Tuesday, 2 December 2014

My Wife, My Little Friend (Part 19)

My Wife, My Little Friend (Part 19)
Cerita ini hanya khayalan semata… apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, itu semua hanya kebetulan , jadi mohon maaf yah…
Happy Reading,,,,,,,,,,,,

Part 19

Hari yang di tunggu pun tiba, ting tung ting tung,,,,,, “kepada seluruh penumpang pesawat boing 1017 dengan tujuan London mohon segera bersiap, ,,,,” suara yang bergema pada toa sebuah bandara.
Mendengar itu, nagita pun menarik alisnya dan menghela nafas panjang. Terlihat sekali betapa beratnya ia untuk meninggalkan tanah air. Satu persatu teman dekat dan kelurganya berpelukan untuk sekedar mengucapkan slamat tinggal. Di sisa sisa waktu keberangkatannya, tak terhitung berapa banyak gigi melihat jam tangan yang ia kenakan. “iiihhh kenapa loe nggak nongol nongol sih,,,” gerutu nagita dalam hati
Melihat anaknya yang tengah panic, mama rieta (panggilan akrab ibunda gigi) menegur “kenap gi,,,, ada yang ketinggalan,,,???” “nggak ko mah,,,” jawab gigi dengan senyuman masam
“ayo,,,,” mama rieta pun memegang pundak anaknya untuk menghampiri petugas bandara. di saat petugas bandara hendak memeriksa kelengkapan surat surat yang ada, nagita dikagetkan oleh suara yang sangatlah tidak asing baginya
“nagita,,,,,” suara itu terlihat sangat lembut
Seketika nagita menoleh ke belakang,
 terlihat seorang pria dengan nafas yang terengah engah dan sedikit keringat yang menghiasi dahinya, menghampiri nagita. “raffi,,,,” seru nagita pelan, tak terasa nagita pun tersenyum karena seorang yang sedari tadi Ia nanti telah hadir di depannya. Nagita pun berjalan pelan mendekati raffi, hingga langkah kedunya bertemu tapi tak ada satu katapun yang keluar dari keduanya. Melainkan tatapan yang amat dalam di pancarkan oleh keduanya. Tak lama kemudian mereka pun saling berpelukan satu sama lain, terlihat bulir air mata menetes dari mata nagita.
Dengan melepaskan pelukannya, dengan lembut raffi mengnyeka air mata yang membasai pipi gigi “hey,,, kenapa nangis,,,” “ah kamu sih,,,” seru gigi dengan memberikan pukulan kecil pada tangan raffi
“loh kok gue sih,,,, hehehehe” ujar raffi sambil mengacak acak rambut gigi
“hey, nanti loe nggak bakal lupain gue kan,,,,,”
Dengan masih mencoba menahan tangis nya nagita menjwab pertanyaan raffi dengan anggukan
“jaga diri yah di sana, jangan lupa makan,,,, sholat, belajar yang bener biar bisa buat mamah, papah, ade, sama temen temen di sini bangga,,,,”
Mendengar petuah dari raffi, perlahan gigi menjadi sesenggukan. Tanggannya tak henti hentinya menyeka air mata yang entah kapan akan berhenti mengalir. Ia hanya dapat mengganguk angguk kan kepalanya tanda iya.
“hehhe udah sekarng kamu senyum dong,,,, “ seru raffi sembari mencubit pipi kanan dan kiri gigi secara bersamaan
“,,, emmm sakit affi,,,,” gerutu gigi
“hehehe,,, oh iya mana tangan kanan kamu sini,,,”
“buat apa,,,,,” kemudian raffi menarik tangan kanan gigi dan memakaikan sesutu pada pergelangannya “ini,,,,, biar kamu,, bissa inget aku terus,,,,” ”udah”
“makasih yah,,, gue gak bakal lupain kamu ko, makasih yah,,,” memegang dan memperhatikan gelang yang kini terpasang di pergelangan tangannya
Raffi pun memberikan seyum kudanya pada nagita dan “ayo sana berangkat nanti ditinggal loh kamu,,,,”
Kemudian nagita pun berjalan dengan sesekali menengok kebelakang untuk memberikan salam pada mereka.
1 tahun, 2 tahun 3 tahun berlalu ,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Kesibukan demi kesibukan datang silih berganti hingga tak terasa hampir tak ada lagi kesempat tuk saling bertukar kabar. Laptop yang biasanya menyala dengan latar chating, sekarang hampir tak terlihat demikian. Hanya terlihat tumpukan kertas dan buku buku tergletak tak jauh dari laptop itu. Sesekali raffi membuka dan memasukan data dari buku yang ia pegang ke dalam laptop. Hampir setiap malam pemandangan itu hadir di kamar raffi.
 Yah, memang belakangan ini raffi sudah mulai sibuk dengan beberapa scadjule di perusahaan kelurganya. di tambah dengan ia harus mencuri curi waktu istirahat di sore hingga malam hari untuk melnjutkan study-nya, itu semua sudah sangat jelas menyita semua waktu yang ia miliki.
Begitu pula nagita, system perkuliahan di Indonesia dengan di londong sangat jauh berbeda. Ia juga harus di biasakan hidup sendiri, mandiri tanpa harus bergantung pada mamah dan orang sekitar. Dan itu semua membuatnya semakin dewasa, ia dapat menghandel semua dengan baik, dari memasak, mencuci hingga menyetir mobil. Tak terlihat sama sekali nagita yang dulu, nagita yang manja, yang tak bisa sedetikpun jauh dari mamahnya.
Hingga suatu sore, affi yang sedang duduk di depan meja kerja tiba tiba terlintas di pikirannya moment moment bersama nagita, lalu ia pun mengambil bingkai foto yang terdapat di atas meja. Terlihat beberapa orang di dalam foto yang terdapat di bingkai tapi hanya satu sosok yang mengalihkan perhatiannya. Lalu ia segera mengambil list scadjule yang tersimpan rapih di map, dan segera ia mengmbil jas serta handphonenya lalu pergi meninggalkan ruangan.
“wa,,, affi ijin keluar dulu yah,,,”
“mau kemana,,,??? Giman kerjaan kamu,,,”
“beres,,,,,,” ujar raffi sambil mengedipkan mata dan mengacungkan jempolnya
“ya udah ati ati,,,”
“hehehe makasih wa,,,,”
Saat itu raffi tengah menduduki jabatan sebagai direktur di salah satu anak  perusahaan yang berada di jakarta
Dalam perjalannya raffi terlihat senyum senyum sendiri, tak lama kemudin terlihat raffi menghentikan dan memarkir kan mobilnya di sebuah taman. Dengan mengenakan kacamata raffi menuruni mobilnya dan menghentikan langkahnya tepat  di bawah pohon. sejenak ia membuka kacamatanya dan melingkarkan kedua tangannya tepat di depan dadanya seraya tersenyum lalu mengusp wajah dengan tangan kanannya tatkala ia mengingat ingat moment dimana ia bertemu dengan nagita di pagi itu, dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya raffi melanjutkan lankahnya menuju kursi panjang yang terdapat di pinggiran taman, tak lama setelah raffi duduk di kursi itu terdengar suara yang selallu menggema di area taman sejak dulu
Tolelot tolelot tolelolelot
“bang eskrimnya bang,,,,”
Ya, raffi dan gigi memang hampir tak pernah absen untuk membeli dan menikmati ice cream yang selallu melintas di taman itu. Dengan masih menikmati eskrim yang berada di tangannya, raffi melangkahkan kakinya ke sebuah warung. “bu,,,, baksonya satu,,,,” seru raffi kepada ibu paruh baya yang berada di depannya
“baksonya komplit mas,,,?” seru sang ibu tanpa memndang raffi
“ya iya lah bu komplit pake mangkok sendok garpu,,,,” celetuk raffi
Menyadari suara yang bergema tak asing, ibu tukang bakso pun mengintip sebentar dan,,,, “ooowaaaalllaaaahhh mas raffi toh,,,, apa kabar mas,,,, waduh sendirian aja, mana yang lain,,,”
Mereka pun terlibat obrolan kecil hingga raffi menghabiskn satu mangkok bakso di hadapannya.
Dengan perut kenyang raffi menghampiri mobilnya dan segera menancapkan gas menuju tempat terakhir ia bertatap muka dengan nagita, yah bandara. Bandara adalah tempat raffi dan gigi terakhir bertemu dan bertatap muka, perasaan kangen yang sangat besar tiba tiba muncul saat raffi menginjakkan kakinya di halaman bandara.
Dengan duduk di sebuah kursi tunggu raffi melihat orang berlalu lalang dihadapannya, semakin banyak orang yang lewat semakin besar pula rasa ingin bertemu. Raffi pun mengambil handpone dengan sebuah headphone yang tergantung di lehernya, raffi pun segera memasangkan headphonnya tatkala ia memutarkan beberapa lagu untuk meredakan rassa yang semakin besar. Sejenak ia memandangi gelang yang menghantung di lengannya 3 tahun belakangan, teringat kembali saat di mana ia memsangkan gelang yang sama di tangan nagita. Tak tahan dengan perasaannya sendiri raffi pun memejamkan matanya seraya menunduk,,,,,,,,,,
1, 2, 3, 4 lagu telah usai ia dengarkan tapi tak ada tanda tanda raffi akan beranjak dari posisi duduknya semula, hingga terdengar sebuah lagu kenangan mereka berdua terputar
ku terima suratmu dan kubaca dan aku mengerti,,,
betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku,
di dalam hari harimu bersama lagi
kau bertanya padaku kapan aku akan kembali lagi,
katamu ku tak kuasa melawan gejolak didada,,,
 menahan rasa pertemuan kita nanti
saat bersama di sisiku,,,
semua kata rindumu semakin membuat ku tak berdaya
 menahan rasa ingin jumpa,,,
 percayalah pada ku aku pun rindu kamu,,,,
ku akan pulang,, melepas semua kerinduan yang terpendam
jangan katakan cinta menambah beban rasa sudah simpan sedih mu itu ku akan datang,,,,, hooo
“misi mas,,,,” Terdengar suara seorang cewek, dengan menepuk ringan pundak raffi
Mendapatkan perlakuan itu Seketika raffi pun menengadahkan kepala seraya menyipitkan matanya untuk melihat seorang yang telah mengagetkannya.

No comments:

Post a Comment