya. Mencoba meghubungi
beberapa taksi tapi jawabannya sama –tak
bisa mengantar dalam waktu dekat- entah
ini kebetulan atau memang kebetulan yang disengaja mengingat ijal dapat
melakukan apapun dengan uang dan kekuasaannya.
Ijal berusaha meyakinkanku dengan berjanji tak akan
berbuat apa-apa selain hanya mengantarkan ku pulang dan setelah semua proyek selesai
dia berjanji akan menghilang dari kehidupanku.
Dengan terpaksa aku kini duduk manis disamping kursi kemudi bersama ijal.
Satu jam sudah berada didalam antrian mobil-mobil mewah
yang berdesakan berebut
aspal. Hanya duduk dan diam.
”mampir dulu bentar nggak apa-apakan gi, ada beberapa
dokumen yang perlu diambil”
Aku hanya menganggukan kepala, acuh. Hingga aku tersadar
ketika mobil ini bergerak ke arah parkiran sebuah Hottel.
”ayok turun”
Aku hanya diam dengan sejuta pikiran
kemungkinan-kemungkinan buruk yang kini berada di otakku. Seakan tau apa yang
ada sedang aku pikirkan ijal menghentikan gerakan tangannya yang tengah membuka
pintu mobil.
”tenang gi, gue nggak akan macem-macem. Inget janji gue
tadi” ujar ijal dengan memperlihatkan mimik meyakinkan padaku
Oke lah, yang aku tahu dari Amira. Ijal memang mempunyai
beberapa bisnis di indonesia dan salah satunya hotel, mungkin saja ini
tempatnya.
Aku berjalan disamping Ijal dengan memberi jarak aman
pastinya. Terlihat seperti sedang bermusuhan memang, tapi ini jauh lebih baik
untukku.
”sedang apa kamu di sini?” suara
bariton tersebut sukses membuatku membeku
”ra raffi,,,,” ujar ku
gugup, bagaimana tidak saat ini aku dan ijal berada di depan lift menuju ruangan dimana ijal
menyimpan berkas-berkas sialannya itu. Dan ku pastikan kini raffi melihatku sebagai
wanita jalang yang dengan mudahnya diajak kesebuah hotel dengan menyandang setatus
sebagai istri orang.
brrukkk,,,,
”aaaaarrrr,,, Raffi apa apa an kamu,,” teriak ku histeris
melihat ijal kini tersungkur di hadapan ku dengan hidung dan sudut bibir
kirinya yang mengucurkn darah.
Sebegtukah kuatkah raffi. hingga sekali tinjuan saja ia
dapat membuat orang didepan ku kini tersungkur.
Seletah melayangkan beberapa kali pukulan kembali, raffi
mencekram tangan ku erat. Menarik tubuhku, menuntut untuk segera mengikuti
kemana ara tubuhnya pergi, melesat kan tubuh mungilku menabrak dan menerobos
tubuh besar didepan sana.
Entah bagai mana nasib ijal, terakhir aku lihat bengkak
biru yang terdapat pada wajahnya. Wajahnya kini tak berbentuk lagi.
”Raffi,,, tunggu,,, Raffiii,,,, sakit,,” benar benar
sakit, aku yakin kini pergelangan tangan ku sudah membiru.
*******
”maaf,,,,, ma,, maaf,,,” ujar ku tanpa berani menatap
kedua manik hitam suamiku
Akhirnya setelah sekian menit hanya ada suara tangisan ku
yang menggema kini raffi buka suara ”kamu sedang apa disana”
”a,,,ku,,,, aku hanya,,,” ujar ku terbata-bata menahan
isak tangis yang tak juga mau berhenti
”liat mata ku,,,” kini dengan jelas ku lihat sorot
matanya yang begitu di penuhi kemarahan. Aku memang salah fi,, aku salah,,,
Tak ingin membiarkan kesalah pahaman ini semakin larut
kukumpulkan semua tenaga dan keberanian ku ”ini semua ,,,,salah,,, salah faham”
Dari semua penuturan ku raffi tak bisa menerima alasan
yang aku katakan, dia telah buta dengan rasa cemburu.
Tapi sejujurnya ini semua memang salah ku, aku yang
memang sangat bodoh. Dengan mudah nya menerima alasan yang di berikan ijal.
”raffi,,, fii,, rafffii,,, jangan pergi,,, ku mohon Raffi
dengarkan aku,, Raffi aku sayang kamu,,, tolong jangan tinggalkan aku,,
rafiiii”
Autor Pov
Suara pintu yang tertutup
dengan kecepatan 100km/jam beberapa hari yang lalu masih saja terngiang di telinga
nagita saat ia kembali melihat pintu itu.
Kini pintu itu tak terlihat
terbuka lagi. Nagita mengurung diri diapartemennya.
Ia takut jika kelak ia pergi
dan ternyata dalam waktu yang bersamaan raffi pulang, ia ingin menyambut
suaminya dan segera menjelaskan membali serta meminta maaf.
Ting tong..
”ah raffiii,,,” nagita segera
beranjak dari tempat tidurnya
”raffi,,,” seru nagita saat membuka pintu
Dan wajahnya nkembali sendu
tatkala seseorang dibalik sana bukanlah raffi, melainkan mamah kandungnya.
Seakan tau apa yang di
rasakan putrinya, mama rieta segera memeluk erat nagita.
Keduanya menangis sendu du
depan pintu
Mama rieta berusaha
menenangkan nagita, mengusap pucuk kepala anaknya.
*****
”bagaimana keadaan mu nak”
mama rieta mulai hawatir dengan kondisi nagita yang terlihat semakin kurus
dengan kantung mata yang sangat jelas terlihat.
”mamah sudah tau apa yang
sedang kalian hadapi” ujar mama rieta lagi
Nagita hanya diam memalingkan
wajahnya membelakangi mamahnya.
”kamu nggak mau ketemu dia
gi?”
Nagita kembali diam,
memainkan ujung kukunya
”raffi juga sama kacaunya
dengan mu, setiap hari dia hanya menghabiskan wakunya dengan bekerja”
”dia tak pernah tertidur gi”
Nagita tersentak mendengar
apa yang mama rieta katakan
”mamah tau dari ibu amy”
”bicarakan lah baik baik
sayang, mamah yakin ini semua hanya salahpaham”
”kalian berdua sama sama
saling mencintai, selesaikanlah secepatnya jangan sampai kamu menyesal nantinya
sayang” mama rieta mengecup ujng kepal anaknya dan melangkahkan kakinya untuk
pergi.
Memang saat ini sendiri lah
yang dibutuhkan nagita, ia mencoba merenung menyedari semua kesalahanya.
Memikirkan apa yang seharunya ia lakukan untuk memperbaiki semua ini. Tentu
saja ia tak ini berpisah dengannya.
*****
“sekarang
mereka sudah tidak tinggal bersama bos”
“hkeh,,,,” ijal tersenyum sinis
Sudah satu minggu ia terbaring di rumah sakit, ada beberapa bagian
tulangnya yang retak akibat insiden itu.
Tapi semua sakitnya ini telah dibayar
dengan informasi yang ia ketahui dari aries orang kepercayaannya.
“jika kau tak bisa ku miliki, maka tidak
ada satupun yang dapat meiliki kamu gi”
FlashBack on
”hah? Ya sudah
terimakasih saya bisa pake taksi nanti”
Tak sengaja ijal mendengar
percakapan nagita dan seseorang diujung sana, dan itu membuat ide brilian
muncul.
“hallo aries,,,”
“........”
“tolong pastikan raffi pergi
ke hotel malam ini dan saya tidak mau ada satu taksi pun yang bisa kemari”
“..........”
Tuutt tuuutt
-Lihat saja gi, sebentar lagi
semuanya akan berakhir dan ku pastikan kau akan kembali ke pelukan ku.
Bagaimanapun caranya,,,-
*****
”aaaaarrrr,,, Raffi apa apa
an kamu,,” suara gadis ku sempat terdengar sesaat setelah dia
memukul rahangku.
Oh tuhan, ternyata cinta ku
tak bertepuk sebelah tangan. Kau ternyata masih mencintai ku gi?
Sebentar lagi sayang ,
sebentar lagi kau akan kembali ke pelukan ku.. bersabarlah
Terlalu senang ku mendengar
gadisku, kini aku telah ambruk kelantai dengan dia di atasku melayang kan pukulan bertubi-tubi tanpa ada
perlawanan dariku.
“liat, di depan mu saja dia
masih menghawatirkan ku” ujar ku pelan, tapi aku rasa raffi masih bisa
mendengarnya.
Ini di buktikan dengan
gerakannya yang semakin berutal. Hingga semuanya gelap.
FlashBack off
***********
“sayang istirahat lah, nanti kamu sakit”
“peduli apa sekarang, semuanya sudah
tidak ada artinya”
“kamu bicara apa affi”
“sudah lah mah, biarin affi sendiri”
Setelah kejadian itu raffi menyibukan
diri dengan bekerja, bekerja dan bekerja.
Entah kapan terakhir kali ia bisa tidur
nyenyak.
Setiap kali ia memejamkan mata, suara dan
bayangan itu muncul. Dan itu semua membuat raffi muak.
“mamah,,,, tadi kan affi udah bil,,,”
ujar raffi saat mendengar pintu kembali terbuka.
Tapi kini didepannya bukanlah sosok mamah
yang ia temukan.
Nagita,
kini orang yang sangat ia rindukan telah hadir di depannya. Bukankah ini yang
mereka inginkan, bertemu dan melepaskan rasa rindu mereka selama ini.
Tapi kini mereka diam bak patung, raffi
kembali focus ke berkas dan layar monitornya setelah beberapa menit menatap
kosong ke arah istrinya.
“kamu apa kabar”
-bukan ini yang harusnya ku
katakan, bodoh bodoh- sangat sulit memang mengucapkan kata-kata
yang segarusnya ia katakan, sedangkan saat ini nagita harus menahan isak
tangisnya yang hampir saja jatuh.
“kamu terlihat sangat kurus”
“ini ku bawakan makanan kesukaanmu, makan
lah”
Nagita meletakan rantang yang berisikan
ayam pop lengkap dengan saus dan sedikit nasi.
Nagita sangat tau raffi tidak menyukai suara
tangisan-nya.
makadari itu, sekuat tenaga ia menahan,
ia tak ingin raffi semakin di bencinya saat ini. Ia ingin terlihat tegar dan
memperjuangkannya sekarang.
Tak lama kemudian nagita berbalik,
berjalan menuju pintu dengan air mata yang sudah mengalir dengan deras. Di pelupuk mtanya
**********
Didalam ruangan raffi membanting berkas
yang sedari tadi ia pegang, mengacak-acak rambutnya frustasi.
Semenjak tadi ia memang terlihat
konsentrasi dengan laptop dan beberpa kertas di depannya, tapi raffi sama
sekali tidak bisa konsentrasi dengan baik.
Ia sedari tadi sibuk menenagkan dirinya
yang ingin sekali loncat dan memeluk nagita, menumpahan semua rasa rindunya
itu.
Ia tau bagaimana nagita menahan tangis
saat mengatakan semua itu. Dan semua itu membuat hatinya begitu nyeri.
Ia telah menghancurkan perasaan istrinya,
-seharusnya aku tak perlu
seperti ini- batin raffi dengan muka karena menahan amarah sebdiri. Tak
seharusnya raffi seperti ini memang.
Tapi mengingat apa yang membuatnya
seperti ini, mungkin ini adalah hal yang tepat. Hingga waktunya tiba nanti.
*********
“kamu sudah bangun,,?”
“mandi, dan ayok kita sarapan”
Raffi mengamati sekeliling, memincingkn
matannya mencari suara yang ia rindukan saat ini.
“semalem kamu ketiduran di ruang kerja”
Kini suara menghilang diganti derian pintu
yang menutup
Raffi memijat tengkuknya yang sedikit
pegal seraya menautkan alisnya mengigat-ingat kembali apa yang terjadi.
Nagita tak sekuat itu untuk mengendong
raffi hingga ke ranjang. Tapi raffi meman sedari dulu mempunyai kebiasaan
berjalan di saat tidur.
Ia dulu pernah terbangun saat berada
disofa, dan tempat lainnya. tapi smenjak ia menikah dengan nagita keiasaan itu
berkurang bahkan hampir sudah tidak ia lakukan kembali.
Semalam nagita tak tega membangunkan
raffi, mengingat raffi terlihat begitu lelah.
Dan ia juga tidak bisa membiarkan raffi
tidur dengan kondisi seperti ini. Akhirny ia beranikan diri untuk, memegang
tangan raffi menuntunnya berdiri hingga berjalan menuju kamar mereka.
Semenjak kejadian itu, raffi menginap
dikediaman mamah amy hingga saat ini nagita yang menghampirinya.
“nas,,, kamu tuh harus bisa masak kayak
mbak gigi” ujar mama amy
“sekolah dulu dong mah di london” nanas
antusias
“ngapain jauh jauh nas, belajar aja sama
mbak gigi,,, iya kan mbak” ujar billy yang kebetulan di sana
“apa sih kamu bil, panggilnya biasa aja
bisa kali” ujar nagita sembari membawakan nasi kuning lengkap dengan lauk
pauknya
“eh a raffi, ayok a sini gabung, kita
sarapan dulu”
“nggak nas, makasih aa masih ad,,,”
“hello,,,, a affi ini kan hari minggu a,
masa masih mau kerja seh” nanas segera pergi menghampiri raffi yang sedang
berdiri di ujung tanga dan segera mendorong tubuhnya ke kursi meja makan.
“udah aa nurut aja sih sama nanas, nanas
kan calon dokter jadi nanas tuh tau mana yang baik dan buruk buat aa, bisa mati
kalo aa Cuma makan ayam pop doang semalem” ujar nanas dengan senyum licik.
Raffi terlihat salah tingkah, saat
kelakuannya semalam memakan habis tak tersisa makanan dari nagita.
bagaimana bisa raffi menahan keinginannya
untuk memakan makanan yang dimasak nagita. Ini adalah salah satu alasan kenapa
raffi bisa tidur dengan nyenyak semalam.
Dari baunya saja ia juga sudah tau nagita atau bukan yang memasak makanan
itu. Kali ini juga air liur raffi hampir menetes akibat nasi kuning masakan
istrinya.
Mungkin saat ini ia butuh lakban hitam,
agar bisa menutupi seluruh mukanya yang memerah saat ini.
“nanas,,,,”
tegur mama amy
“sudah lama yah kita nggak ngrasain sarapan
bareng kayak gini”
“mau udang?” tanya gigi sembari
menyendokan nasi kepiring raffi dengan telaten
“udah mbak taro aja semuanya pasti bakal
di habisin ko sama aa” cletuk nanas yang kembali mendapat tatapan tajam dari
raffi
Dan memang terbukti beberapa menit
kemudian makanan yang ada di atas piring raffi kini ludes tak tersisa. Padahal raffi
paling susah untuk diajak sarapan pagi.
Ia cenderung sarapan hanya dengan roti
saja. Tapi kali ini nasi kuning kesukaannya juga habis tak terisa.
Sudah berapa hari nagita menginap di
rumah ini, tapi sama sekali tidak ada komunikasi diantara mereka. Raffi cenderung
menghindari untuk kontak lanngsung dengan gigi.
Tapi nagita tak patah semangat, ia terus
melayani suaminya. Menyiapkan segala keperluannya. Membuatkan masakan
kesukannya setiap hari. Pagi, siang , sore, hingga malam. Tak jarang pula ia
menemani raffi seharin di dalam ruangannya.
Sesekali ia Menanyakan sesuatu yang
ringan padanya, tapi tak mendapt respon baik dari raffi. Seperti orang gila
memang, tapi akan lebih gila jika ia
kehilangan semuanya.
*******
“raffi,,,” ujar nagita tertahan saat
menemui raffi tengah berada diruang kerjannya kembali
“aku rasa, kita perlu bicara” tapi lagi
lagi raffi mengacuhkan nagita dan pura-pura sibuk dengan dokumen-dokumen di
tangannya
“aku memang salah, tapi aku sudah mengatakan
semua hal itu dengan sejujur-jujurnya padamu”
“aku dan dia tidak memiliki niatan untuk
berbuat macam-macam”
“dia hanya mau menolong ku, mengantarkan
pulang, diperjalanan dia mendapat telefon untuk mengambil beberapa berkas yang
perlu dipelajari”
“aku tidak tau bahwa hotel itu adalah
tempat dimana berkas itu di simpan dan aku tidak tau kamu juga ada disana,,,”
“jadi,,, jika kau tau aku ada di sana
kamu tidak akan keluar dan menyembunyikan semua itu dari ku??” ujar raffi
dengan masih sibuk melihat kertas di tangannya
“bukan,, bukan itu maksudku raffi”
“aku mohon kamu percaya padaku raffi,,,,
aku tak bermaksud apa-apa mungkin jika saat itu kamu bisa kau hubungi, semua ini
tak akan terjadi”
“jadi kamu salahkan aku???” raffi
membating berkas-berkasnya, menatap nagita tajam kemudian meremas rambutnya
frustasi
“maaf
,,,,, maa,, af,, maaf kan ,,,a,,k,, aku” kini tak lagi bisa terbendun semuanya,
tangisnya tumpah ruah sekarang. Isak tangisnya sangat begitu jelas terdenar
memenuhi seisi ruangan ini.
“jika ini yang kamu ingin kan, baiklah
aku akan pergi” sebenarnya bukan ini yang nagita ingin katakankan, tapi melihat
bagaimana marahnya raffi saat ini.
Bahakan
usahanya beberapa hari ini tidak sama sekali dilihat olehnya. Semuanya percuma,,,,
“aku harap semua akan baik-baik saja
tanpa adanya aku disisimu lagi”
Nagita membalikan badan dan perlahan
pergi dari rungan itu.
Terbesit kenangan-kanangan yang mereka
lalui bersama, dan semua itu hanya akan menjadi sebuah kenangan nantinya.
Tangan kekar membekap tubuh nagita dari
belakang, menahan laju tangannya yang hendak memutar knop pintu.
Membenamkan kepalanya dileher nagita,
mengetahui siapa pemilik lengan itu. Nagita hanya menangis terisak. Begitu juga
raffi, ia menumpahkan semua tangisnya ditengkuk nagita. Hingga dipastian tempat
itu sudah bsangat basah sekarang.
Cukup lama mereka diam tak mengatakn apa
apa, hanya tangis dan air mata yang mampi menjelaskan semuanya.
“maaf,,, maaf kan aku,,” ujar raffi parau
Tangis Nagita semakin menjadi-jadi saat mendengar
kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Raffi menekan semua rasa ego yang ia
miliki. Ia tak ini dibutakan oleh rasa egoisnya, padahal jelas-jelas nagita
sudah berkata jujur padanya.
Dan memang benar, alasan itulah yang ia
dapat dari orang kepercayaannya.
Raffi mengutus seseorang untuk mencari
tau apa yang nagita dan laki-laki itu lakukan di sana.
Dan jawabanya sama persis dengan apa yang
dikatakan nagita.
Perihal client raffi yang mendadak
memintanya metting mala itu juga, rupanya itu hanya akal-akalan dari ijal
semata.
Nagita tidak sama sekali berbohong, ia
adalah seorang yang sangat jujur dan setia padaku.
Dan sekarang akibat dari kebodohan ku
yang dibutakan oleh rasa cemburu tiada akhir, aku hanpir saja melepas nya,
membiarkan dia pergi dengan masing-masing membawa luka yang sama.
Aku
pria paling bodoh jika itu terjadi.
Informasi terakhir yang aku dapat. Ijal tengah
dirawat oleh pskiater, rupanya ia memiliki penyakit kejiwaan dari dulu. Ia sering
obsesi memiliki semua yang ia ingin kan dari dulu. Dan akan membuang
setelahnya.
Nagita membalikan badannya perlahan. Memandangi
wajah suaminya yang kini terllihat sama seperti kondisinya saat ini.
Muka merah dengan ari mata berada di mana-mana.
Kantung matanya juga sangat jelas terlihat, tinggal satu atap saat ini bukan
berarti mereka tidur satu ranjang. Raffi memilih menghabiskan malamnya di ruang
kerja, bercumbu dengan dokumennya. Sedagkan nagita meringkuk dikamar dengan
menangis semalaman.
Nagita mengusap wajah suaminya, membersihkan
air mata disana. Wajah yang beberapa hari ini hanya bisa aku pandang setiap
kali ia mengendap-endap masuk keruang kerjanya dan mendapati ia tertidur di
sofa. Kini nagita dapat memegangnya, mengupap lembut bulu-bulu halus
dirahangnya.
Raffi hanya diam dan memejamkan matanya,
merasakan setiap inci sentuhan lembut dari tangan halus nagita.
Kemudian, mereka berpelukan. Erat dan
dangat lama.
“maaf kan aku baby,,, maaf kan aku” ujar
raffi dengan memandang kedua mata nagita
“jangan tinggalkan aku,,,”
“tidak,,, tidak akan pernah,,, aku
ak,hemmmttppp”
Raffi memulat bibir nagita, menekan
bibirnya dalam seakan ingin menghisap semua yang ada di dalam sana.
Walau merasa hampir kehabisan oxigen tapi
nagita tetap membalas ciuman suaminya dengan sesekali meraba bulu halus
dirahang dan meremas rambut belakang raffi yang mulai panjang.
“i love you,,, i love you more” ujar
raffi tepat berada di bibir nagita
Raffi mengerutkan dahinya saat ia
beranjak ingin menciumnya kembali tapi nagita memundurkan kepalanya.
Dan ia merogoh saku celana pendeknya,
mengeluarkan sesuatu dari sana.
Benda kecil, panjang. yang sukses membuat
mata raffi melotot seakan ingin loncat dari tempatnya.
Raffi memegang benda itu, memandanginya
dengan bergetar.
“kamu ,,, “
Nagita mengguk pelan,,,
“kamu hamil sayang”
Raffi memeluk istrinya erat, menghujani
ciuman kecil di seluruh wajah nagita.
“makasih sayang ,,,, makasih”
Kemudian ia berlutut, memeluk perut rata
milik istrinya.
Seraya berbisik “maaf kan papah sayang,,
maafkan papah” suara raffi kembali parau.
“hey,,, jangan nagis terus, apa kamu
tidak malu kalau dia tau. Punya papah yang cengeng kayak kamu” ledek nagita
Kemudian raffi bangkit dan segera memeluk
istrinya kembali.
*****
Setelah kejadian yang megharu biru, raffi
senantiasa menamani nagta cek up ke dokter sitiap bulannya.
Raffi terlihat begitu antusias
mendengarkan berbegai penuturan dari dokter. Alhasil kini ia menjadi suami yang
siaga, bahkan mungkin cenderung protektif dan cerewet sekarang.
Rupanya, nagita juga beru menyadarinya
hari itu jika ia sudah telat beberapa hari, dan belakangan ini ia merasakan ada
yang aneh padanya.
Hingga ia memberanikan diri untuk
mengeceknya, dan hasilnya sungguh sagat
Membahagiakan.
“sayang kamu tuh harus istirahat,” ujar
raffi saat melihat nagita masuk keruang kerjanya
“dianya nggak mau bubu kalo nggak
ditemenin papahnya” ujar nagita dengan nada manja sembari mengusap perutnya
Kini nagita memasuki minggu ke 13, belum
terlalu besar memang tapi cara ini lah yang paling ampuh untuk menghentikan
raffi bekerja.
“oh iya,, duduk sini” raffi menepuk sofa
sebelah yang kosong agar nagita mendekat
“aku mau meminta tanda tanganmu di sini”
raffi menyodorkan sebuah map berwarna merah didepan gigi
Nagita terlihat ragu membuka map
tersebut, ia takut akan menemukan sesuatu yang sangat tidak ia inginkan
nantinya.
“ayo lah sayang , jangan parno gitu” raffi
meyakinkan nagita, seakan tau apa yang ada dipikiran istrinya tersebut.
Perlahan naita membukanya, dan membacanya
bingung
“apa ini,,” nagita mengerutkan dahinya
“itu buat kamu,,, dan anak kita” raffi
memegang dan mengusap perut nagita
“mall?”
Raffi mengangguk
“bukan kah itu cita citamu dari dulu?”
“memiliki sebuah mall, yang bisa kapan
saja kamu kuncungi dan membuat tenda disana ??” raffi melirik istrinya jahil
Nagita tersenyum lalu menyubit perut
sispacx raffi
“aauuuwww,,,”
“hey,,, jangan nangis dong,,,” raffi
meraih kepala nagita dan menyandarkannya di bahu.
“maaf yah, sudah merahasiakan semua ini
dari kamu”
“aku terlalu sibuk akhir akhir ini karena
aku ingin semua yang kamu inginkan bisa terwujud” raffi mengusap dan mencium
ujung kepala istrinya lembut
“kamu memiliki 75% saham disana, jadi
kelak jika aku bertingkah. Kamu bisa membuat ku jatuh miskin”
Nagita hanya memukul ringan dada bidang raffi
*****
Setelah menunggu 9bulan 10 hari, Setelah
melewati insiden cakaran dan jambakan maut dari sang istri akhirnya raffi dapat mendengar tangisan putra
pertamanya kini.
“makasih sayang ,,,, makasih” raffi
mengecup ujung kepala istrinya
Putra pertama mereka di beri nama Rafathar Malik Ahmad yang memiliki arti Laki-laki yang membanggakan, terpuji dan agung
serta memiliki kecerdasan.
-Sekian-
Horeee,,,, akhirnya selesai juga cerita pertamaku,
Makasih semuanya yang udah setia membaca dan menanti
cerita ku yang tak seberapa ini, terutama
buat keluarga ku dan orang yang sudah dengn baik hati meminjamkan
seperangkat laptop.
Sepesial untuk INDAH GANA INDRIANA MARIANA TENGKER *maksa*
yang sudah senantiasa mendengar ide ide konyol ku, selalu bisa mengeluarkan
komentar PEDAS yang membangun tentunya.
Buat para readers ku,,,,, kesup basah buat kalian semuaaaa,,,,,
maaf
maaf,,,,, yang tidak sesuai dengan keinginan kalian. Terutma endingnya
ini
pasti nggak banget yah?? Hahah maaf kan saya sekali
lagi,, tapi emang dari awal ide edingnya
kyak gini,,, *tetep pembelaan diri hahahaha*
sebenarnya lagi nggak ada ide buat ngembangin cerita, in
aku paksain sampe kuping ku kluar asep gara-gara dipaksa mikir ini otak,,, *ini lebay abis*
Oke
cuzz kasih coment and likenya,,,,
Maaf yah kalo masih ada typo or kata-kata yang kurang
sesuai dengan EYD. Eikye masih belajar nulis, jadi harap maklum.
Terlimakasih sudah meluangkan waktunya,,,,,
#kiss #kiss
Add and follow dulu
keleus,,,,
FB : Zulva Nadirotu
Wattpad & IG : @ZulvaNadirotu
TW : @Zulfaupith
#Promo #Again
Hi...Baru tamat niy baca cerbungnya,,, bagus banget... Btw, kapan niy mulai post "witing trisno jalaran soko lino" Ditunggu yaaa... :)
ReplyDeletePerasa dulu nama bukan rafathar kok sekarang jadi rafathar
ReplyDeleteiya abis di edit
Delete